
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, penerapan metode tanam PM-AAS membutuhkan tambahan biaya sekitar Rp2 juta per hektare per hektare. Meski demikian, tambahan biaya tersebut berpeluang meningkatkan pendapatan petani hingga Rp 35 juta per hektare.
Mentan Amran mengatakan tambahan biaya tersebut diperlukan karena jumlah tanaman yang ditanam dalam satu hektare dibuat lebih banyak. Populasi yang sebelumnya sekitar 360 ribu rumpun dinaikkan menjadi 800 ribu hingga 1 juta rumpun.
Konsekuensinya, kebutuhan benih dan pupuk ikut bertambah. Namun, menurut Mentan Amran, kenaikan biaya tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan hasil tambahan yang diperoleh petani.
“Lebih tinggi 2 juta tetapi penghasilannya naik 30 juta, 35 juta,” ujar Mentan Amran saat ditemui di Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Sukamandi, Subang, Rabu (2/9).
Ia menjelaskan, metode PM-AAS telah diuji coba selama dua tahun. Dari hasil uji coba, produksi yang sebelumnya rata-rata sekitar 5 hingga 5,5 ton per hektare meningkat menjadi 11 ton, 12 ton, bahkan mencapai 13 ton per hektare.
Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan itu kemudian memberikan gambaran perhitungan pendapatan petani. Jika produksi mencapai 10 ton per hektare dengan harga gabah Rp 6.500 per kilogram, nilai produksinya sekitar Rp 65 juta.
“Kalau dulu (produksinya) 5 ton itu nilainya 36 juta ya, kalau 10 ton kan kali dua 65-70 juta,” kata Mentan Amran.
Di samping itu, metode PM-AAS menggunakan sistem direct seeding, sehingga benih langsung ditanam tanpa melalui proses pembibitan terlebih dahulu. Menurut Amran, cara ini dapat menghemat waktu dan biaya pembibitan.
“Ini langsung direct seeding. Tidak ada lagi biaya untuk pembibitan. Ini menguntungkan segi waktu,” ujarnya.
Dia menjelaskan, proses pembibitan sebelumnya dapat memakan waktu sekitar dua hingga tiga minggu, kemudian dilanjutkan dengan proses pindah tanam. Dengan direct seeding, waktu tersebut dapat dipangkas sehingga membuka peluang untuk melakukan tiga kali tanam dalam setahun.
“Ini langsung, jadi untuk 3 kali tanam 1 tahun itu sangat memungkinkan,” ujar Mentan Amran.
Mentan Amran menilai peningkatan produksi dengan tambahan biaya yang relatif kecil tersebut dapat memberikan keuntungan lebih besar bagi petani.
Dia menyebut tambahan pendapatan petani dari penerapan metode ini dapat berada di kisaran Rp 10 juta hingga Rp16 juta setelah memperhitungkan biaya, tergantung perawatan.





























