
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menekankan bahwa swasembada pangan semakin mendesak untuk diwujudkan, terutama sebagai langkah antisipasi terhadap dampak konflik global yang berpotensi mengganggu pasokan pangan.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, mengatakan bahwa konflik yang terjadi di Timur Tengah serta antara Rusia dan Ukraina menjadi pengingat pentingnya kemandirian pangan nasional.
“Ini kesempatan kita sebagai bangsa besar untuk mengeksekusi cita-citanya Pak Presiden Prabowo dan Pak Gibran Wapres. Di Asta Cita itu adalah swasembada pangan. Jadi ini kesempatan kita, satu, untuk swasembada pangan,” kata Arief ditemui di Bogor, Selasa (24/6).
Arief menambahkan bahwa situasi global saat ini seharusnya membuka mata semua pihak bahwa ketahanan pangan yang berbasis pada kemandirian adalah keharusan, bukan lagi pilihan.
“Jangan sampai kita tergantung makan sama negara lain. Sehingga program-program untuk ketersediaan pangan, keterjangkauan pangan, keamanan pangan di Indonesia ini harus dikerjakan,” ujarnya.
Selanjutnya, Direktur Utama Food Station Tjipinang menekankan pentingnya diversifikasi pangan sebagai bagian dari strategi besar menuju kemandirian pangan nasional.
“Jadi kalau karbo, kalau boleh jangan gandum roti dari gandum. Roti bisa dari singkong, dari yang macam-macam, kasava yang bisa diproduksi di dalam negeri,” ujarnya.
Begitu pula dengan sumber protein, Arief menegaskan bahwa Indonesia memiliki berbagai jenis ikan lokal yang tidak kalah berkualitas dibandingkan dengan ikan impor seperti salmon dari Norway.
Misalnya ikannya ikan salmon throat dari Norway, misal. Kenapa enggak ikan kembung como, kembung banjar, ikan bawal, ikan tongkol, ikan tuna, cakalang.
“Misalnya ikan salmon throat dari Norway, kenapa enggak ikan kembung como, kembung banjar, ikan bawal, ikan tongkol, ikan tuna, cakalang. Kita enggak kalah kok gitu. Ikan pari, oktopus, banyak sekali,” tambahnya.
Menurut Arief, saat ini adalah momentum bagi Indonesia untuk memanfaatkan dan mengembangkan sumber pangan lokal sebagai tantangan sekaligus peluang dalam mencapai kemandirian pangan nasional.
“Jadi ini kesempatan kita. Ini challenge kita, opportunity kita untuk pangan lokal,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arief mengingatkan bahwa upaya ini juga didukung oleh regulasi pemerintah melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 81 Tahun 2023 tentang pengaturan konsumsi pangan berbasis pangan lokal.
“Dan itu juga ada perpresnya, perpres 81, pengaturan konsumsi pangan berbasis pangan lokal. Cocok dong berarti. Nah, yuk kita sama-sama,” ajaknya.
Untuk diketahui bahwa perang yang berlangsung antara Iran dengan Israel berdampak pada rantai pasok global, mengancam pasokan komoditas strategis seperti gandum, kedelai, gas, dan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Indonesia.
Gangguan ini disebabkan oleh terganggunya jalur logistik internasional, khususnya di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan global.





























