Menteri Petanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menduga ada campur tangan middlemen yang menyebabkan harga beras naik karena saat ini stok beras melimpah, bahkan disebut mencetak sejarah.
Mentan Amran menyampaikan, stok cadangan beras pemerintah (CBP) saat ini telah mencapai 4 juta ton. Dengan jumlah stok sebesar itu, seharusnya harga beras di tingkat petani maupun konsumen bisa lebih stabil dan terjangkau.
“Alhamdulillah stok kita sudah 4 juta ton lebih, itu pada posisi sangat aman, kemudian ada fenomena kemarin rilis bahwa harga beras naik,” kata Mentan Amran dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Selasa (3/6).
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, rerata harga beras di penggilingan berada di Rp 12.733 per kilogram pada Mei 2025. Harga tersebut turun tipis 0,01 persen secara bulanan dari bulan sebelumnya di harga Rp 12.634 per kilogram.
“BPS mengatakan (harga rata-rata beras di tingkat penggilingan turun Mei 2025), artinya apa? Ada middleman yang mempermainkan, inilah terkadang kita sebut mafia,” ucap Mentan Amran.
Mentan Amran pun membuka data stok beras di Pasar Beras Induk Cipinang (PIBC). Dia menemukan adanya kejanggalan yang cukup mencolok pada pengeluaran beras dari Cipinang.
Tercatat sebelumnya stok beras di Food Station Tjipinang memiliki tren yang terus meningkat terlebih sejak tahun 2024 di kisaran 30 ribu hingga 40 ribuan ton. Bahkan, di tahun 2025 mampu menembus di kisaran 50 ribu ton.
Sementara itu, arus masuk dan keluar beras di PIBC cenderung stabil dan berimbang dengan rata-rata sirkulasi masuk-keluar beras sebesar 2.000-3.000 ton per hari. Anehnya, pada 28 Mei 2025
angka beras keluar naik drastis yaitu 11.410 ton per har.
“Teman-teman media, masuk akal nggak? Ini 11 ribu ton keluar dalam sehari. Aneh, kan? Aneh ya? Benar, teman-teman wartawan? Ya, selesai. Itu jawabannya. Kejar alasan di balik ini,” tegas Mentan Amran.
Mentan Amran menegaskan bahwa jika ada pihak yang memainkan distribusi atau laporan stok secara sengaja, maka hal itu merupakan bentuk sabotase terhadap upaya pemerintah menjaga ketahanan pangan nasional.
”Sekarang pertanyaan saya, kenapa dikatakan hari ini stok di Cipinang kurang dan harga naik? Aku buka datanya, ternyata ada anomali. Ini harus diluruskan. Jangan seenaknya kita menyampaikan. Ini bisa sebagai sabotase pemerintah. Sabotase data karena ada kepentingan pribadi,” tegas dia.
Mentan Amran menegaskan, pihaknya bersama Satuan Tugas (Satgas) Pangan akan menyelidiki dugaan praktik permainan harga oleh middlaman.
Dia menyebut pihak-pihak tersebut telah memperpanjang rantai pasok secara tidak wajar, yang akhirnya berdampak pada mahalnya harga beras di tingkat konsumen.
“Sekarang tidak ada lagi alasan. Dulu ada alasannya. Kalau stok bulag kurang, impor. Paham? Ini dimainkan kalau stok kita tidak banyak, apa yang terjadi? Pasti minta impor kan? Benar gak? Apa mau minta impor dengan kondisi kita stok 4 juta ton?” pungkas dia.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Satgas Pangan, Helfi Assegaf menjelaskan, pihaknya tengah melakukan penyelidikan terhadap data keluar beras tersebut.
”Mereka ditanya tetapi tidak bisa menyampaikan barang itu kemana perginya, keluarnya dari kemana, tidak ada. Belum bisa disampaikan kepada kita. Kita akan lebih mendalami lagi data tersebut. Kalau ternyata tidak sesuai, artinya dia memanipulasi data,” ungkapnya.






























