INSTIPER Bertransformasi Ciptakan SDM Unggul, Berkarakter, dan Berorientasi Kelestarian.

0

Jogjakarta — Ada sesuatu yang bergerak cepat dan pasti di INSTIPER. Kampus perkebunan yang selama puluhan tahun berjalan dalam ritme teratur itu kini tampak sedang menyusun tenaga untuk melompat lebih jauh.

Di halaman kampusnya di Jalan Nangka II Maguwoharjo, bangunan yang dulu terasa statis kini dipenuhi aktivitas yang menandai transformasi: ruang belajar digital yang terus diperluas, akademi-akademi baru yang bermunculan, kemitraan internasional yang makin rapat, serta kurikulum yang dirombak secara menyeluruh.

Pada Dies Natalis ke-67, Rektor Dr. Ir. Harsawardana, M.Eng menyampaikan laporan yang terasa seperti peta jalan operasi besar kampus itu. Ia bicara dengan nada datar dan hemat gestur, tetapi di balik ketenangan itu ada peringatan yang tak ia ucapkan secara langsung: INSTIPER memilih membongkar fondasinya sendiri sebelum dunia luar memaksanya. “Lanskap industri berubah. Pendidikan harus berubah. Kalau tidak, kita akan tergilas,” ujarnya.

Sejak berdiri pada 1958, INSTIPER dikenal sebagai perguruan tinggi yang setia pada ilmu perkebunan dan kehutanan. Namun enam tahun terakhir, terutama sejak 2018, kampus ini menjalankan apa yang secara internal disebut “renovasi senyap”. Upaya itu diberi label INSTIPER Digital Learning Ecosystems — sebuah proyek perubahan yang tidak hanya memodernisasi sarana belajar, tetapi mengubah cara kampus berpikir tentang pembelajaran, relasi dengan industri, serta kompetensi masa depan.

Tekanan perubahan tidak datang dari akademik semata. Turbulensi global dari politik hingga ekonomi membuat industri perkebunan dan kehutanan beradaptasi cepat. Dunia sawit dan kehutanan — yang menjadi napas utama INSTIPER — kini digerakkan oleh otomasi, drone, sensor IoT, pemetaan digital, dan kecerdasan buatan. Sementara itu, mahasiswa generasi Z menuntut pembelajaran yang lebih fleksibel, cepat, dan relevan dengan dunia kerja. “Kalau kampus tetap mengajar seperti 20 tahun lalu, mahasiswa akan mati gaya. Industri sudah pakai AI, tapi kampus masih pakai metode kapur dan papan,” kata seorang dosen senior yang meminta namanya tidak disebut.

Karena itulah kurikulum INSTIPER direkayasa ulang dengan pendekatan competency block. Materi yang dulu dibungkus dalam paket semester panjang kini dipecah menjadi modul-modul pendek. Mahasiswa diberi ruang untuk mengatur ritme belajar sendiri, dengan pola yang lebih menyerupai budaya startup daripada kampus pertanian tradisional. “Kita dikasih masalah nyata, bukan tumpukan teori. Lalu kita diminta menyelesaikannya,” kata seorang mahasiswa agroindustri.

Di laboratorium digital, perubahan itu tampak gamblang. Mahasiswa mengoperasikan drone pemetaan, mempelajari dasar machine learning untuk mendeteksi penyakit tanaman, hingga memasang sensor-sensor IoT di smart greenhouse. Teknologi bukan lagi sekadar alat bantu pengajaran, melainkan kompetensi wajib. “Semua lulusan harus menguasai literasi teknologi,” ujar Harsawardana.

Transformasi radikal itu berdenyut di 13 INSTIPER Academy — unit kokurikuler yang dirancang sebagai inkubator kompetensi. Tempo mendatangi salah satu gedung akademi, dan di situ terlihat mahasiswa yang menyolder perangkat IoT di meja yang sama dengan kelompok lain yang sedang mengkalibrasi kamera drone. Ada Robotics Academy, Drone Academy, Artificial Intelligence Academy, Smart Greenhouse Academy, hingga Coffee & Bakery Academy yang mengajarkan rantai nilai agrikultura secara utuh. Melalui akademi-akademi itu, kampus menanamkan soft skills 6C: critical thinking, creativity, collaboration, communication, computational logic, dan compassion, sebuah kemampuan empatik yang sering hilang di pendidikan teknis.

Perubahan tidak berhenti pada ruang belajar. Jejaring kemitraan kampus melebar. Tahun 2025, INSTIPER menjadi tuan rumah Wood and Biofiber International Conference (WOBIC) 2025 bersama Universitas Putra Malaysia. Konferensi itu membahas masa depan kayu tropis dan biofiber dalam konteks keberlanjutan bumi. Ada pula kerja sama INDOCACO, program ambisius bersama Bappenas dan lembaga riset Prancis CIRAD untuk membangun rantai nilai kakao inklusif dan berkelanjutan. Di tingkat domestik, INSTIPER menggelar workshop digital marketing UMKM sawit bersama APKASINDO dan BPDPKS, membantu pelaku usaha sawit kecil memasuki ekonomi digital.

Sementara itu, INSTIPER Drone Festival — agenda tahunan kampus — digelar dengan skala yang lebih besar. Acara itu menghadirkan sertifikasi pilot drone, workshop pengolahan data udara, pameran teknologi, dan kuliah pakar. “Drone ini bukan lagi mainan. Di perkebunan besar, drone menggantikan mata manusia dalam mengawasi ribuan hektare,” kata seorang instruktur.

Di tengah perubahan itu, jumlah mahasiswa baru menunjukkan kenaikan stabil. Tahun akademik 2025/2026, INSTIPER menerima 894 mahasiswa baru, termasuk 36 mahasiswa magister. Sekitar 30 persen mahasiswa S1 menerima beasiswa dari BPDPKS, KIP Kuliah, dan perusahaan besar seperti RAPP, BGA, dan Asian Agri. Seorang pejabat industri perkebunan menyebut INSTIPER kini menjadi “kampus yang tidak hanya menyesuaikan diri dengan industri, tetapi memimpin arah industrinya”.

Dies Natalis ke-67 tahun ini mengusung tema “Strategi Pengelolaan Perguruan Tinggi Swasta yang Berkelanjutan”. Tema itu mencerminkan situasi pertempuran panjang kampus swasta yang tidak disokong dana besar APBN. Harsawardana menegaskan bahwa keberlanjutan perguruan tinggi akan bertahan hanya jika institusi itu relevan, adaptif, dan berani merombak dirinya. Di penutup laporannya ia mengatakan: “Perubahan bukan pilihan, tetapi keharusan. Yang bisa kita lakukan adalah memimpin perubahan itu.”

Tepuk tangan panjang pecah. Di usia 67 tahun, INSTIPER tampak menolak menjadi kampus tua yang berjalan di tempat. Ia memilih menata ulang dirinya — diam-diam, serius, dan ambisius — agar dapat melompat lebih jauh dari masa lalunya. Transformasi itu mungkin belum sepenuhnya terlihat dari luar, tetapi suara mesin drone, modifikasi sensor, dan diskusi mahasiswa tentang algoritma pembelajaran mesin menunjukkan satu hal: INSTIPER sedang membangun masa depan yang tidak lagi bertumpu pada tradisi, tetapi pada keberanian merumuskan ulang dirinya.

Ketua Yayasan Pendidikan Kader Perkebunan Yogyakarta (YPKPY) Dr. Purwadi, MS menegaskan kembali komitmennya dalam menyiapkan sumber daya manusia perkebunan yang unggul, berkarakter, dan berorientasi kelestarian.

“Fondasi pemikiran yayasan sejak awal adalah memberdayakan bumi, air, dan seluruh kekayaan alam sebagai anugerah Tuhan yang harus dikelola secara lestari, tangguh, penuh pengabdian, bermoral baik, dan bertanggung jawab demi kemakmuran bangsa. Visi ini tidak akan luntur oleh perkembangan zaman. Justru semakin relevan ketika tantangan sektor perkebunan semakin kompleks,” kata Purwadi.

Ia menegaskan bahwa pendidikan yang diselenggarakan di bawah YPKPY, termasuk oleh Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta dan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), sepenuhnya menganut mazhab kelestarian.

Setiap SDM yang dihasilkan kedua institusi itu wajib memiliki karakter dan sikap yang mempertimbangkan kelestarian dalam setiap aktivitas profesionalnya. Azas lestari, menurut Purwadi, bukan sekadar semboyan, tetapi fondasi moral dan teknis yang harus melekat pada setiap lulusan.

Purwadi melihat bahwa Indonesia tidak lagi berada pada era ketika pembangunan ekonomi cukup bertumpu pada kelimpahan sumber daya alam dan tenaga kerja murah. Model pembangunan berbasis eksploitasi SDA tanpa nilai tambah kini dianggap tidak lagi memadai. Oleh sebab itu, tata kelola ekonomi berbasis SDA harus segera bertransformasi menuju pertanian dan perkebunan intensif yang tetap menjaga kelestarian, memanfaatkan teknologi, serta digerakkan oleh SDM yang unggul.

“Ke depan, sektor agrobisnis dan agroindustri akan menjadi tumpuan perkembangan ekonomi Indonesia. Untuk itu diperlukan kader yang tidak hanya terampil, tetapi memiliki integritas dan pemahaman mendalam mengenai keberlanjutan,” ujarnya.

Menjawab tantangan tersebut, YPKPY menugaskan Instiper dan AKPY untuk melakukan transformasi menyeluruh dalam bisnis proses dan model pendidikan. Rektor Instiper sebelumnya telah menyampaikan bahwa mulai 2025 institusi itu menjalankan agenda transformasi besar-besaran, termasuk pembaruan kurikulum, digitalisasi pembelajaran, penguatan praktik lapangan, serta penekanan pada penggunaan teknologi dalam pengelolaan perkebunan.

Transformasi ini juga diarahkan untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap dinamika industri, dari tuntutan keberlanjutan global hingga kebutuhan tenaga profesional yang mampu mengembangkan agroindustri berbasis data dan inovasi.

Menurut Purwadi, pembaruan tersebut bukan hanya kebutuhan akademik, tetapi langkah strategis untuk memastikan Indonesia memiliki SDM perkebunan yang mampu menjawab tantangan jangka panjang. “Lulusan Instiper dan AKPY harus siap menjadi pemimpin lapangan dan pengambil keputusan yang memahami bahwa kemakmuran hanya dapat dicapai bila kelestarian dijaga,” katanya.

Dengan langkah ini, YPKPY berharap dapat terus berperan dalam mencetak kader perkebunan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memegang nilai-nilai tanggung jawab lingkungan dan pengabdian kepada bangsa.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini