
Indonesia disebut mulai dilirik China bukan lagi semata karena Crude Palm Oil (CPO), melainkan karena potensi emisi karbon dari industri sawit nasional yang dinilai membuka peluang investasi baru.
Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga menyatakan, daya saing sawit sebagai komoditas sudah mulai tergerus sejak 2022–2023. Selama ini, sawit unggul karena volumenya besar dan harganya lebih rendah dibanding minyak nabati lain. Namun kondisi tersebut berubah.
Menurut dia, negara besar seperti India dan China kini mulai mengembangkan kedelai dan bunga matahari sendiri ketimbang bergantung pada impor sawit.
“Jadi janganlah berharap bahwa dari sawit itu akan tinggi di pasar luar negeri di tahun 2024-2025,” ujar Sahat dalam diskusi “Meneropong Daya Saing Sawit Pasca Penertiban Kawasan Hutan”, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (18/2).
Namun, Sahat menjelaskan, terdapat potensi baru yang justru menarik perhatian China, yakni aspek non-komoditas sawit, khususnya emisi karbon dan biomassa.
“Jadi, kami dari Dewan Minyak Sawit melihatnya aspek lain, yaitu adalah potensi non-commodity sawit yang tidak bisa disaingi oleh minyak nabati apapun. Salah satu contoh adalah emisi karbon,” kata Sahat.
Dia menjelaskan, teknologi pengolahan sawit yang umum digunakan saat ini masih berbasis wet process yang telah dipakai sejak 1922. Sistem tersebut menghasilkan emisi karbon sebesar 1.296,1 kilogram CO2 equivalent per ton CPO.
Dengan produksi nasional sekitar 52 juta ton per tahun, emisi yang dilepas diperkirakan mencapai sekitar 60 juta ton CO2.
Dia memperkenalkan teknologi dry process yang tidak menggunakan air dan uap serta tidak menghasilkan limbah POME. Melalui metode ini, emisi dapat ditekan menjadi 269,7 kilogram CO2 equivalent per ton, atau turun sekitar 78 persen.
“Nah, inilah yang saya jajaki mulai tahun 2024 kemarin. Dan China sudah menunjuk perwakilan di Indonesia untuk khusus menangani ini. Saya tanya ke China, kenapa kalian tertarik emisi karbon? Sedangkan Amerika sama sekali sudah tidak mau tahu mengenai emisi karbon? ‘Ya kami negara besar, bahkan sebetulnya kami lebih besar dari Amerika consumption-nya, kami sangat concern terhadap lingkungan,” kata Sahat.
Ketertarikan tersebut ditindaklanjuti secara formal. Pada 27 Januari 2025, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara pihak Indonesia dan Chinese Society for Environmental Sciences yang berada di bawah Ministry of Ecology and Environment.
Di Indonesia, pihak China menunjuk perwakilan yakni PT Nusantara Green Chemical untuk menjajaki implementasi teknologi tersebut.
Biomassa Jadi Daya Tarik
Dia menjelaskan, setiap satu ton minyak sawit dapat menghasilkan sekitar tujuh ton biomassa. Angka ini jauh di atas minyak nabati lain seperti soybean, canola, atau sunflower yang hanya menghasilkan 0,6 hingga 0,8 ton biomassa per ton minyak.
Potensi biomassa inilah yang dinilai memiliki nilai tambah besar dalam konteks energi terbarukan dan ekonomi karbon.
“Jadi, China melihat potensi biomass di Indonesia itu luar biasa besar. Maka mereka berkeinginan berinvestasi,” ujar Sahat.
Selain teknologi, Sahat juga mendorong perubahan nomenklatur CPO yang dinilainya bersifat diskriminatif. Ia mengusulkan penggunaan istilah DPMO (Degummed Palm Mesocarp Oil untuk menggantikan Crude Palm Oil).
Menurut dia, istilah crude selama lebih dari satu abad membentuk citra inferior terhadap sawit Indonesia. “Tidak ada istilah crude soybean atau crude sunflower. Kenapa hanya sawit?” ujar dia.
Melalui proses degumming dalam teknologi baru tersebut, kandungan nutrisi minyak disebut dapat dipertahankan hingga 98 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan pengolahan konvensional yang hanya menyisakan sekitar 55 persen.
Dia menilai, ke depan daya saing sawit Indonesia tidak lagi bertumpu pada harga murah dan volume besar, melainkan pada inovasi teknologi, penurunan emisi karbon, dan nilai tambah biomassa.





























