Harga Tinggi Bikin Petani Pilih Ekspor Kelapa

0
kelapa bulat yang sudah dilepaskan dari serabutnya
Kelapa bulat yang siap untuk diekspor. Dok: Ist

Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso (Busan) memastikan tidak ada masalah dengan pasokan kelapa dalam negeri. Namun, tingginya permintaan dan harga yang menarik di pasar global membuat sebagian besar produksi diekspor.

“Jadi, kelapa bulat itu banyak, tetapi karena permintaan ekspor tinggi, ya kemudian mereka semua ekspor,” kata Busan pada kegiatan Kick Off Astra Export Champion: UMKM “BISA” Ekspor, Jakarta, Senin (19/5).

Menurut politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini, kondisi tersebut berdampak pada ketersediaan kelapa di pasar domestik.

“Nah, sehingga pasokan di dalam itu jadi berkurang karena harganya kan bagus. Jadi petani lebih baik ekspor kan dan harganya bagus,” ujar Busan.

Namun demikian, Busan menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara ekspor dan kebutuhan dalam negeri, terutama untuk industri yang mengandalkan bahan baku kelapa.

“Kita kan harus menyeimbangkan antara kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Jangan sampai kebutuhan industri di dalam negeri terganggu,” kata dia.

Sebagai solusi, pemerintah akan menerapkan Pungutan Ekspor (PE) sebagai instrumen pengendali arus ekspor. Melalui mekanisme ini, diharapkan ekspor kelapa dapat dikendalikan, sehingga pasokan dalam negeri tetap terjaga.

“Sebenarnya harapan kita, kalau diatur dengan PE, misalnya ditetapkan sekian persen, maka otomatis tidak semua kelapa akan diekspor. Ini akan mengurangi volume ekspor, dan itu bagus untuk menjaga pasokan dalam negeri,” jelas Busan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini