Percepat Pelaksanaan ISPO, Musim Mas Gandeng SIB, Gelar Pelatihan Auditor ISPO

0

Musim Mas terus berkomitmen mendukung sawit lestari berkelanjutan dengan mengelar pelatihan calon auditor Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Tujuannya, mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk mempercepat pelaksanaan ISPO di kebun-kebun milik Musim Mas.

Pembina PT SIB, Achmad Mangga Barani mengatakan, untuk ke-2 kalinya Musim Mas mengandeng PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (PT SIB) melakukan pelatihan ISPO. Hal ini merupakan wujud komitmen Musim Mas dalam mendukung pelaksanaan ISPO.

“Pelatihan Auditor ISPO diselenggaran dengan model hybrid, dimana tanggal 18, 20 dan 21 Juli 2023 pelatihan dilakukan secara virtual melalui Zoom dan dilanjutkan pembekalan Praktik Lapangan pada tanggal 25 s/d 27 Juli 2023 di salah satu perkebunan milik Musim Mas grup di Kabupaten Kotawaringin Timur Provinsi Kalimantan Tengah,” kata Mangga Barani saat pembukaan acara pelatihan calon auditor Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), Selasa, 18/7/2023.

Menurut Mangga Barani, model hybrid kombinasi antara pelatihan virtual melalui zoom dan praktek lapangan merupakan cara yang baik untuk tetap menghadirkan narasumber yang kompeten dan bermutu.

“Hal ini dapat menghilangkan kendala, terutama jarak yang jauh dan waktu yang lumayan lama untuk menhadirkan narasumber,” kata Mangga Barani.

Dengan menggunakan zoom, lanjutnya, tidak akan mengurangi kualitas, bahkan kelebihannya adalah kemudahan mendapatkan narasumber.

“Jika harus datang keluar kota, tentu banyak narasumber kesulitan hadir tepat waktu dan mengatur jadwal yang padat. Selain itu, memiliki efisiensi yang tinggi,” jelasnya.

Mangga Barani menjelaskan, dalam tahun 2022 lalu (per September 2022) SIB telah melaksanakan berbagai pelatihan seperti: Penyegaran dan Auditor ISPO, Pelatihan Rantai Pasok, Pelatihan Pendamping Sertifikasi ISPO dan Sistem Kendali Internal Bagi Pekebun, Pelatihan GAP dan Pelatihan Peningkatan SDM Kelapa Sawit Pekebun.

“Kepercayaan dan kerjasama ini diberikan oleh GAPKI, Perkebunan Besar Negara dan Swasta, UNDP dan BPDP-KS,” jelas Mangga Barani.

Mangga Barani mengatakan, SIB merupakan Lembaga Pelatihan Perkebunan yang telah ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan No. 69/Kpts/OT.050/2/2021 tanggal 4 Februari 2021 tentang Lembaga Pelatihan Penyelenggaran Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO).

“Selanjutnya berdasarkan Surat Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan No. 172/KB.410/E.6/03/2021 tanggal 01 Maret 2021 tentang Tindak Lanjut Sosialisasi Kebijakan Transisi Lembaga Sertifikasi ISPO,” Kata Mangga Barani.

Mangga Barani menambahkan, pelatihan auditor ISPO bertujuan meningkatkan kemampuan auditor internal perusahaan untuk lebih memahami berbagai aturan baru yang tercantum dalam Peraturan Presiden RI No. 44 Tahun 2020 Tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Atau biasa dikenal dengan Perpres ISPO Baru (Indonesia Sustainable Palm Oil).

” ISPO baru bertujuan untuk meningkatkan keberterimaan pasar atau daya saing produk sawit Indonesia di tingkat Internasional dan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian Dr. Prayudi Syamsuri mengatakan, komoditas kelapa sawit masih menjadi primadona yang berkontribusi besar terhadap ekspor perkebunan.

“Pada 2018, total nilai ekspor yang dihasilkan komoditas sawit mencapai US$ 16,53 Milyar
Merupakan nilai ekspor terbesar, bahkan jika dibandikan dengan migas,” kata Prayudi.

Menurut Prayudi, perkebunan sawit juga berkontribusi besar dalam penyiapan lapangan kerja. Tercatat lebih dari 4,2 Juta orang bekerja pada perkebunan sawit secara langsung dan 12 juga secara tidak langsung.

“Dalam penciptaan lapamgan kerja sawit luar biasa, tidak ada komoditas yang mampu melakukan hal tersebut,” katanya.

Dalam bidang energi pun, lanjutnya, sawit mampu menjadi substitusi bahan bakar fosil sebesar 2,3 juta kiloliter. Melalui program mandatori Biodiesel dari Agustus 2015 s/d April 2018, negara menghemat devisa USD 2,26 Milyar atau setara dengan Rp.30 trilyun.

“Sebagai industri padat karya, jutaan masyarakat bergantung pada industri sawit Indonesia. Pertumbuhan industri sawit akan berperan penting pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegas Prayudi.

Menurut Prayudi, hingga saat ini luas areal tutupan sawit telah mencapai 16,38 Juta hektar. Hal ini berdasarkan Kepmentan No.833 Tahun 2019. Yang terdiri dari 53% milik perusahaan swasta, 42% milik pekebun rakyat dan 5% milik BUMN. Dari luasan tersebut menghasilkan, 48 juta ton CPO dengan 207 juta tandan buah segar (TBS) dengan rata-rata produksi 3,9 ton CPO per hektar per tahun.

Selain itu, produktivitas minyak kelapa sawit dapat mencapai 4 ton/ha. Jauh lebih tinggi dari kompetitornya sesame penghasil monyak nabati; rapeseed (sekitar  0,7 ton/ha), Bunga matahari (sekitar 0,6 ton/ha) Kedelai (0,4 ton/ha).

“Dari produktivitas perhektar, dapat dikatakan komoditas kelapa sawit membutuhkan paling sedikit lahan untuk produksi jumlah yang sama minyak nabati. Menggantikan minyak kelapa sawit dengan minyak nabati lainnya membutuhkan lahan yang lebih massif. Berisiko deforestasi yang luar biasa,” tegasnya.

Namun, Prayudi mengingatkan, dibalik gemerlapnya kinerja industri sawit, masih banyak kendala yang masih harus diselesaikan.

Salah satunya dampak dari regulasi anti-deforestasi Uni Eropa (EUDR) yang telah diresmikan pada 16 Mei 2023 lalu akan menurunkan ekspor sawit Indonesia ke wilayah Eropa.

Aturan EUDR tersebut akan membawa perubahan signifikan terhadap ekspor sawit ke wilayah tersebut. Pasalnya, sebelum EUDR, ekspor sawit Indonesia juga sudah terhambat aturan Renewable Energy Directive (RED) II.

“Dengan adanya EUDR ini, bukan hanya sektor energi yang dihambat, melainkan juga sektor pangan. Jadi, EUDR ini sangat luas dampaknya kepada sektor pangan, energi, dan industry. EUDR bisa menghambat peluang Indonesia untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia. Saat ini, kebutuhan minyak nabati global diperkirakan mencapai 307,9 juta ton pada 2050,” katanya.

Menurut Prayudi, perlu kebijakan strategis dalam menghadapinya, diantaranya; Mengurangi ketergantungan pada ekspor produk primer untuk mengantisipasi terjadinya normalisasi harga dunia.
“Selama tahun 2022 lebih didominasi oleh faktor kenaikan harga internasional, produk turunan sawit akan memiliki nilai tambah karena kuat nya hilirisasi, Harga bersaing, Kondisi sekarang >60% ekspor sawit sudah produk turunan/ processed,” katanya.

Kemudian mewaspadai kenaikan inflasi yang tinggi dan tidak terduga di berbagai negara, World Bank memprediski tingkat Inflasi dunia berkisar 6,5% (global inflationary pressure). Akibat adanya supply disruption akibat Perang Rusia dan Ukraina yang bisa berdampak pada kenaikan harga barang kebutuhan dalam negeri, khususnya produk pangan dari vegetable oil (sawit).

Selanjutnya, memitigasi risiko perlambatan ekonomi, dampak lambatan perekonomian AS, Uni Eropa dan China yang melambat. Lembaga keuangan dunia (IMF) memproyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2023 menjadi 2,7%, turun dibandingkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2022 sebesar 3,2% (IMF, Desember 2022).

Terakhir, mengantisipasi isu perdagangan internasional, khususnya Mandeg-nya sejumlah perjanjian Internasional dan peningkatan hambatan dagang (tarif & non tarif).

“Ditengah situasi geopolitik tidak menentu, masing-masing negara bahkan negara dalam 1 Kawasan melakukan proteksi terhadap perekonomiannya melalui NTMs, termasuk regulasi yang menimbulkan diskriminasi dan melupakan kesepakatan WTO terhadap liberisasi perdagangan,” katanya.

Sementara itu perwakilan management Musim Mas grup, Harry, mengatakan, pihaknya memiliki komitmen yang kuat dalam peningkatan produksi dan menjadi pemimpin di industri minyak sawit yang berkelanjutan dengan membuat produk secara bertanggung jawab, baik secara ekonomi social dan lingkungan dengan mematuhi ketentuan hukum yang berlaku.

“Komitmen ini dibuktikan Musim Mas dengan menjadi salah satu perusahaan pertama yang meraih sertifikat ISPO pada tahun 2012. Untuk itu semangat dan tekad harus tetap dijaga untuk mendukung pelaksanaan sawit berkelanjutan,” kata Harry.

Menurut Harry, tahun lalu Musim Mas dan SIB telah sukses melakukan pelatihan calon auditor ISPO di wilayah Sumatera, dan kali ini dilaksanakan di wilayah Kalimantan. Tujuannya adalah untuk membekali peserta pelatihan dengan ilmu dan pengetahuan yang luas sehinga dapat meningkatkan kualitas dan keahlian SDM dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya.

“Kami berharap, setelah pelatihan para peserta dapat menjadi SDM yang unggul untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Ilmu yang memperoleh dapat diterapkan di perusahaan sehingga mendorong menjadi lebih baik dan berkembang. Kepada 25 peserta selamat belajar, tetap fokus dan semangat,” pungkas Harry.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini