Tarif 32 Persen AS Ancam Ekspor Sawit RI, GAPKI: Dampaknya Tak Signifikan

0
pekerja mengangkat brondolan buah sawit.
Pekerja menunjukkan brondolan sawit dengan kedua tangannya. Dok: PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan, tarif dagang sebesar 32 persen yang dikenakan Amerika Serikat terhadap Indonesia akan memberikan dampak terhadap industri sawit nasional.

Meskipun demikian, dampak tersebut diperkirakan tidak signifikan, karena minyak sawit tidak dapat dengan mudah disubstitusi oleh produk lain.

“Ya, itu akan berdampak ya tentu, karena kan begini, sawit itu merupakan salah satu trennya itu meningkat untuk ekspor sawit kita itu,” kata Ketua Bidang Luar Negeri GAPKI, Fadhil Hasan saat dihubungi, Jakarta, Rabu (6/4).

Fadhil mengatakan, pangsa sawit di Amerika itu didominasi oleh ekspor sawit dari Indonesia. Pada tahun 2024, ekspor sawit Indonesia ke Negeri Paman Sam itu tercatat sekitar 1,7 miliar USD.

“Prosentase ekspor sawit kita ke Amerika itu hanya sekitar 50 persen. Jadi, memang kita yang dominasi di sana dan trennya itu meningkat ya. Kemudian, sisanya itu dari negara-negara seperti Malaysia, Amerika Latin, dan seterusnya,” jelas Fadhil.

Fadhil mengatakan, penggunaan minyak sawit di Amerika sangat luas, mencakup industri makanan, industri pembakaran, dan berbagai industri lainnya. Menurut dia, minyak sawit sulit untuk digantikan dalam sektor-sektor tersebut.

Oleh karena itu, lanjut Fadhil, meskipun tarif ekspor sawit kita dikenakan 32 persen, dampaknya tidak akan terlalu besar. Hal ini karena minyak sawit tidak memiliki substitut yang sebanding di pasar.

“Kalau dampaknya, kalau kita mengira-ngirakan, mungkin ekspor sawit itu akan berkurang sekitar 3 persenan lah,” ujar Fadhil.

Namun, Fadhil juga mengingatkan, yang perlu diwaspadai adalah pesaing Indonesia di pasar Amerika. Negara-negara seperti Malaysia dan negara-negara di Amerika Selatan, yang juga memproduksi sawit, mendapatkan tarif yang lebih rendah.

“Dengan kondisi ini, mereka akan lebih kompetitif. Hal ini yang harus kita waspadai adalah bagaimana kita bisa tetap menjaga daya saing di pasar,” ujar Fadhil.

Terkait hal ini, Fadhil mengatakan bahwa pemerintah perlu melakukan negosiasi agar tarif secara umum, termasuk untuk sawit, dapat diturunkan. “Kalau bisa ada kesepakatan hal itu,” kata dia.

Kemudian, untuk meningkatkan daya saing sawit di pasar Amerika, lanjut Fadhil, pemerintah juga perlu menurunkan beban ekspor sawit dan turunannya.

Saat ini ada tiga sumber beban ekspor mulai dari Domestic Market Obligation (DMO), Pungutan Ekspor (PE) dan Bea Keluar (BK) yang totalnya mencapai USD221 per metrik ton sawit.

“Ini perlu dilakukan penyesuaian dengan kebijakan di luar negeri, sehingga kita lebih kompetitif. Pemerintah sudah menyampaikan akan lakukan penyesuaian supaya tetap kompetitif,” imbuh dia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini