Puluhan Penggilingan Padi Tutup, Ombudsman: Pelaku Usaha Ketakutan

0
Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika mengatakan puluhan penggilingan padi tutup karena ketakutan dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (8/8)

Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika, menemukan puluhan penggilingan padi di Karawang yang terpaksa berhenti beroperasi karena ketakutan menjalankan usaha mereka.

Hal ini terungkap dari kunjungan langsung Ombudsman ke Karawang, Jawa Barat, yang bertujuan meninjau rantai distribusi beras dari hulu ke hilir sekaligus mengkaji polemik beras oplosan yang tengah jadi sorotan publik.

Dari total 23 penggilingan padi yang dipantau di satu kecamatan di Tempuran, Karawang, 10 di antaranya sudah tutup. Sementara penggilingan yang masih beroperasi hanya menyimpan stok sekitar 5–10 persen dari kapasitas normal.

“Penggilingan padi yang kemarin saya tanya, mereka kebanyakan takut. Mau beli takut salah, menggiling takut salah, kemasan takut salah,” ungkap Yeka dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (8/8)

Yeka menjelaskan bahwa pengamatan tersebut hanya berasal dari satu titik lokasi saja, di mana tim Ombudsman berada sejak pukul 9 pagi hingga 9 malam untuk melihat langsung kondisi di lapangan

“Ini baru satu titik nih, karena kami aja satu titik kemarin dari pagi jam 9 sampai jam 9 malam. Takut, jadi ada ketakutan yang luar biasa dalam menjalankan usaha ini,” sambungnya.

Ketakutan itu muncul karena harga gabah kering panen di tingkat petani sudah berkisar antara Rp 7.500 hingga Rp 8.200 per kilogram, sedangkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yang ditetapkan pemerintah Rp 6.500 per kilogram.

Bila mereka membeli dengan harga tersebut, penggilingan padi khawatir akan mengalami kerugian karena harus menjual beras dengan harga yang diatur pemerintah, yang biasanya lebih rendah dari harga beli gabah di pasaran.

Menurut Yeya penurunan produksi lazim terjadi jika melihat tren harga pada tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau kita lihat tahun lalu, tahun 2024 dan tahun 2023, angkanya masih seperti itu. Harga gabah yang tinggi memang sesuai dengan musim panen. Karena Indonesia mengalami musim panen sampai bulan Juni, mulai turun di Juli, dan Agustus sudah turun, lalu harga mulai naik,” katanya.

“Dan kenaikan ini jika tidak dimitigasi dengan tepat, akan berlangsung sampai Januari tahun depan,” imbuhnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini