Bandara bukan hanya tempat perpindahan fisik, tetapi juga bisa menjadi titik temu ide, nilai, dan kesadaran baru. Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) bersama Batik Tjap Tiga Negri memanfaatkan ruang tunggu keberangkatan Bandara Adi Sumarmo, Solo, untuk menghadirkan pameran batik yang berbeda—batik sawit, sebuah inovasi yang memperkenalkan pendekatan berkelanjutan dalam produksi batik.
Dengan menggunakan malam berbasis stearin sawit bersertifikat RSPO sebagai pengganti parafin berbasis fosil, batik sawit adalah hasil dari riset dan kolaborasi sejak 2022. Melalui pendekatan ini, FPKBL menunjukkan bahwa pelestarian budaya bisa sejalan dengan upaya menjaga lingkungan.
“Banyak yang datang hanya karena melihat batik, tapi pulang dengan pengetahuan baru,” ujar Muchammad Nugroho, pemilik Batik Tjap Tiga Negri. Ia menambahkan bahwa pengunjung antusias berdiskusi dan bertanya tentang bahan, proses, hingga dampak lingkungan dari batik sawit.
Pameran ini adalah contoh nyata bahwa ruang publik bisa dimanfaatkan sebagai ruang edukasi yang efektif—menyampaikan pesan penting secara santai, tanpa kehilangan daya tarik visual dan budaya.
Jika Anda sedang berada di Bandara Adi Sumarmo, luangkan waktu sejenak untuk mengunjungi booth FPKBL – Batik Tjap Tiga Negri. Rasakan bagaimana batik bisa menjadi media untuk bicara tentang masa depan yang lebih baik.
Edukasi keberlanjutan bisa dimulai dari mana saja — bahkan dari ruang tunggu bandara.



























