
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memastikan, ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dari Indonesia masih berjalan normal, meski sebelumnya sempat dikhawatirkan akan terdampak oleh konflik geopolitik antara Iran dan Israel.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menyatakan bahwa hingga akhir Juni 2025 belum ada gangguan signifikan terhadap kegiatan ekspor CPO nasional.
“Sampai dengan saat ini, ekspor belum terganggu,” ujar Eddy dalam keterangan terbaru dikutip dari laman GAPKI, Jumat (11/7).
Meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah sempat memicu kekhawatiran turunnya permintaan dari negara-negara tujuan ekspor, GAPKI menilai dampaknya belum terasa secara langsung. Namun demikian, data ekspor April 2025 menunjukkan penurunan tajam dibandingkan bulan sebelumnya.
GAPKI mencatat bahwa volume ekspor CPO dan produk turunannya pada April 2025 hanya mencapai 1,77 juta ton, turun drastis 39 persen dari Maret 2025 yang masih mencatatkan angka 2,87 juta ton.
Penurunan terbesar tercatat pada ekspor produk olahan minyak sawit, yang anjlok hingga 41 persen, dari 2,12 juta ton menjadi hanya 1,24 juta ton. Selain itu, ekspor produk oleokimia juga mengalami koreksi, turun dari 407 ribu ton menjadi 368 ribu ton.
Di tengah tekanan ekspor, kabar baik datang dari sisi produksi. Selama periode Januari hingga April 2025, total produksi minyak sawit mentah (CPO) dan minyak inti sawit (PKO) tercatat mencapai 18,03 juta ton. Angka ini meningkat 0,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, kenaikan produksi ini tidak serta-merta memperkuat posisi industri. Di pasar global, harga CPO justru melemah. Pada perdagangan Selasa, 24 Juni 2025, harga CPO di Bursa Malaysia untuk kontrak pengiriman September turun 3,39 persen, ditutup pada level MYR3.986 per ton.
Penurunan ini menjadi yang terendah sejak 13 Juni 2025 dan mencatat koreksi harian terdalam sejak 4 April 2025, memperlihatkan tekanan pasar yang cukup kuat.
Meski hingga saat ini ekspor masih berjalan lancar, dinamika global seperti ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga dunia tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai oleh pelaku industri.
GAPKI menilai penting bagi industri sawit nasional untuk terus berinovasi dan menjaga efisiensi, agar tetap kompetitif di tengah ketidakpastian global.





























