Incipio 200 SC Raih Top Innovation Choice Award 2024, Bukti Komitmen Syngenta bagi Petani

0

 

Di sebuah ballroom di Karawang, Jawa Barat, suasana akhir Agustus lalu tampak berbeda. Lebih dari 50 petani muda yang tergabung dalam komunitas GenAgri—Generasi Petani Muda untuk Negeri—tampak khidmat menyaksikan sebuah prosesi penyerahan penghargaan.

Di panggung, CEO INFOBRAND.ID, Susilowati Ningsih, menyerahkan sebuah plakat berkilau kepada Suhendro, Marketing Head PT Syngenta Indonesia.

Penghargaan itu bukan sembarangan. Bertajuk Top Innovation Choice Award 2024, piala tersebut diberikan kepada Incipio 200 SC, insektisida andalan Syngenta Indonesia yang baru diperkenalkan ke pasar. Produk ini dinilai paling inovatif setelah melalui penilaian ketat dari TRAS N CO Indonesia dan INFOBRAND.ID.

“Penghargaan ini hasil dari pengukuran berdasarkan tiga aspek: gagasan inovasi, keunggulan inovasi, dan diferensiasi inovasi,” kata Susilowati. “Incipio 200 SC dengan teknologi Plinazolin terbukti menjawab kebutuhan petani dalam mengendalikan hama penggerek batang padi kuning, baik di fase vegetatif maupun generatif.”

Hama penggerek batang padi kuning bukan sekadar nama yang terdengar sepele. Di sawah-sawah Nusantara, serangan hama ini ibarat mimpi buruk. Jika tak ditangani, petani bisa kehilangan hingga 30 persen hasil panen. Bila serangan datang saat padi memasuki fase generatif—ketika bulir tengah tumbuh—kerugian bisa melambung sampai 95 persen.

Kehilangan itu tidak hanya berarti berkurangnya tonase gabah. Di baliknya ada kerugian finansial yang bisa menembus jutaan rupiah per hektar. Bagi banyak petani, situasi semacam itu bisa berujung pada lilitan utang.

Karena itulah, kehadiran Incipio 200 SC pada awal 2024 disambut sebagai kabar gembira. Insektisida berbasis teknologi Plinazolin® ini dikembangkan melalui riset panjang, melibatkan lebih dari 10 ribu uji lapangan dan 100 kali pengujian laboratorium. Hasilnya adalah formula yang bukan hanya efektif, tapi juga dirancang untuk bertahan lebih lama di lahan.

Tiga Keunggulan

Ada tiga alasan utama mengapa Incipio 200 SC mendapat tempat di hati petani. Pertama, daya kendalinya superior. Racikan Plinazolin bekerja langsung pada sistem saraf hama, membuat larva penggerek batang lumpuh, berhenti makan, lalu mati. Kedua, daya tahannya panjang: sekali aplikasi mampu melindungi padi hingga 14–21 hari. Ketiga, produk ini terbukti menghasilkan anakan padi yang lebih sehat, yang pada akhirnya mendongkrak produktivitas.

Formulasi Plinazolin sendiri memiliki keunikan. Cairan yang disemprotkan ke daun akan membentuk kristal setelah mengering. Kristal ini melekat kuat, tidak mudah larut meski terkena hujan, dan tetap efektif meskipun disinari matahari berjam-jam.

Dalam uji lapangan, petani yang menggunakan Incipio mencatat peningkatan 5–8 anakan per rumpun dibanding penggunaan insektisida sejenis. Tanpa perlindungan ini, kehilangan hasil bisa mencapai 1,7 ton per hektare—setara dengan kerugian Rp7,6 juta.

Hanya dalam waktu kurang dari setahun, Incipio 200 SC sudah merangsek menjadi pemimpin pasar insektisida padi di Indonesia. Suhendro dari Syngenta menyebut keberhasilan itu lahir dari kerja sama antara perusahaan, mitra distribusi, hingga petani yang mau mencoba inovasi baru.

“Kepercayaan petani menjadi energi kami untuk terus berinovasi,” kata Suhendro. “Kerja keras ini tidak akan berhenti di sini. Kami akan terus mencari cara lebih kreatif dan inovatif demi pertanian Indonesia.”

Di balik keberhasilan itu, Syngenta mengaitkan Incipio dengan visi besar yang mereka sebut Petani MAJU—singkatan dari Maximise profitability, Accelerate innovation, Joint effort in sustainability, United one team. Filosofi ini menekankan empat hal: meningkatkan profitabilitas petani, mempercepat inovasi, mendorong kolaborasi menuju pertanian berkelanjutan, dan memperkuat sinergi internal perusahaan.

Bagi Syngenta, penghargaan Top Innovation Choice Award bukanlah puncak, melainkan titik awal. Inovasi seperti Incipio dianggap bagian dari strategi besar menjaga ketahanan pangan Indonesia di tengah ancaman perubahan iklim, serangan hama, dan naik-turunnya harga komoditas global.

“Pertanian adalah tulang punggung bangsa,” ujar Susilowati dalam pidatonya. “Setiap inovasi yang memudahkan petani berarti berkontribusi langsung pada masa depan pangan kita.”

Di Karawang, para petani muda yang hadir hari itu mungkin tidak terlalu peduli dengan bahasa korporasi atau istilah teknis. Tapi mereka tahu satu hal: sawah mereka punya peluang lebih baik ketika ada teknologi yang bisa menahan gempuran hama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini