Produksi dan Ekspor Naik, GAPKI Ingatkan Keseimbangan Pasokan

0

JAKARTA — Industri kelapa sawit Indonesia memulai 2026 dengan kinerja yang impresif. Produksi, konsumsi domestik, dan ekspor kompak meningkat pada Februari. Namun, di balik tren positif itu, stok justru mengalami penurunan—sebuah sinyal yang dinilai perlu diwaspadai pelaku industri.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Mukti Sardjono, mengatakan lonjakan di hampir seluruh indikator mencerminkan kuatnya permintaan, baik dari dalam negeri maupun pasar global.

“Produksi kita meningkat, konsumsi dalam negeri juga naik, dan ekspor tumbuh cukup signifikan. Ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap minyak sawit Indonesia masih sangat kuat,” ujar Mukti dalam keterangan tertulis, Selasa, 21 April 2026.

Data GAPKI mencatat produksi CPO pada Februari 2026 mencapai 5,015 juta ton, naik 4,96 persen dibandingkan Januari sebesar 4,778 juta ton. Produksi minyak inti sawit (PKO) juga meningkat dari 458 ribu ton menjadi 485 ribu ton. Secara total, produksi CPO dan PKO mencapai 5,5 juta ton, atau naik 5,04 persen secara bulanan.

Secara kumulatif hingga Februari, produksi mencapai 10,737 juta ton, melonjak 28,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut Mukti, peningkatan ini menunjukkan pemulihan produksi yang cukup solid setelah berbagai tantangan pada tahun sebelumnya.

Di sisi domestik, konsumsi juga menunjukkan tren meningkat. Pada Februari, total konsumsi mencapai 2,305 juta ton, naik 9,55 persen dibandingkan Januari. Peningkatan terbesar terjadi pada sektor pangan yang melonjak 16,55 persen menjadi 986 ribu ton.

“Pertumbuhan konsumsi dalam negeri ini terutama didorong oleh kebutuhan pangan dan program biodiesel yang terus berjalan,” kata Mukti.

Konsumsi biodiesel tercatat naik 7,12 persen menjadi 1,144 juta ton. Sementara itu, konsumsi oleokimia justru turun 7,89 persen menjadi 175 ribu ton.

Di pasar global, ekspor produk sawit Indonesia juga mengalami peningkatan. Pada Februari 2026, ekspor mencapai 3,297 juta ton, naik 7,01 persen dibandingkan Januari. Kenaikan terjadi pada hampir semua jenis produk, termasuk CPO, olahan minyak sawit, dan oleokimia.

Secara tahunan, ekspor Januari–Februari 2026 mencapai 6,378 juta ton, meningkat 33,96 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Mukti menyebut peningkatan ini didorong oleh permintaan dari sejumlah negara tujuan utama seperti China, India, Uni Eropa, dan Amerika Serikat.

“Beberapa pasar utama menunjukkan peningkatan permintaan yang cukup signifikan, terutama China dan kawasan Uni Eropa,” ujarnya.

Nilai ekspor juga mengalami kenaikan. Pada Februari, nilai ekspor mencapai US$3,69 miliar, naik 9,70 persen dibandingkan Januari. Secara kumulatif hingga Februari, nilai ekspor mencapai US$7,05 miliar, meningkat 28,88 persen dibandingkan tahun lalu.

Menurut Mukti, kenaikan nilai ekspor tidak hanya dipengaruhi oleh volume, tetapi juga oleh harga yang relatif lebih tinggi. Rata-rata harga CPO pada Januari–Februari 2026 tercatat sebesar US$1.306 per ton CIF Rotterdam, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$1.218 per ton.

Namun demikian, di tengah kinerja yang positif tersebut, stok minyak sawit justru mengalami penurunan. Hingga akhir Februari 2026, stok tercatat sebesar 2,026 juta ton, lebih rendah dibandingkan stok pada periode yang sama tahun lalu sebesar 2,25 juta ton.

Mukti menjelaskan, penurunan stok ini merupakan konsekuensi dari tingginya serapan pasar. “Konsumsi dan ekspor yang meningkat membuat stok sedikit tergerus. Ini wajar, tetapi tetap perlu kita jaga agar tidak mengganggu keseimbangan pasokan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor, terutama di tengah permintaan global yang terus menguat. Menurut dia, pengelolaan produksi dan distribusi harus dilakukan secara cermat agar tidak menimbulkan tekanan di pasar dalam negeri.

“Industri perlu memastikan bahwa pasokan untuk kebutuhan domestik tetap aman, sambil tetap memanfaatkan peluang ekspor yang ada,” ujar Mukti.

GAPKI, kata dia, akan terus memantau perkembangan produksi, konsumsi, dan ekspor dalam beberapa bulan ke depan. Dengan dinamika pasar yang cepat berubah, kebijakan yang adaptif dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas industri sawit nasional.

Di tengah tantangan dan peluang yang ada, Mukti menilai prospek industri sawit Indonesia tetap positif. Namun, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan industri tidak hanya bergantung pada kinerja produksi dan ekspor, tetapi juga pada kemampuan menjaga keseimbangan ekosistem industri secara keseluruhan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini