
Lembaga Sertifikasi Mutu Indonesia Strategis Berkelanjutan (LS-MISB) menyerahkan sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) kepada Koperasi Bina Usaha dan Koperasi Tuah Abadi Makmur. Kedua koperasi ini merupakan binaan Mitra PT. Siak Prima Sakti-Wilmar Group.
Acara serah terima sertifikat ISPO ini juga diisi dengan diskusi mengenai isu-isu sertifikasi ISPO bagi pekebun, yang berlangsung di Gedung Grha BUN, Jalan Ciputat Raya No. 7, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, pada Senin, 2 Desember 2024.
Pada kesempatan ini, Direktur LS-MISB, Rismansyah Danasaputra memastikan, kedua koperasi tersebut telah memenuhi semua kriteria yang ditetapkan. Dia pun berharap agar pencapaian ini dapat dipertahankan dan memberikan manfaat bagi para pekebun.
“Harapan saya, pencapaian ini dapat dijaga dengan baik ke depannya, dan semoga memberikan kemaslahatan bagi para pekebun,” ungkap Rismansyah.
Dia juga mengingatkan, setelah mendapatkan sertifikat ISPO, penting untuk tidak merasa terlalu santai atau terlena. “Jangan sampai setelah mendapatkan sertifikat, perhatian terhadap perawatan kebun justru berkurang,” ujarnya.
Dia menegaskan, kebun yang tidak dipupuk dengan baik akan menghasilkan panen yang tidak maksimal. “Jika Bapak memupuk sesuai dengan pedoman ISPO yang ada, hasilnya pasti akan lebih optimal,” tambah Rismansyah.
Di kesempatan yang sama, Head of Sustainability Wilmar Indonesia, Pujuh Kurniawan, menjelaskan bahwa program ISPO ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Wilmar untuk mendukung petani swadaya.
Sejak diluncurkan pada tahun 2017, Wilmar secara konsisten mengembangkan program ini dengan berbagai paket, yang meliputi pelatihan, bimbingan teknis, serta dukungan terkait masalah pertanian. Tujuan akhirnya adalah membantu petani swadaya dalam memperoleh sertifikasi ISPO.
“Karena tantangan dari sustainability, bagaimana kita mengimplementasikan NDPA (No Deforestation, No Peat, No Exploitation), itu kepada para petani, pemasok Wilmar khususnya. Jadi program ini memang dikhususkan untuk petani swadaya.
Di samping itu, lanjut Pujuh, pihaknya juga fokus melakukan capacity building (pengembangan kapasitas) untuk koperasi-koperasi. Dia mengibaratkan koperasi ini sebagai sokok guru dari bentuk model pekebun atau agriculture model di Indonesia.
“Itu saya pikir yang paling tepat sekali daripada scatter. Jadi daripada membina berdasarkan asosiasi dan lain sebagainya. Jadi lebih bagus memang koperasi itu dibentuk dan melalui koperasi. Jadi, pekebun-pekebun bisa berhimpun,” kata dia.
Pujuh juga menegaskan bahwa program ISPO ini tidak hanya terbuka bagi petani swadaya, tetapi juga untuk semua petani.
“Semua petani yang baik, bisnis modelnya berbeda-beda, juga ada pengumpul yang akhirnya berkooperasi juga, ada juga petani swadaya yang berkooperasi, murni petani swadaya yang berkooperasi. Kemudian ada juga pekebun maupun perusahaan,” kata dia.
Pujuh berharap program ISPO ini dapat memberikan sebuah model yang konkret dan kontribusi nyata dalam menjamin ketelusuran dalam rantai pasok kelapa sawit Indonesia.
“Petani-petani kita, petani swadaya Indonesia itu bisa juga comply dengan sustainability. Kalau Wilmar kan ada NDPI itu juga bisa dijalankan,” ujar Pujuh.
Menurut Pujuh, keberlanjutan sangat penting bagi petani karena dapat membantu mereka meningkatkan kesejahteraan, baik dalam hal profit maupun kemakmuran bersama anggota koperasi dan masyarakat sekitar.
“Kemudian berikutnya adalah bagaimana juga petani bisa dalam tindakannya, pengelolaan perkebunan itu juga pro kepada lingkungan dan juga kepada people atau masyarakat sekitarnya,” pungkas dia.
Pujuh juga menegaskan bahwa sertifikat ISPO sudah sangat sesuai dan dapat memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh EUDR (European Union Deforestation Regulation).
”ISPO, seperti yang disampaikan Pak Rismansyah, sangat compliant dengan EUDR jika diterapkan dengan baik. Paling tidak, 90 persen dari kriteria ISPO sudah sesuai dengan ketentuan EUDR,” pungkas Pujuh.

Adapun Ketua Koperasi Tuah Abadi Makmur, Muhammad Thoyib mengungkapkan, pencapaian ini tidak terlepas dari dukungan Wilmar yang selama ini terus melakukan pendampingan.
Koperasi Tuah Abadi Makmur, yang berlokasi di Kampung Pebadaran, Kecamatan Pusako, Kabupaten Siak, Provinsi Riau, terdiri dari 174 petani dengan total lahan sekitar 419 hektare. Setiap bulannya, koperasi ini menghasilkan sekitar 300-400 ton TBS.
“Hari ini adalah momen penting bagi kami, karena kami menerima sertifikat ISPO yang telah kami jalani dengan penuh proses dan kerja keras,” ungkap Thoyib.
Thoyib menjelaskan, keuntungan dari mendapatkan sertifikasi ISPO sangat dirasakan oleh petani dan koperasi yang terlibat.
Pertama, sertifikasi ISPO memberikan dukungan berupa pembimbingan dan pendirian yang terstruktur, sehingga kebun kelapa sawit dapat dikelola dengan baik, mulai dari pemupukan yang tepat hingga pengelolaan kualitas TBS.
Selain itu, lanjut dia, mitra kerja seperti PT Wilmar juga berperan dalam memberikan pendampingan secara langsung kepada petani, memastikan standar keberlanjutan yang diterapkan dalam pengelolaan perkebunan.
“Keuntungan yang kami peroleh adalah adanya pembimbingan dalam hal pemupukan dan pengelolaan kebun, serta pembinaan terhadap kualitas TBS yang dihasilkan. Kami juga mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah dan mitra seperti PT Wilmar,” ujar Thoyib.
Penyuluhan yang diberikan juga merupakan salah satu keuntungan besar dari sertifikasi ISPO. Sebelumnya, penyuluhan untuk petani seringkali kurang memadai. Namun, dengan sertifikasi ISPO, petani mendapatkan pendidikan yang lebih terarah dalam hal pertanian berkelanjutan, pemasaran produk, dan cara menjaga kualitas buah sawit.
“Penyuluhan dan pembinaan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas hasil perkebunan kami,” tambah Thoyib.
Selain itu, dengan adanya jaminan harga TBS yang stabil dari PT Wilmar, petani tidak perlu khawatir tentang fluktuasi harga yang sering terjadi di pasar. “Harga TBS juga terjamin dan stabil, yang sangat membantu kami dalam merencanakan keuangan,” kata Thoyib.
Harapan ke depan, setelah mendapatkan sertifikasi ISPO, adalah semakin meningkatnya kerjasama antara petani, koperasi, dan pihak-pihak terkait, seperti PT Wilmar. “Harapannya, kerjasama ini bisa lebih meningkat lagi untuk kedua belah pihak, baik PT Wilmar maupun koperasi kami,” ujar Thoyib.





























