Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, memastikan bahwa bahan pokok yang dijual di gerai-gerai PT Pos lebih terjangkau dan bahkan beberapa di antaranya dijual di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).
Sebagai contoh, minyak goreng kemasan Minyakita, yang HET-nya Rp 15.700 per liter, dijual dengan harga Rp 14.700 per liter. Selain itu, bahan-bahan pokok lainnya seperti bawang, daging, dan daging kerbau juga dijual di bawah HET.
“Jadi, operasi pasar ini kami jual di bawah HET untuk memastikan masyarakat bisa mendapatkan bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau,” kata Mentan Amran saat memantau Gerakan Pangan Murah di Kantor Pos Magelang, Jawa Tengah, (25/2).
Mentan Amran menambahkan, tujuan dari operasi pasar ini adalah untuk memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah, terutama menjelang dan selama Ramadan.
“Tujuannya adalah agar masyarakat menikmati harga yang baik, harga yang terjangkau. Ini arahan Bapak Presiden Republik Indonesia,” tutur Mentan Amran.
Mentan Amran mengatakan, cakupan operasi pasar ini akan diperluas hingga ke seluruh wilayah Indonesia. Dia menyebutkan, hingga kini sudah 168 gerai PT Pos yang sudah beroperasi untuk melayani masyarakat.
“Kurang lebih 300 gerai sudah siap dan sebelum bulan puasa itu 2.000. Target kita 4.500 gerai seluruh Indonesia dan ini berjalan terus, khususnya di bulan suci Ramadan,” jelas Mentan Amran.
Selanjutnya, Mentan Amran berpesan kepada seluruh pengusaha atau pedagang agar tidak menjual komoditas tersebut di atas ketentuan HET.
“Yang kami tekankan di sini, ini keluhan masyarakat, tidak boleh pengusaha menjual di atas HET. Sekali lagi, saya tekankan tidak boleh menjual di atas HET, yang sudah ditentukan pemerintah,” tegas Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, tidak ada alasan bagi pengusaha atau pedagang untuk menjual komoditas, seperti beras, di atas HET yang telah ditentukan pemerintah.
Dia menegaskan bahwa stok beras saat ini melimpah, dengan panen yang naik 52 persen pada Januari hingga Maret, menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan stok beras di gudang Bulog tercatat mencapai 2 juta ton.
“Sekarang tidak ada alasan, panennya naik 52 persen, Januari, Februari, Maret, itu kata BPS. Kemudian, stoknya 2 juta ton di gudang,” tegas Mentan Amran.
Sehingga, lanjut Mentan Amran, kenaikan harga beras medium yang terjadi saat ini bukan karena stok berkurang, melainkan permainan para middleman alias tengkulak.
“Produksi tinggi, stok tinggi, tetapi harga tinggi. Harga di tingkat petani di bawah HPP, tapi harga di tingkat konsumen di atas HPP, tidak masuk akal,” ujar Mentan Amran.
Dia pun langsung menginstruksikan Satgas Pangan Mabes Polri dan Dirkrimsus Polda untuk segera melakukan penelusuran dan menindak pihak-pihak yang memainkan harga beras.
“Kami sudah komunikasi langsung dengan Bapak Kapolri. Kenapa? Jangan ini dipermainkan (harga). Ini kita menghadapi bulan suci Ramadan,” imbuh Mentan Amran.






























