Dosen AKPY-STIPER Ubah Limbah Kelapa Sawit Jadi Media Tanam Jamur Bernilai Ekonomi, Dorong Pertanian Berkelanjutan

0

Limbah kelapa sawit yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa produksi perkebunan ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber ekonomi baru.

Melalui riset yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, dosen Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY-STIPER), Julsento HP, S.P., M.Sc., berhasil membuktikan bahwa biomassa limbah kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai media tanam berbagai jenis jamur bernilai ekonomi tinggi.

Penelitian berjudul “Efektivitas Biomassa Limbah Kelapa Sawit sebagai Media Tanam Beberapa Jenis Jamur” tersebut dilaksanakan sepanjang 2025 melalui skema Penelitian Dosen Pemula (PDP) BIMA. Riset ini menjadi salah satu inovasi yang mendukung konsep ekonomi sirkular dengan mengubah limbah perkebunan menjadi produk yang memiliki nilai tambah sekaligus ramah lingkungan.

Julsento menjelaskan, penelitian dilakukan secara kolaboratif bersama dosen Universitas Sebelas Maret (UNS), dosen AKPY-STIPER serta melibatkan mahasiswa sebagai bagian dari implementasi program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

Tim menguji tiga jenis biomassa limbah kelapa sawit, yaitu tandan kosong kelapa sawit (TKKS), pelepah, dan daun sawit sebagai bahan utama media tanam (baglog) bagi tiga komoditas jamur bernilai ekonomi, yakni jamur tiram, jamur merang, dan jamur lingzhi.

Seluruh tahapan penelitian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencacahan biomassa, penyusunan media tanam, sterilisasi, inokulasi bibit, inkubasi, pemeliharaan, hingga panen dan analisis kandungan hara serta produktivitas jamur.

Menurut Julsento, penelitian ini berangkat dari besarnya volume limbah biomassa yang dihasilkan industri kelapa sawit Indonesia. Selama ini, sebagian besar limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal kandungan lignoselulosanya sangat potensial sebagai media tumbuh jamur.

“Hasil penelitian ini membuktikan bahwa limbah kelapa sawit bukan sekadar sisa hasil perkebunan. Biomassa sawit dapat diolah menjadi media tanam jamur yang produktif sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi permasalahan lingkungan,” ujar Julsento.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis biomassa memiliki karakteristik berbeda dalam mendukung pertumbuhan jamur. Pelepah kelapa sawit menjadi media terbaik untuk budidaya jamur tiram karena mampu mempercepat kolonisasi miselium, mempercepat pembentukan tubuh buah, serta menghasilkan produktivitas panen yang lebih tinggi. Sementara itu, tandan kosong kelapa sawit memberikan hasil paling optimal untuk budidaya jamur merang dengan bobot panen dan kualitas tubuh buah yang lebih baik.

Adapun pada budidaya jamur lingzhi, media berbahan pelepah kelapa sawit menjadi satu-satunya yang mampu menghasilkan pembentukan tubuh buah secara optimal hingga akhir masa pengamatan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemilihan jenis biomassa perlu disesuaikan dengan karakter biologis masing-masing jenis jamur agar hasil budidaya semakin maksimal.

Selain menghasilkan temuan ilmiah, penelitian ini juga melahirkan sejumlah luaran penting. Salah satunya adalah artikel ilmiah berjudul “The Potential of Palm Oil Waste Biomass as a Mushroom Growing Medium: A Preliminary Study of Nutrient Content” yang telah memperoleh Letter of Acceptance (LoA) pada jurnal ilmiah terakreditasi SINTA.

Tim peneliti juga tengah menyusun buku berjudul “Berkah Jamur dari Limbah Sawit” sebagai referensi bagi akademisi, mahasiswa, pelaku usaha, maupun praktisi budidaya jamur. Keterlibatan mahasiswa dalam seluruh proses penelitian juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi riset di bidang perkebunan.

Meski menghadapi tantangan berupa variasi kualitas biomassa, risiko kontaminasi saat inokulasi, serta perbedaan kemampuan adaptasi setiap jenis jamur, tim peneliti menjadikan berbagai kendala tersebut sebagai dasar untuk menyusun penelitian lanjutan.

Ke depan, Julsento bersama tim AKPY akan melanjutkan roadmap penelitian melalui optimasi formulasi baglog, uji coba skala lapangan, analisis kelayakan usaha, hingga pengembangan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Langkah ini diharapkan mampu menghasilkan teknologi yang siap diterapkan masyarakat dan industri, sehingga limbah kelapa sawit tidak lagi dipandang sebagai masalah lingkungan, melainkan sebagai sumber ekonomi baru yang mendukung pembangunan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini