
Kementerian Pertanian (Kementan) menjelaskan anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak yang saat ini berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp 26.500 per kilogram. Melimpahnya produksi telur nasional disebut menjadi faktor utama penurunan harga di tingkat on farm.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda mengatakan, harga telur ayam nasional saat ini rata-rata Rp 24.500 per kilogram. Namun, di sejumlah sentra produksi, terutama di Pulau Jawa, harga tercatat lebih rendah
“Kalau di sentra produksi seperti di Jawa, itu Provinsi Jawa Timur harganya cukup rendah di angka sekitar Rp 22.500 per kilogram, kemudian diikuti dengan Jawa Tengah Rp 23 sekian, dan Jawa Barat yang agak lebih tinggi sedikit,” katanya.
Agung menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi mekanisme pasar, terutama akibat melimpahnya produksi telur di dalam negeri. Ia memproyeksikan produksi telur ayam nasional pada 2024 mencapai 7,3 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6 jutaan ton sehingga masih terjadi surplus sekitar 800 ribu ton.
“Kebutuhan kita di angka sekitar 6 juta sekian, sehingga masih ada surplus kurang lebih secara nasional itu sekitar 800.000 ton surplus kita secara nasional ya, atau kurang lebih sekitar 13 persen dari kebutuhan nasional,” ujarnya.
Meski demikian, Agung menilai surplus tersebut masih relatif kecil dan tetap dapat dikendalikan. Pemerintah juga terus mendorong ekspor telur untuk membantu menyerap kelebihan produksi di dalam negeri.
Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga masih menghadapi tantangan terkait dengan disparitas produksi dan harga antarwilayah. Menurutnya, sejumlah daerah seperti Papua dan Maluku masih memiliki tingkat produksi telur yang rendah.
“Kita masih punya Pulau Papua yang masih di bawah 0,4 persen produksinya, Maluku juga sama,” katanya.
Menurut Agung, fluktuasi harga telur sebenarnya siklus yang terus berulang. Namun, sejak tahun 2023 hingga saat ini harga telur ayam tingkat peternak relatif lebih bagus dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menyebut stabilnya harga telur tersebut mendorong pelaku usaha untuk membangun peternakan ayam. Apalagi, adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) ikut mendongkrak populasi ayam petelur pada 2024.
Menurutnya, surplus telur 13 persen sebenarnya tidak menjadi persoalan besar apabila stabilitas harganya dapat dapat dijaga. Namun, tantangan saat ini adalah bagaimana menjaga kekompakan para peternak agar tidak saling menjatuhkan.
Agung menjelaskan bahwa telur merupakan komoditas yang diproduksi setiap hari, sehingga peternak tidak dapat menghentikan produksi ketika harga turun.
“Kadang-kadang ada peternak yang nggak sabaran pengen cepat laku sehingga ya terpaksa banting-bantingan harga begitu. Dan inilah yang terjadi di lapangan,” ujarnya.
Karena itu, Kementan bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), asosiasi, koperasi, dan pelaku usaha sepakat menjaga stabilisasi harga agar kembali mendekati HAP yang ditetapkan pemerintah.
Agung juga berharap keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG dapat membantu penyerapan telur dan mendukung pembentukan harga yang lebih stabil di tingkat peternak.
Selain itu, Kementan berharap Koperasi Merah Putih nantinya dapat berperan sebagai penyerap produksi sekaligus penyangga harga di tingkat peternak untuk mengurangi dominasi tengkulak atau middleman dalam rantai perdagangan telur.
“Jadi harga di konsumen masih relatif stabil. Nah, yang on farm-nya ini yang tentu harus kita dongkrak mendekati harga acuan yang ditetapkan oleh pemerintah dan tentu harusnya tidak mempengaruhi harga di konsumennya,” imbuhnya.





























