Ketika Pendidikan Tinggi Tak Lagi Jadi Mimpi bagi Anak Perempuan Orang Rimba

0

JAMBI — Melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dulu menjadi sesuatu yang sulit dibayangkan bagi sebagian anak Orang Rimba, terutama perempuan yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan dan kesempatan untuk menentukan pilihan masa depan. Kini, kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi mulai terbuka bagi generasi muda Orang Rimba.

Desi dan Kurnia adalah dua perempuan dari komunitas Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) di Jambi yang menempuh pendidikan tinggi di Kota Jambi. Desi masih berkuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jambi, sementara Kurnia telah menyelesaikan pendidikan di Politeknik Kesehatan Jambi. Keduanya mendapat dukungan pendidikan dari PT Sari Aditya Loka (SAL).

“Saya bangga menjadi anak Rimba. Saya ingin terus sekolah supaya bisa meraih cita-cita, membanggakan orang tua, dan menjadi contoh bagi adik-adik saya. Saya juga ingin suatu hari kembali dan membantu anak-anak di komunitas saya belajar,” kata Desi.

Desi merupakan anak sulung dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar. Kondisi itu menjadi salah satu alasan Desi bertekad melanjutkan pendidikan, sekaligus menjadi contoh bagi adik-adiknya.

Bagi Desi, pendidikan bukan hanya soal sekolah. Ia melihat masih ada anak perempuan di komunitasnya yang memilih menikah daripada melanjutkan pendidikan. Karena itu, kesempatan mengenyam pendidikan lebih tinggi menjadi jalan yang ingin ia perjuangkan.
Keputusan untuk merantau ke Kota Jambi juga tidak mudah. Desi harus meninggalkan keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Namun, keinginan untuk terus sekolah membuatnya bertahan hingga kini.

Kisah Kurnia tidak jauh berbeda. Perempuan 20 tahun asal Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Kabupaten Sarolangun, Jambi, itu sejak sekolah dasar telah bercita-cita menjadi tenaga kesehatan.

Ketika menyampaikan keinginannya melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan, Kurnia sempat menghadapi keraguan dari orang-orang di sekitarnya. Kekhawatiran mengenai biaya dan kehidupan di Kota Jambi juga sempat membuatnya bimbang.

“Ketika saya tahu bisa melanjutkan pendidikan di bidang kesehatan, saya sangat bersyukur. Awalnya saya juga sempat ragu karena harus tinggal jauh dari keluarga dan memikirkan biaya hidup. Tapi saya ingin terus mencoba karena saya ingin mewujudkan cita-cita sejak kecil,” kata Kurnia.

Perjalanan Kurnia di bangku kuliah kini telah berakhir. Ia menjalani sidang tugas akhir pada Juni lalu dan dinyatakan lulus. Sambil menunggu prosesi wisuda yang direncanakan pada Oktober, Kurnia mulai menatap langkah berikutnya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi tenaga kesehatan.

Kisah Desi dan Kurnia menunjukkan bahwa akses pendidikan bagi generasi Orang Rimba mulai bergerak lebih jauh. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana membuat anak-anak mengenal sekolah, tetapi juga bagaimana membuka jalan agar mereka dapat bertahan dan melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.

Perjalanan itu tidak berlangsung sendiri. Di balik keberanian Desi dan Kurnia meninggalkan komunitas dan menempuh pendidikan di Kota Jambi, ada dukungan yang membantu keduanya menghadapi berbagai kebutuhan selama berada di perantauan.
Dukungan tersebut salah satunya datang dari PT Sari Aditya Loka (SAL) di Jambi, yang menjalankan pendampingan pendidikan bagi komunitas Orang Rimba melalui pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik sosial dan budaya mereka.

Hingga 2026, PT SAL telah mendukung lima anak Orang Rimba untuk menempuh pendidikan tinggi, terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan. Satu anak lainnya telah menyelesaikan pendidikan dan bergabung dalam kepolisian.

Desi dan Kurnia menjadi dua perempuan yang mendapat dukungan tersebut. Bagi keduanya, dukungan itu membantu mereka menjalani pendidikan jauh dari keluarga, termasuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan kehidupan selama berada di perantauan.

Pendampingan pendidikan PT SAL juga dilakukan melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Sepanjang 2025, sebanyak 421 anak Orang Rimba dari tujuh rombongan dan 14 sub-rombong mendapat akses pendidikan melalui 13 PKBM, dukungan 16 tenaga pengajar, serta beasiswa untuk jenjang PAUD hingga perguruan tinggi.

Bagi PT SAL, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dasar membaca dan menulis, tetapi juga membuka kesempatan bagi generasi muda Orang Rimba memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan pilihan masa depan yang lebih luas. Pendekatan tersebut mempertimbangkan karakteristik sosial dan budaya masyarakat Orang Rimba agar akses pendidikan dapat berlanjut hingga jenjang yang lebih tinggi.

Desi dan Kurnia kini berada di tahap yang berbeda. Kurnia telah menyelesaikan pendidikan tingginya dan bersiap memasuki dunia kerja, sementara Desi masih melanjutkan perkuliahan dengan cita-cita menjadi pendidik dan kembali berkontribusi melalui pendidikan bagi anak-anak di komunitasnya.

Bagi keduanya, pendidikan bukan sekadar jalan menuju gelar. Dari kampung halaman ke ruang kuliah di Kota Jambi, perjalanan Desi dan Kurnia menunjukkan bahwa ketika akses pendidikan terbuka, anak perempuan Orang Rimba memiliki ruang yang lebih luas untuk menentukan masa depannya sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini