SoCOFI: Tonggak Baru Kopi Sumsel Berkelanjutan

0

Mantra kopi berkelanjutan kini menjadi paspor utama memasuki pasar global. Konsumen dunia tak lagi hanya peduli rasa, tapi juga menuntut transparansi asal-usul (traceability), cara produksi yang bertanggung jawab (responsible), serta dampak sosial dan lingkungan dari secangkir kopi yang mereka nikmati.

Di tengah perubahan itu, Sumatera Selatan tak bisa sekadar berbangga sebagai salah satu provinsi penghasil kopi terbesar di Indonesia. “Produksi besar tak berarti kalau petaninya tertinggal. Kita harus menebus dosa karena terlalu lama abai terhadap nasib petani kopi Sumsel,” ujar Sumarjono Saragih, praktisi sawit yang kini terjun mendampingi petani kopi.

Kegelisahan itu ia sampaikan dalam forum Sriwijaya Coffee Exchange, Kamis (31/7), yang digelar di Palembang oleh Hanns R. Neumann Stiftung (HRNS). Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, termasuk para petani kopi dari OKU Selatan yang selama ini menjadi mitra binaan HRNS.

Di hadapan peserta, Sumarjono memperkenalkan sebuah inisiatif baru: SoCOFI (South Sumatera Sustainable Coffee Initiatives). Sebagai langkah awal, SoCOFI menggandeng International Labour Organization (ILO)—lembaga PBB yang fokus pada isu ketenagakerjaan dan produktivitas. Kolaborasi ini menjadi sinyal kuat bahwa keberlanjutan tak bisa hanya dilihat dari sisi lingkungan, tapi juga dari kesejahteraan petani dan sistem kerja yang manusiawi.

“SoCOFI lahir sebagai respons terhadap tantangan panjang petani kopi Sumsel. Sudah terlalu lama mereka terpinggirkan dari perhatian nasional dan global. Kini saatnya kita bangkit dengan pendekatan keberlanjutan yang menyeluruh,” tegas Sumarjono.

Inisiatif ini mengacu pada prinsip ESG—Environment (lingkungan lestari), Social (keadilan sosial), dan Governance (tata kelola yang transparan dan inklusif). Ia menekankan bahwa Sumsel tak boleh terus menjadi pengikut dalam peta kopi nasional.

“Kita harus berani melompat ke level berikutnya: menjadi pusat kopi berkelanjutan di Indonesia,” ujar Sumarjono yang juga merupakan pendiri SoCOFI dan Ketua Apindo Sumsel.

Menurutnya, keberhasilan SoCOFI tak mungkin dicapai hanya oleh satu pihak. “Pemerintah harus tampil sebagai pemimpin dan pengarah. Tapi kunci sukses tetap ada pada kemitraan—dari hulu, yakni petani, hingga hilir seperti industri, lembaga global seperti ILO, dan NGO,” lanjutnya.

Melalui SoCOFI, Sumatera Selatan menargetkan transformasi mendalam: dari kebun hingga rantai pasok global. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan kualitas kopi, tapi memastikan bahwa setiap biji kopi membawa nilai—bagi alam, bagi petani, dan bagi masa depan kopi Indonesia di panggung dunia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini