
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan, upaya mencapai swasembada bawang putih tidak sesulit mewujudkan swasembada beras karena hanya membutuhkan sekitar 100 ribu hektare lahan tanam.
Menurutnya, kebutuhan lahan untuk pengembangan bawang putih jauh lebih kecil dibandingkan komoditas padi yang memerlukan jutaan hektare sawah serta dukungan program cetak sawah baru.
“Tantangannya setidaknya lebih tidak terlalu menantang dibanding swasembada beras. Karena kalau beras ini kan butuhnya jutaan hektare, terus harus cetak sawah pun juga harus banyak dan lain-lain. Kalau ini cukup menanam bawang putih kurang lebih 100.000 hektare,” ujar Sudaryono saat ditemui di Jakarta, Kamis (18/6).
Hanya saja, pria yang akrab disapa Mas Dar itu mengakui masih ada sejumlah tantangan yang harus diatasi untuk mewujudkan target swasembada bawang putih, terutama terkait penyediaan lahan di dataran tinggi serta ketersediaan benih dalam jumlah yang memadai.
Menurut Mas Dar, bawang putih tidak dapat ditanam di sembarang lokasi sehingga pemerintah harus mencari kawasan dengan karakteristik yang sesuai. Saat ini, sentra bawang putih nasional antara lain berada di Sembalun, Nusa Tenggara Barat, Temanggung, Jawa Tengah, dan Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.
“Tantangannya adalah yang pertama adalah nyari tempat. Karena nanam bawang putih ini tidak bisa ditanam di semua tempat harus di tempat yang tinggi,” ujarnya.
Selain lahan, penyediaan benih menjadi tantangan utama dalam mendukung pengembangan sekitar 100 ribu hektare lahan bawang putih. Menurut Mas Dar, pemerintah membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun untuk membangun sistem perbenihan yang mampu menopang target swasembada.
“Yang menjadi tantangan kita bukan lagi minat petani. Kalau bibit tersedia dan harga pembeliannya menguntungkan, pasti petani menanam. Tantangannya adalah bagaimana kita menyediakan bibit yang cukup,” ujarnya.
Untuk mempercepat program tersebut, Kementan telah melibatkan sejumlah BUMN pangan. Bulog dan ID FOOD akan berperan sebagai offtaker hasil pembibitan, sementara PTPN akan dilibatkan dalam pengembangan budidaya bawang putih di lahan milik perusahaan yang berada di dataran tinggi.
Mas Dar mengungkapkan pemerintah juga tengah menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memanfaatkan sebagian lahan perkebunan teh yang sudah tidak produktif menjadi area pengembangan bawang putih.
“Salah satunya kita sedang bicara dengan Kang Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, bagaimana di daerah Bandung ada kebun teh yang sudah tidak beroperasi dan bisa dikonversi menjadi lahan bawang putih,” katanya.
Meski demikian, ia optimistis target swasembada dapat dicapai. Kementan telah mengidentifikasi potensi lahan yang dapat dikembangkan, sembari terus memperkuat perbenihan dan mencari varietas yang sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.
“Seratus ribu hektare lahan sebetulnya bukan hal yang sulit karena kita punya tempatnya. Tantangannya adalah pembibitan, varietas yang cocok, dan waktu. Sembari berjalan, kuota impor juga akan terus kita kurangi dengan mendorong produktivitas dalam negeri,” ujar Mas Dar.




























