Produksi Sawit Naik 7 Juta KL, Pemerintah Kejar Mandatori Biodiesel B60 pada 2028

0

JAKARTA — Pemerintah mulai menghitung kecukupan bahan baku untuk memperluas mandatori biodiesel. Produksi sawit Indonesia disebut melonjak 7 juta kiloliter (KL) sepanjang 2024 hingga 2025. Kenaikan itu menjadi modal pemerintah untuk mengejar target implementasi biodiesel B60 mulai 2028.

Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Dida Gardera mengatakan kenaikan produksi tersebut setara hampir 15 persen dari rata-rata produksi nasional yang berada di kisaran 50 juta KL. Menurut dia, peningkatan itu menunjukkan kapasitas pasokan bahan baku sawit dalam negeri mulai menguat.

“Ini tentu satu indikator yang sangat positif. Kerja keras seluruh pihak terbukti mampu meningkatkan produktivitas kita secara luar biasa hanya dalam waktu satu tahun,” ujar Dida saat membuka Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin, 20 Juli 2026.

Dida mengatakan lonjakan produksi sawit menjadi faktor penting dalam mempercepat hilirisasi energi berbasis komoditas tersebut. Pemerintah, kata dia, membutuhkan pasokan bahan baku yang kuat untuk meningkatkan bauran biodiesel nasional.

Pemerintah saat ini menargetkan implementasi mandatori B60 pada 2028. Target tersebut disiapkan setelah Indonesia berhasil menjalankan program B40 dan mulai melakukan uji coba B50.

Menurut Dida, perkembangan biodiesel Indonesia mulai mendapat perhatian dari dunia internasional. Ia mencontohkan kunjungan Presiden New Development Bank (NDB), yang juga pernah menjabat Presiden Brasil, ke Indonesia pada awal tahun ini.

Dalam pertemuan tersebut, kata Dida, pihak NDB menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan Indonesia menjalankan program biodiesel hingga mencapai B40.

Dida menuturkan pemerintah juga telah memulai uji coba B50 pada pekan lalu. Program itu, kata dia, bahkan mendapat apresiasi langsung dari Presiden.

“Untuk sektor etanol, negara seperti Brasil mungkin lebih maju. Namun untuk urusan biodiesel, Indonesia jauh memimpin di depan,” kata Dida.

Meski begitu, pemerintah tidak ingin hilirisasi sawit berhenti pada penggunaan biodiesel untuk kendaraan darat. Dida mengatakan pemerintah tengah mendorong pengembangan berbagai produk turunan sawit untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Salah satu yang dikembangkan adalah Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan berbasis sawit. Selain itu, pemerintah mendorong riset bensa atau bensin sawit dan benwit.

Menurut Dida, arah pengembangan sawit kini semakin bergeser dari sekadar komoditas ekspor menjadi sumber energi strategis. Pemerintah bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP KS) terus mendorong riset dan inovasi untuk memperluas pemanfaatan sawit.

“Isu sentral dari sawit kita saat ini sudah semakin dominan ke arah ketahanan energi. Potensi pengembangannya masih sangat besar dan bisa dibilang tidak ada satu tetes pun dari sawit ini yang terbuang sia-sia. Semuanya bernilai ekonomi,” ujar Dida.

Ia mengatakan peningkatan produktivitas sawit harus terus dijaga. Sebab, kebutuhan bahan baku akan meningkat seiring dengan perluasan mandatori biodiesel dan pengembangan produk hilir berbasis sawit.

Target B60 pada 2028, kata Dida, membutuhkan konsistensi pemerintah, pelaku usaha, pekebun, serta lembaga riset. Kenaikan produksi dalam setahun terakhir menjadi sinyal bahwa kapasitas pasokan nasional masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan.

Dengan demikian, agenda biodiesel tidak hanya dipandang sebagai kebijakan energi. Pemerintah mulai menempatkannya sebagai bagian dari strategi hilirisasi sawit sekaligus upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini