Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, hanya 3.619 ton beras yang mengalami kerusakan dari total cadangan beras nasional yang mencapai 5,3 juta ton. Selebihnya, stok beras pemerintah dipastikan tetap dalam kondisi baik dan layak disalurkan.
Penegasan tersebut disampaikan Mentan Amran dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Rabu (10/6), menanggapi perhatian Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto terkait perlunya percepatan perputaran stok beras agar tidak terjadi penurunan kualitas, terutama untuk beras yang telah tersimpan lebih dari satu tahun.
“Di Jawa Timur itu stok totalnya 1,4 juta ton dan 400 ribu ton umurnya lebih dari satu tahun (di gudang). Jadi tolong diperhatikan lagi stoknya. Supaya berputarnya lebih cepat lagi,” kata Titiek Soeharto.
Menanggapi itu, Mentan Amran mengatakan pemerintah memilih terbuka terkait kondisi stok beras dan langsung mengambil langkah korektif jika ditemukan kualitas yang menurun di lapangan. Dia juga telah meminta Perum Bulog untuk melaporkan kondisi sebenarnya.
“Kami sudah panggil Dirutnya. ‘Ini jangan bapak yang berbuat, masalahnya ke saya. Rincikan saya berapa yang rusak, you harus terbuka.’ Yang rusak 3.619 ton itu nol koma nol sekian persen. Nah kemudian yang ini perlu perhatian khusus, ini ada dua kemungkinan, ini masih bisa diolah diperbaiki 93.488 ton. Ini masih diperbaiki sebagian besar,” terang Mentan Amran.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam rapat, total stok beras nasional saat ini mencapai 5.305.594 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 93.488 ton atau 1,76 persen masuk kategori beras turun mutu yang masih dapat direproses sehingga kualitasnya kembali layak untuk didistribusikan.
Pemerintah juga memastikan tidak terdapat beras kategori B atau beras turun mutu yang harus dilepas (disposal). Sementara beras kategori C yang mengalami kerusakan akibat bencana seperti banjir dan longsor, terutama banjir di Aceh, tercatat sebanyak 3.619 ton.
Mentan Amran mengatakan sebagian kecil beras yang tidak dapat diperbaiki masih dapat dimanfaatkan menjadi tepung beras sehingga tetap memiliki nilai ekonomi. “Akan tetapi kalau tidak, mungkin 10 persen atau sekitar 9 ribu ton (dari 93.488 ton) bisa dijadikan tepung dan harganya masih bagus. Jadi kita harus jujur dan terbuka,” ujarnya.
Dia mengungkapkan pihaknya juga menemukan beberapa kasus beras dengan kualitas kurang baik saat melakukan kunjungan lapangan.
“Kami temukan seperti yang Ibu katakan tadi di daerah, kami kunjungan, langsung kami telepon Bulog, diganti hari itu juga, karena kualitas berasnya kurang bagus. Tetapi jumlahnya kecil. Kami minta Bulog waspada dari sekarang,” kata Mentan Amran.
Dia menegaskan, kondisi saat ini justru menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan produksi dan cadangan beras nasional. Menurutnya, persoalan kualitas pada sebagian kecil stok tidak dapat dilepaskan dari besarnya volume beras yang berhasil diamankan pemerintah.
“Kita sudah setengah mati kerja. Alhamdulillah ada yang rusak karena berasnya ada. Kalau dulu tidak rusak karena berasnya yang kurang, sehingga beras impor masuk,” ujar Mentan Amran.
Untuk memperkuat sistem penyimpanan, saat ini tengah dibangun 100 titik gudang modern senilai Rp 5 triliun yang telah mendapatkan persetujuan. Gudang tersebut dirancang mampu menjaga kualitas beras hingga dua sampai tiga tahun.
“Kita bangun gudang 100 titik nilainya Rp5 triliun, sudah disetujui dan sedang dibangun. Gudangnya, beras bisa bertahan dua tahun, bahkan tiga tahun. Kalau seperti di China bisa lebih lama lagi. Jadi penyimpanannya jauh lebih bagus dari sekarang. Ini cukup modern,” pungkas Mentan Amran.






























