
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, program mandatori biodiesel berhasil menghemat devisa hingga USD7,9 miliar atau sekitar Rp120,54 triliun pada 2023.
Program B35 merupakan kebijakan yang mewajibkan pencampuran 35 persen biodiesel ke dalam bahan bakar solar. Biodiesel ini berasal dari minyak nabati, seperti minyak sawit, yang kemudian dicampur dengan solar untuk menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.
“Selain itu, pengolahan minyak sawit mentah (CPO) menjadi biodiesel menghasilkan nilai tambah sebesar Rp 15,82 triliun,” kata Wakil Menteri ESDM, Yuliot dalam keteranganya terima di Jakarta, Jumat (6/12).
Yuliot mengatakan, setelah sukses program B30, pemerintah kin sedang merencanakan implementasi B40 tahun depan. Selain itu, saat ini juga sedang dilakukan asesmen untuk program B50 dan persiapan untuk penyediaan bioetanol di dalam negeri.
“Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM), meningkatkan nilai tambah bagi sektor pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar dia.
Pemerintah, lanjut dia, tidak hanya berfokus pada pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) untuk mewujudkan swasembada energi, sebagaimana dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Asta Cita pembangunan nasional.
Beragam upaya lain juga terus dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi di dalam negerio, seperti pengembangan energi baru terbarukan (EBT), percepatan penggunaan kendaraan listrik, dan peningkatan efisiensi energi.
Yuliot menegaskan bahwa penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta dan masyarakat menjadi kunci sukses dalam mencapai ketahanan energi nasional.
“Pemerintah berharap komitmen dan dukungan dari semua pihak dapat mempercepat pencapaian swasembada energi yang diharapkan menjadi landasan kuat bagi pembangunan Indonesia yang lebih mandiri,” pungkas dia.





























