Wamentan Sudaryono Genjot Produksi dan Konsumsi Susu Nasional Lewat MBG

0
susu sapi segar
Produksi susu sapi segar. (Foto: Kementan)

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan pemerintah akan terus mendorong peningkatan produksi dan konsumsi susu nasional guna mendukung pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, sekaligus memperkuat industri persusuan dalam negeri.

Menurut Sudaryono, susu merupakan salah satu sumber protein berkualitas yang mudah diserap tubuh dan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan fisik maupun perkembangan kecerdasan generasi muda.

“Susu ini adalah kandungan proteinnya tinggi diserap tubuh dengan baik dan salah satu sumber protein yang bagus untuk tumbuh kembang baik fisik maupun kecerdasan otak bagi generasi kita,” kata Sudaryono saat ditemui di Ragunan, Jakarta Selatan, Sabtu (6/6).

Ia mengatakan pemerintah saat ini fokus pada dua langkah utama, yakni meningkatkan produksi susu dalam negeri melalui penambahan populasi sapi perah dan mendorong peningkatan konsumsi susu masyarakat, terutama pada anak-anak.

“Nah kita ingin tingkatkan dua hal. Yang pertama adalah bagaimana meningkatkan produksi susu dengan lebih banyak sapi perah yang didatangkan. Yang kedua adalah meningkatkan konsumsi susu per kapita untuk anak-anak kita khususnya,” ujarnya.

Sudaryono mengatakan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan menjadi salah satu instrumen untuk mendorong peningkatan konsumsi susu nasional. Selain membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak, program tersebut juga berpotensi meningkatkan serapan susu segar produksi dalam negeri.

Menurutnya, manfaat konsumsi susu tidak dapat dirasakan secara instan, namun memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.

“Minum susu hari ini pinternya tidak langsung besok, tetapi bertahap. Lama-lama tambah pintar, tambah kuat dan seterusnya. Jadi memang protein, protein, protein,” katanya.

Sudaryono menambahkan, upaya meningkatkan konsumsi susu merupakan bagian dari investasi jangka panjang dalam mencetak generasi yang lebih sehat, kuat, dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Agung Suganda mengatakan konsumsi susu masyarakat Indonesia saat ini masih sekitar 17,76 liter per kapita per tahun, lebih rendah dibandingkan sejumlah negara ASEAN lainnya.

Di sisi lain, populasi sapi perah nasional baru mencapai sekitar 540 ribu ekor. Sebanyak 85 persen di antaranya dipelihara oleh peternak rakyat dengan kepemilikan kurang dari 50 ekor, 10 persen oleh peternak komersial menengah dengan populasi 50 hingga 1.000 ekor, dan hanya 5 persen yang dikelola korporasi atau mega farm dengan populasi di atas 1.000 ekor.

Agung menjelaskan, dengan rata-rata produksi susu sekitar 16 liter per ekor per hari, produksi susu segar nasional saat ini baru mencapai sekitar 1 juta ton per tahun atau hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan dalam negeri.

“Selebihnya kita masih impor sekitar 3,7 juta ton setara susu segar dengan nilai sekitar Rp 25 triliun per tahun,” kata Agung.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya peluang pengembangan industri persusuan nasional, baik melalui peningkatan populasi sapi perah, produktivitas ternak, maupun investasi pada usaha peternakan dan pengolahan susu dalam negeri.

“Data tersebut menunjukkan bahwa kita menghadapi tantangan sekaligus peluang dalam pengembangan sektor persusuan nasional,” pungkasnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini