Jaga Harga Peternak, Mentan Amran Minta BGN Tambah Porsi Telur MBG

0
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman memberikan keterangan pers saat mengecek Gudang Bulog Romokalisari, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5).

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meminta Badan Gizi Nasional menambah porsi telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk menjaga harga telur di tingkat peternak tetap stabil.

Mentan Amran mengatakan, Program MBG kini menjadi offtaker atau penyerap utama hasil produksi petani dan peternak yang jumlahnya mencapai 160 juta orang.

“Nah harga telur, harga telur kami langsung inilah hebatnya MBG. MBG itu adalah off-taker produksi petani 160 juta. Ini menjadi off-taker,” katanya saat mengecek Gudang Bulog Romokalisari, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5).

Mentan Amran mengatakan telah meminta Kepala BGN, Dadan Hindayana untuk menambah frekuensi konsumsi telur dalam program MBG dari sebelumnya satu kali dalam seminggu menjadi dua kali dalam seminggu.

“Kami sudah minta ke Pak Kepala BGN konsumsi telur tambah yang dulu satu kali satu minggu tambah menjadi dua kali. Insyaallah satu mungkin satu minggu ke depan atau 5 hari 2 hari 3 hari langsung naik karena 60 juta orang konsumsi,” ujarnya.

Menurut Amran, program MBG menjadi motor penggerak ekonomi desa karena mampu menyerap hasil produksi petani dan peternak dalam jumlah besar. Ia menegaskan apabila terdapat penyimpangan dalam pelaksanaannya maka harus diperbaiki dan ditindak tegas.

“Jadi MBG ini jangan diganggu. Ini adalah motor penggerak ekonomi di desa. Ada salah iya itu yang kita perbaiki. Ada korupsi ditangkap, kita tangkap. Kita masukkan penjara. Dan itu komitmen Bapak Presiden,” tegasnya.

Mentan Amran Amran menilai penambahan konsumsi telur dalam MBG terbukti efektif menjaga harga telur peternak. Bahkan, apabila harga masih melemah, frekuensi konsumsi telur bisa kembali ditambah menjadi tiga kali dalam seminggu.

Ia menegaskan program MBG merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat dan bergizi. Menurutnya, program tersebut juga tidak memberikan keuntungan politik.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda  menjelaskan, anjloknya harga telur ayam ras di tingkat peternak saat ini karena produksi melimpah.

Agung  mengatakan, harga telur ayam nasional saat ini rata-rata Rp 24.500 per kilogram. Namun, di sejumlah sentra produksi, terutama di Pulau Jawa, harga tercatat lebih rendah

“Kalau di sentra produksi seperti di Jawa, itu Provinsi Jawa Timur harganya cukup rendah di angka sekitar Rp 22.500 per kilogram, kemudian diikuti dengan Jawa Tengah Rp 23 sekian, dan Jawa Barat yang agak lebih tinggi sedikit,” katanya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi mekanisme pasar, terutama akibat melimpahnya produksi telur di dalam negeri. Ia memproyeksikan produksi telur ayam nasional pada 2024 mencapai 7,3 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 6 jutaan ton sehingga masih terjadi surplus sekitar 800 ribu ton.

“Kebutuhan kita di angka sekitar 6 juta sekian, sehingga masih ada surplus kurang lebih secara nasional itu sekitar 800.000 ton surplus kita secara nasional ya, atau kurang lebih sekitar 13 persen dari kebutuhan nasional,” ujarnya.

Meski demikian, Agung menilai surplus tersebut masih relatif kecil dan tetap dapat dikendalikan. Pemerintah juga terus mendorong ekspor telur untuk membantu menyerap kelebihan produksi di dalam negeri.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga masih menghadapi tantangan terkait dengan disparitas produksi dan harga antarwilayah. Menurutnya, sejumlah daerah seperti Papua dan Maluku masih memiliki tingkat produksi telur yang rendah.

“Kita masih punya Pulau Papua yang masih di bawah 0,4 persen produksinya, Maluku juga sama,” katanya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini