
Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Qu Dongyu, melakukan kunjungan ke salah satu perkebunan kelapa sawit di Riau.
Qu Dongyu didampingi oleh Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Heru Tri Widarto, bersama Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma, Ardi Praptono, serta Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Prayudi Syamsuri.
Kunjungan Qu Dongyu ke Riau ini berlangsung setelah dia menyerahkan penghargaan Agricola Medal, penghargaan tertinggi FAO di bidang pangan dan pertanian global, kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta pada Jumat (30/8).
Dalam kesempatan tersebut, Heru menyampaikan bahwa industri kelapa sawit memberikan kontribusi yang sangat besar bagi Indonesia. Dengan luas perkebunan kelapa sawit nasional mencapai 16,38 juta hektare, Indonesia mampu menghasilkan 48 juta ton CPO yang digunakan untuk pangan, bahan kimia/oleokimia, serta bahan bakar terbarukan/biodiesel baik di dalam maupun luar negeri.
“Ke depan, tantangan utama dalam pembangunan kelapa sawit nasional tidak hanya pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada upaya menjaga konsistensi, kuantitas, kualitas, serta kontinuitas,” kata Heru.
Heru juga menekankan pentingnya pemenuhan standar Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), yang menjadi perhatian dunia dalam aspek keberlanjutan dan sangat mempengaruhi daya saing kelapa sawit di pasar internasional.
Selama kunjungan, Qu Dongyu meninjau perkebunan kelapa sawit, memperkenalkan buah tandan, alat-alat panen, dan proses pemanenan. Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Andalas Research Center untuk mempelajari berbagai hasil penelitian produk perkebunan, seperti obat hama dan pupuk.
Lokasi terakhir yang dikunjungi adalah Area Konservasi, di mana pengelolaan konservasi diperkenalkan sebagai bagian dari upaya melestarikan ekosistem alam dan menjaga keanekaragaman hayati, yang berkontribusi pada pengelolaan minyak sawit yang bertanggung jawab.
Sebagai tambahan, pelaku usaha perkebunan kelapa sawit saat ini fokus pada pencapaian tujuan dan strategi keberlanjutan tahun 2024 melalui penerapan ISPO, yang sejalan dengan indikator Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk menjamin keberlanjutan perkebunan kelapa sawit nasional dengan mengembangkan National Dashboard (ND), sebuah sistem informasi berbasis blockchain yang akan menelusuri setiap rantai kelapa sawit dari hulu hingga hilir. Sistem ini akan menjadi database utama yang mengintegrasikan informasi geolokasi dari e-STDB untuk petani kecil dan Siperibun untuk perusahaan.
“Saya berharap para pemangku kepentingan yang memahami kondisi perkebunan kelapa sawit di Indonesia dapat bersinergi dan berperan aktif mendukung program-program yang dilakukan pemerintah demi mendorong tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan,” pungkas Heru.





























