Sawit Berulang Kali Jadi Penopang Ekonomi Saat Krisis

0
pekerja mengangkat brondolan buah sawit.
Pekerja menunjukkan brondolan sawit dengan kedua tangannya. Dok: PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menyatakan, perkebunan sawit memiliki peran yang sangat luar biasa bagi perekonomian Indonesia. Sayangnya, hal ini belum sepenuhnya disadari oleh masyarakat karena masih banyak yang terpapar kampanye negatif terkait industri sawit.

Saat menjadi keynote speaker dalam Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 di Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu lalu, Eddy menjelaskan bahwa industri sawit telah beberapa kali menjadi penopang utama perekonomian Indonesia di tengah krisis global.

Ia mencontohkan, pada tahun 1998 saat krisis moneter melanda, kemudian krisis global tahun 2008, hingga masa pandemi Covid-19 pada 2019, sektor kelapa sawit tetap menunjukkan ketahanan dan kontribusi yang signifikan terhadap devisa negara.

“Saat itu ekonomi ambruk, namun sektor perkebunan kelapa sawit justru menjadi penyelamat. Malah saat Covid-19, sektor perkebunan sawit torehkan devisa tertinggi, ini sangat luar biasa,” jelasnya.

Eddy juga menyampaikan bahwa salah satu masalah utama yang saat ini dihadapi oleh sektor sawit adalah rendahnya produktivitas. Oleh karena itu, melalui forum ini ia mendorong peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit melalui jalur kemitraan.

“Petani PIR memiliki peran yang cukup penting, termasuk Aspek-PIR yang menaungi para petani plasma. Kegiatan ini merupakan langkah tepat di tengah situasi produksi yang masih stagnan,” katanya.

Eddy berharap agar industri kelapa sawit dapat ditata dengan baik dan dijaga keberlanjutannya, mengingat perannya yang sangat strategis bagi negara.

Namun, ia juga menyampaikan keprihatinannya terhadap banyaknya instansi yang mengatur sektor ini.

“Saat ini ada 37 kementerian dan lembaga yang terlibat dalam pengelolaan kelapa sawit di Indonesia. Bandingkan dengan Malaysia yang hanya memiliki satu lembaga, namun produksinya justru lebih besar. Ini perlu menjadi bahan evaluasi,” ungkapnya.

Kegiatan yang didukung oleh IAS Global, PT Bio Sarana Indonesia (BSI), Bio Industri Nusantara (Bionusa) dan PT Restoe Bumi Lestari mendapatkan dukungan dari GAPKI, Cabang Riau serta PTPN IV Regional III Riau.

Ketua Dewan Pengawas Aspekpir, Rusman Heriawan dalam sambutannya menjelaskan jika gelaran Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 ini tidak hanya membahas aspek bisnis saja, tetapi juga mencakup inovasi dalam budidaya serta pasca panen kelapa sawit.

Dia menjelaskan kegiatan ini menampilkan berbagai teknologi baru yang lebih ramah lingkungan.

“Ini merupakan bentuk komitmen kita bersama untuk memastikan bahwa pengembangan kelapa sawit tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan,” tuturnya.

Rusman menjelaskan kemitraan antara Aspekpir dan perusahaan menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong kemajuan sektor sawit nasional. Saat ini, Aspekpir menaungi sekitar 800.000 hektare dari total 16 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini