IPOSS Tepis Anggapan Sawit Pemicu Banjir Sumatra

0
Dewan Pengawas Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Sofyan Djalil.

Dewan Pengawas Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), Sofyan Djalil menilai masih banyak persepsi keliru yang berkembang di masyarakat. Salah satunya tudingan bahwa sawit menjadi penyebab banjir dan longsor di Sumatra.

Pada acara jumpa pers Sosialisasi Limbah Cair Sawit sebagai Bahan Bakar Pesawat, yang digelar di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (11/12), dia menyebut tudingan tersebut tidak sesuai dengan kondisi teknis di lapangan.

“Sekarang misalnya kita lihat ada banjir di Sumatra itu disalahkan sawit. Padahal, perlu diketahui sawit tidak pernah tumbuh di daerah ketinggian,” kata dia.

Sofyan menjelaskan bahwa  sawit hanya dapat tumbuh di wilayah datar (flat) dengan ketinggian maksimal sekitar 400 meter di bawah permukaan laut.

Karena itu, sambung dia, area-area yang mengalami longsor seperti di Aceh dan beberapa wilayah lain umumnya berada di daerah perbukitan dan justru dipenuhi kayu-kayu terbawa arus, bukan tanaman sawit.

“Yang longsor dan lain-lain itu sebenarnya terbawa kali ya di Aceh di mana-mana itu adalah kayu-kayu, tidak ada pohon sawit. Tapi, sekarang sawit salah satu kesempatan untuk disalahkan,” kata Sofyan.

Dia menambahkan, persepsi keliru yang telanjur berkembang luas membuat informasi yang tidak tepat lebih cepat dipercaya publik. Karena itu, menurut Sofyan, menjadi tugas IPOSS untuk terus meluruskan berbagai kekeliruan terkait industri sawit.

“Teman-teman sekalian dari media, mari kita kampanyekan bahwa sawit ini adalah apa namanya, kalau saya suka mengatakan, angsa yang bertelur emas,” ujar Sofyan.

Sawit sebagai Angsa Bertelur Emas

Sofyan menjelaskan, IPOS selama ini melakukan berbagai studi untuk memastikan kelapa sawit yang ia sebut sebagai komoditas unik dan unggul Indonesia tetap menjadi sumber ekonomi penting bagi bangsa.

“Kita jangan membunuh angsa yang bertelur emas bagi bangsa kita,” ujar Sofyan.

Menurut dia, hampir seluruh produk hingga by-product sawit memiliki manfaat dan nilai ekonomi, sementara produktivitas sawit terbaik justru ada di Indonesia.

Karena itu, lanjutnya, IPOS terus berpikir dan melakukan berbagai riset agar sawit dapat memberikan kontribusi maksimum bagi kesejahteraan nasional. “Satu-satunya komoditas yang paling punya potensi adalah sawit,” katanya.

Meski demikian, Sofyan tidak menutup mata bahwa sektor sawit masih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya adalah kebijakan pemerintah yang dinilainya belum sepenuhnya ramah terhadap industri tersebut.

Untuk itu, IPOS terus melakukan kajian dan mendorong terobosan, termasuk pada pemanfaatan limbah sawit. Sofyan menyebut, IPOS baru-baru ini melakukan pembahasan dengan International Civil Aviation Organization (ICAO) yang telah mengakui palm oil mill effluent (POME) sebagai bahan baku potensial Sustainable Aviation Fuel (SAF).

“POME itu punya potensi paling sedikit sekitar 1 juta ton dari Indonesia yang bisa menjadi komponen bahan bakar SAF,” ujar dia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini