Majalah HORTUS Archipelago Edisi 161 Februari 2026

0

 

Pembaca sekalian,
Memasuki awal 2026, pasar kakao dunia bisa merasa lega. Bagaimana tidak, setelah dua tahun terakhir (2024 hingga 2025) bergerak di level harga tinggi dan memicu euforia di banyak negara produsen, grafik kakao global mulai melandai. Bahkan, Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (Apkai), Arief Zamroni mengklaim harga kakao saat ini di tingkat petani sebagai harga yang lebih rasional dan sangat dibutuhkan untuk merencanakan produksi ke depan.

Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Referensi (HR) biji kakao periode Januari 2026 sebesar US$ 5.662,38 per metrik ton, turun sekitar 5,27 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sejalan dengan itu, Harga Patokan Ekspor (HPE) ikut terkoreksi menjadi US$ 5.296 per metrik ton, atau turun 5,49 persen.

Penurunan ini menandai berakhirnya fase lonjakan ekstrem yang sempat mengerek nilai ekspor kakao Indonesia ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua tahun terakhir, harga kakao yang melambung menjadi “angin segar” bagi negara produsen, termasuk Indonesia.

Pembaca majalah yang kami banggakan,
Koreksi terhadap harga kakao tersebut, kami coba bahas dalam Rubrik Liputan Khusus Majalah HORTUS Archipelago Edisi 161 Februari 2026 ini. Perlu diketahui Bersama bahwa penyebab koreksi kali ini terutama datang dari Afrika Barat—wilayah produsen kakao terbesar dunia.

Produksi kakao di negara-negara seperti Pantai Gading dan Ghana mulai pulih seiring dengan membaiknya kondisi cuaca setelah sebelumnya terganggu fenomena iklim ekstrem. Panen yang lebih stabil meningkatkan suplai global, sementara permintaan tidak tumbuh secepat ekspektasi pasar.

“Pasar kakao memang sangat sensitif terhadap perubahan cuaca dan produksi di Afrika Barat. Begitu suplai membaik, harga akan langsung terkoreksi,” ungkap Tommy Andana, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI), Arief Zamroni, menyebut harga biji kakao kering di tingkat petani pada awal 2026 justru sudah berada di level yang lebih “sehat”.

“Harga sekarang sekitar Rp 50.000 per kg di tingkat petani. Ini sudah lebih rasional dibandingkan lonjakan sebelumnya,” ungkapnya antusias menyambut koreksi harga kakao.

Pembaca yang kami hormati,
Untuk rubrik Laporan Utama pada edisi kali ini, kami mengangkat tema Penundaan Penerapan Mandatori B50. Tahun ini, kebijakan pencampuran solar berbasis sawit tetap dipertahankan pada level B40, menyusul pertimbangan teknis serta keterbatasan pendanaan.

Semula beredar kabar bahwa pemerintah cq Kementerian Enegi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) berencana akan menerapkan program mandatori B50 mulai Semester II tahun 2026 ini. Pernyataan tentang hal itu pernah dikemukakan oleh Menteri ESDM, Bahlil  Lahadalia, pada medio Desember 2025 lalu.

Penundaan kebijakan mandatori yang disampaikan Wakil Menteri ESDM tersebut, cukup beralasan.  Pangkal soalnya, uji coba bahan bakar B50 khususnya untuk kereta api, alat berat dan mesin membutuhkan rentang waktu yang tak singkat. Selain itu, kepastian jaminan pasokan CPO untuk mendukung program B50 juga dipertanyakan sebagian pemangku kepentingan industri sawit di negeri ini.

Di luar kedua rubrik andalan tersebut, seperti biasa kami juga menyajikan berita atau tulisan di rubrik lainnya, yang tak kalah hangat dan atraktifnya.

Akhirnya dari balik meja redaksi, kami sampaikan selamat menikmati sajian kami. ***
Baca/dounload

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini