Kementan dan BRIN Perkuat Kolaborasi Riset Varietas Unggul

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman bersama Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria mengangkat nota kesepahaman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kanpus Kementerian Pertanian), Jakarta, Selasa, 9 Juni 2026. Dok: Ist

Kementerian Pertanian (Kementerian Pertanian) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi untuk menghasilkan varietas unggul berproduksi tinggi guna mendukung hilirisasi pertanian dan swasembada pangan nasional.

Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang digelar di Kantor Pusat Kementerian Pertanian (Kementan, Jakarta, Rabu (10/6).

Melalui kerja sama ini, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memberikan ruang bagi para peneliti dari BRIN untuk memanfaatkan fasilitas yang dimiliki Kementan.

”Ini adalah tonggak sejarah hari ini kita tanda tangan MoU, kita kolaborasi. Yang pertama, seluruh lab, kantor Kementerian Pertanian yang berada di tiap provinsi, 38 provinsi, itu bebas digunakan oleh para peneliti dari BRIN seluruh Indonesia,” ujar Mentan Amran.

Menurut Mentan Amran, dukungan fasilitas bagi para peneliti ini sangat penting untuk menghasilkan varietas unggul yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Sejalan dengan itu, pihaknya juga menyiapkan anggaran hingga Rp 40 triliun untuk mendorong riset dan proses pembinaan petani.

Pengusaha dari Sulawesi Selatan itu menilai, keberhasilan riset dalam menghasilkan varietas dan metode budidaya baru dapat mendorong peningkatan produksi secara signifikan.

Mentan Amran juga mendorong agar penelitian difokuskan pada komoditas-komoditas strategis yang memiliki permintaan tinggi di pasar global. Ia mengatakan, pemerintah saat ini tengah merancang pembangunan klaster khusus untuk komoditas unggulan tersebut.

“Mimpi kami adalah membangun klaster. Contoh program prioritas kita, perkebunan yang demand-nya tinggi,  kakao, kopi, mente, tebu. Ini demand-nya tinggi tingkat dunia,” ujarnya.

Dalam skema tersebut, pemerintah akan menempatkan tenaga ahli sesuai komoditas, seperti ahli tebu, kakao, hingga hortikultura, untuk memperkuat riset dan pengembangan di lapangan.

“Nah yang mendasar sekarang adalah kedelai, bawang putih, kakao, mente, ini kita selesaikan dengan cepat. Ini kolaborasi ini luar biasa. Ini kita ditargetkan untuk bisa produksi bawang putih itu 35 ton per hektare,” kata dia. 

Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa hasil riset BRIN saat ini sudah cukup banyak, termasuk pengembangan varietas baru yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim.

“Alhamdulillah hasil-hasil riset dari BRIN saat ini sudah sangat banyak, termasuk varietas-varietas baru, varietas-varietas yang bisa mengatasi masalah perubahan iklim,” ujar dia.

Arif menjelaskan, riset BRIN tidak hanya terbatas pada sektor pertanian, tetapi juga mencakup berbagai bidang non-pertanian yang dapat mendukung pengembangan pertanian, seperti alat dan mesin pertanian, kecerdasan buatan (AI), genomik, robotik, hingga teknologi smart farming.

Mantan Rektor IPB University menambahkan, pendekatan lintas disiplin tersebut diharapkan dapat menghasilkan varietas unggul dan sistem pertanian yang lebih modern dan efisien.

“Oleh karena itu dengan kolaborasi ini Insyaallah ilmu-ilmu yang ada di BRIN, periset-periset yang ada di BRIN yang lintas disiplin itu bisa kita kerahkan untuk mensupport suksesnya pembangunan pertanian di Indonesia,” pungkas dia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini