Rachmat Pambudy: Sawit Lebih Efisien dan Ramah Lingkungan

0
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Rachmat Pambudy memberikan paparan dalam Seminar Sawit 'Kontribusi Hulu-Hilir Sawit dalam Mendukung Pencapaian Ketahanan Pangan Nasional' yang diadakan di Jakarta pada Kamis (30/8).

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Rachmat Pambudy, mengatakan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada minyak kelapa sawit dalam hal proses produksi yang berkaitan dengan iklim.

Menurut Rachmat Pambudy, minyak kelapa sawit jauh lebih efisien dan lebih baik dari sisi lingkungan dibandingkan minyak lainnya, karena termasuk dalam kategori low carbon emission dan low water consumption.

“Karena dia (sawit) termasuk yang low carbon emission dan low water consumption, apalagi kalau itu miliknya petani,” kata Rachmat Pambudy dalam Seminar Sawit ‘Kontribusi Hulu-Hilir Sawit dalam Mendukung Pencapaian Ketahanan Pangan Nasional’, Jakarta, Kamis (30/8).

Lebih lanjut, Rachmat Pambudy menjelaskan, dengan pengelolaan yang tepat, petani kelapa sawit Indonesia dapat memperoleh keunggulan komparatif dan kompetitif yang signifikan di pasar global.

Menurutnya tidak ada yang bisa mengalahkan petani sawit karena apapun persyaratan yang ditetapkan oleh negara asing, petani sawit seharusnya dapat memenuhi standar tersebut, baik itu RSPO dan ISPO, atau persyaratan lainnya.

“Karena petani sawit adalah orang yang memperkerjakan dirinya untuk membangun kebun dan menata kebunnya yang tidak mungkin melanggar aturan-aturan yang ada karena itu adalah rumahnya sendiri,” kata dia.

Di samping itu, Rachmat Pambudy juga menyampaikan bahwa tidak ada sistem dan usaha agribisnis yang berkembang lebih cepat daripada kelapa sawit. Selain kelapa sawit, industri rokok dan perunggasan juga memiliki pengaruh besar.

“Nah, sekarang bagaimana kita belajar dari tiga industri itu. Industri rokok kita sudah susah lah kita belajar. Tapi kita belajar dari unggas dan kita belajar dari sawit,” kata Rachmat Pambudy.

Rachmat Pambudy menyebutkan bahwa sektor perunggasan adalah salah satu yang berhasil be menyelesaikan masalah dari hulu hingga hilir, tidak ada masalah terkait bibit, tidak ada DOC palsu, dan proses pertumbuhannya tidak sulit.

“Semua aspek dari hulu hingga hilir terkelola dengan baik. Kelapa sawit masih banyak. Apa artinya masih banyak kesempatan untuk menata ulang supaya sawit lebih unggul lagi,” Rachmat Pambudy.

Rachmat Pambudy mengidentifikasi beberapa masalah penting yang harus diatasi dalam sektor kelapa sawit: pertama, benih/bibit; kedua, replanting; dan ketiga, kepemilikan lahan.

“Jadi dalam waktu yang singkat, saya mohon kawan-kawan untuk segera mengurus urusan bibit dan, yang paling penting, urusan kepemilikan lahan hingga masing-masing petani memiliki lahan yang bersertifikat,” ujar Rachmat Pambudy.

Dia menekankan bahwa hanya dengan lahan yang bersertifikat, petani dapat memiliki keberlanjutan dalam berusaha. Lahan bersertifikat adalah hak petani, dan kewajiban negara untuk menyediakannya.

“Esensi dari menjadi warga negara adalah memiliki hak atas lahan. Untuk apa kita berjuang merdeka jika lahan saja sewa, air pun beli? Ini adalah kesempatan kita ke depan untuk menata ulang lagi bagaimana supaya lahan kita menjadi hak milik bagi para petani khususnya yang di bawah 5 hektare,” kata dia.

Selanjutnya, Rachmat Pambudy juga menekankan pentingnya memastikan mendapatkan bibit yang baik saat melakukan replanting. Dengan begitu, petani tidak hanya akan memperoleh kepemilikan lahan yang sah, tetapi juga kepemilikan kebun.

“Dan yang paling penting bagaimana pada saat kepemilikan kebun dalam proses ini mendapatkan pembiayaan juga. Jadi, bibit, lahan, dan pembiayaan. Nah setelah itu baru kita bicara hilirisasi,” pungkas dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini