Eskalasi konflik Iran versus Amerika Serikat dan Israel mulai dikhawatirkan petani sawit nasional karena berpotensi mengerek harga minyak dan pupuk, serta mengguncang pasar ekspor CPO.
Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Rino Afrino, mengatakan konflik di Timur Tengah mengingatkan pada dampak saat perang Rusia–Ukraina meletus, terutama terhadap kenaikan harga pupuk
“Kita punya pengalaman kemarin perang Rusia-Ukraina ya. Yang paling menakutkan bagi kami petani sawit itu pertama adalah kenaikan harga pupuk. Karena memang pupuk ini full kita semua impor,” ujar Rino kepada Majalah Hortus, Jakarta, Rabu (4/3).
Ia menjelaskan, kenaikan harga pupuk sangat berkorelasi dengan lonjakan harga minyak dunia. Jika distribusi minyak mentah dari kawasan Teluk terganggu, harga energi global berpotensi meningkat karena jalur tersebut sangat vital bagi negara-negara pengimpor, termasuk India dan Indonesia.
“Kalau melambung seperti itu tentu biaya-biaya pasti naik. Kalau biaya-biaya naik, pasti kita, termasuk India pembeli CPO terbesar kita, pasti akan terguncang,” ujar Rino.
Harga CPO, lanjutnya, berpotensi ikut terdorong naik seiring kenaikan harga minyak. Namun kondisi tersebut belum tentu menguntungkan apabila negara pembeli menahan pembelian karena harga dinilai terlalu tinggi.
“Harga CPO bisa saja naik karena harga minyak bumi terkatrol naik, tetapi kalau pembeliannya dia tahan, dalam arti karena harga terlalu mahal, maka kita punya masalah,” kata dia.
Ia menjelaskan, struktur pasar sawit Indonesia masih sangat bergantung pada ekspor. Sekitar 60 persen produksi CPO nasional dikirim ke luar negeri. Karena itu, ketika negara importir menahan pembelian, dampaknya langsung terasa di dalam negeri.
Jika permintaan melemah, stok berisiko menumpuk sehingga kapasitas tangki penyimpanan cepat terisi dan pabrik kelapa sawit (PKS) memperlambat pembelian tandan buah segar (TBS) dari petani.
“Ini kembali mengulangi seperti pelarangan ekspor. Harga dunianya cantik, tapi harga petaninya anjlok serendah-rendahnya,” ujarnya.
Menurut Rino, petani berada pada posisi yang rentan karena tidak memiliki daya simpan seperti PKS. Jika perusahaan masih bisa bertahan satu hingga dua bulan dengan kapasitas tangki yang dimiliki, petani hanya mampu bertahan dalam hitungan hari.
“Petani sangat lemah tidak punya holding power yaitu enggak punya tangki seperti PKS yang punya tangki dia bisa napas kalau ini sebulan atau dua bulan. Kami hanya punya napas satu kali 24 jam. Itu yang menakutkan,” katanya.
Ia juga telah mengimbau para petani sawit di berbagai grup komunikasi untuk mencermati perkembangan situasi secara jeli.
Menurutnya, petani perlu mulai mengantisipasi dampak yang mungkin timbul, antara lain dengan mempertimbangkan pembelian pupuk lebih awal serta menekan biaya produksi pada pos-pos yang tidak mendesak.
Rino menilai konflik tersebut kemungkinan tidak berlangsung lama karena tidak ada pihak yang menginginkan perang berkepanjangan. Namun, efek kejutnya terhadap pasar dinilai cukup kuat.
“Saya pikir juga dunia tidak mau perang ini, tapi shock-nya ini aduh kuat. Petani sawit terkenal tahan banting, tahan. Tetapi tahannya berapa lama?,” imbuhnya.
Reporter: Supianto





























