Respons Mentan Amran soal Penyelundupan 23,1 Ton Pangan Ilegal di Pontianak

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman cek penyelundupan pangan di Pontianak. Foto: Dok. Kementan

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengapresiasi langkah cepat dan tegas Satgas Pangan Bareskrim Mabes Polri dalam menggagalkan penyelundupan komoditas pangan ilegal sebanyak 23,1 ton di Pontianak, Kalimantan Barat.

Mentan Amran mengatakan, penindakan ini merupakan bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi petani dan menjaga stabilitas harga pangan nasional.

“Langkah cepat Satgas Pangan ini patut diapresiasi. Ini bentuk nyata negara hadir melindungi petani dari praktik curang yang merusak harga dan tata niaga,” ujar Mentan Amran, Sabtu (18/4).

Namun, ia menegaskan pengusutan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan. “Kami minta diusut sampai ke akar. Aktor intelektualnya harus dibongkar. Ini jaringan besar, bukan kasus biasa,” tegasnya.

Dalam pengungkapan terbaru, aparat menyita bawang merah asal Thailand 2,1 ton, bawang putih asal China 9,1 ton, bawang bombai Belanda 7,9 ton, bawang bombai India 1,6 ton, serta cabai kering China 2,2 ton.

Mentan Amran mengungkapkan bahwa kasus di Pontianak hanyalah bagian dari praktik yang lebih besar dan berulang di berbagai wilayah Indonesia. Dalam beberapa bulan terakhir, aparat telah menggagalkan penyelundupan pangan dalam skala besar, antara lain 133,5 ton bawang bombai ilegal di Semarang, 72 ton bawang bombai ilegal di Surabaya, 250 ton beras ilegal di Sabang, serta sekitar 1.000 ton beras ilegal di Tanjung Balai Karimun.

“Ini pola yang sama, berulang, dan terorganisir. Berulang kali kami sebut inilah mafia pangan. Skalanya sudah ratusan sampai ribuan ton. Artinya ada kekuatan besar di belakangnya,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa praktik ini tidak lepas dari kepentingan pihak-pihak yang tidak menginginkan Indonesia mandiri dalam pangan.

“Ada pihak-pihak yang tidak akan pernah bahagia kalau Indonesia swasembada pangan. Karena itu mereka terus mencari celah untuk merusak pasar dan melemahkan produksi dalam negeri,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi geografis Indonesia dengan garis pantai yang sangat panjang sering dimanfaatkan oleh jaringan penyelundup untuk memasukkan komoditas ilegal melalui jalur-jalur tidak resmi.

“Dengan garis pantai yang panjang, celah itu dimanfaatkan oleh oknum untuk memasukkan barang ilegal. Ini yang harus kita tutup bersama,” tegasnya.

Mentan Amran menegaskan bahwa Indonesia saat ini telah mencapai swasembada bawang merah, sehingga masuknya produk ilegal jelas merusak harga pasar dan melemahkan petani dalam negeri.

“Kita sudah swasembada bawang merah. Tidak ada alasan barang ilegal masuk selain merusak harga petani,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi petani cabai lokal yang kerap menghadapi harga anjlok saat panen raya.

“Petani cabai kita sering mengeluh harga hancur saat panen. Jangan disakiti lagi. Mereka bekerja keras di lapangan, itu harus dilindungi,” tegasnya.

Dengan nada keras, ia menyindir praktik para penyelundup yang hanya bermodalkan modal tanpa kontribusi produksi.

“Mereka tidak turun ke sawah, tidak berkeringat, tapi merusak harga. Ini tidak adil bagi petani kita,” katanya.

Kementerian Pertanian akan terus memperkuat koordinasi lintas sektor bersama aparat penegak hukum untuk menutup celah masuknya pangan ilegal serta memastikan sistem distribusi berjalan sesuai aturan.

Mentan Amran juga kembali mengapresiasi Satgas Pangan, namun menegaskan langkah berikutnya harus menyasar aktor utama di balik jaringan.

“Saya apresiasi Satgas Pangan. Tapi ini harus dituntaskan. Bongkar aktor besarnya,” tegasnya.

“Ini bukan hanya soal hukum. Ini soal melindungi petani dan menjaga kedaulatan pangan Indonesia,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini