Jogja Coffee Week Makin Mendunia, 197 Booth Ramaikan Pameran Kopi di Yogyakarta

0

YOGYAKARTA — Jogja Coffee Week (JCW) kembali digelar dengan skala yang lebih besar. Memasuki penyelenggaraan keenam, pameran kopi yang berlangsung di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, 4–6 September 2026, tidak lagi sekadar menjadi ajang bertemunya pelaku usaha kopi lokal.

JCW 2026 berkembang menjadi ruang pertemuan ekosistem kopi dari hulu hingga hilir, sekaligus membuka koneksi yang lebih luas dengan pasar internasional. Pameran tahun ini diikuti ratusan peserta dan menghadirkan keterlibatan pelaku industri kopi dari sejumlah negara.

Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Hermawan mengatakan Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan dukungan terhadap pelaksanaan JCW karena kegiatan tersebut membawa nama Yogyakarta sekaligus mendorong perkembangan ekonomi kreatif dan industri kopi.

“Karena ini membawa nama Jogja, otomatis kami dari Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan support dan hadir,” ujar Wawan seusai menghadiri pembukaan JCW 2026 di JEC, Jumat (4/9/2026).

Menurut Wawan, perkembangan JCW terlihat dari semakin besarnya jumlah peserta. Pada penyelenggaraan tahun ini terdapat sekitar 197 booth yang diisi berbagai pelaku usaha dan merek dari dalam maupun luar negeri.

Keterlibatan peserta internasional, kata dia, menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan yang digelar di Yogyakarta memiliki daya tarik yang semakin luas. Selain Jepang, terdapat warga dari sejumlah negara lain yang turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Luar biasa, ada beberapa stan dari luar negeri, khususnya dari Jepang. Kemudian ada juga warga dari beberapa negara, seperti Korea, Australia, dan negara lainnya. Saya melihat ada sekitar 19 negara yang terlibat,” katanya.

Pertumbuhan tersebut sekaligus menunjukkan semakin kuatnya posisi JCW sebagai ruang promosi bagi industri kopi. Pemerintah Kota Yogyakarta berharap kegiatan tersebut terus berkembang dan memberikan dampak yang lebih besar terhadap pelaku usaha serta perekonomian daerah.

Perjalanan JCW hingga mencapai skala tersebut tidak berlangsung singkat. Inisiator Jogja Coffee Week, Rahadi Saptata Abra, mengatakan kegiatan itu bermula pada 2019 dengan konsep sederhana berupa pameran produk kopi dari Yogyakarta dan sekitarnya.

Saat pertama kali digelar, jumlah peserta hanya sekitar 20-an stan dengan ukuran masing-masing 2×2 meter. Namun, pandemi Covid-19 membuat kegiatan tersebut harus berhenti selama dua tahun, yakni pada 2020 dan 2021.

JCW kemudian kembali dibangun pada 2022. Menurut Abra, proses membangkitkan kembali pameran setelah vakum bukan perkara mudah karena para pelaku usaha masih menunggu dan meragukan keberlanjutan kegiatan.

“Kami seperti balik membangun pameran ini dari skala kecil pada 2022, tapi kami beranikan diri tidak di selasar lagi, tapi menyewa satu hall dulu,” ujar Abra.

Langkah tersebut dilakukan secara bertahap hingga akhirnya JCW mampu berkembang. Selama tiga tahun, pameran menggunakan satu hall sampai penyelenggaraan 2024. Setahun kemudian, penyelenggara mulai berani menggunakan gedung pameran utama JEC secara lebih luas.

Kini, pada penyelenggaraan keenam, JCW telah menggunakan dua dari tiga hall yang tersedia di JEC.

“Kami tak menyangka, pameran yang awalnya hanya digelar di selasar itu sekarang sudah menempati dua dari tiga hall Gedung JEC karena skalanya membesar,” kata Abra.

Menurut Abra, pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari kepercayaan peserta dan pengunjung. Konsistensi penyelenggaraan menjadi faktor penting untuk membangun keyakinan bahwa JCW merupakan agenda yang serius dan berkelanjutan.

Strategi promosi juga menjadi bagian penting. Penyelenggara tidak hanya mengandalkan media sosial, tetapi menggabungkannya dengan promosi luar ruang melalui baliho, spanduk, hingga rontek di sejumlah titik strategis.

Promosi tersebut dinilai mampu membangun kepercayaan publik sekaligus menarik perhatian sponsor.

“Begitu orang lihat motor, lihat mobil, lihat ada baliho besar di pinggir ring road ukuran 6×12 meter, ada unsur trust,” ujar Abra.

Dampak dari konsistensi itu mulai terlihat dari semakin beragamnya peserta. Abra mencatat jumlah pelaku usaha roastery yang menjual biji kopi meningkat sekitar 35 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan jumlah mencapai 50–60 roastery dari berbagai daerah di Indonesia.

Peserta bahkan datang dari wilayah yang jauh. Salah satunya berasal dari Papua Pegunungan yang membawa kopi khas daerah tersebut. Dari luar negeri, terdapat 13 booth dari Jepang yang turut meramaikan JCW 2026.

Pertumbuhan JCW juga terlihat dari semakin beragamnya agenda kompetisi. Pegiat kompetisi kopi Ferry Elhas mengatakan penyelenggara menambahkan dua kategori baru tahun ini, yakni Latte Art Competition dan Mixology Competition.

Penambahan kategori tersebut dimaksudkan untuk memperluas keterlibatan pelaku industri kopi.

“Setiap kategori dirancang untuk merangkul berbagai lini ekosistem kopi dari hulu hingga hilir,” kata Ferry.

Pada sektor hulu, Green Bean Competition menyasar petani dan prosesor dengan target sedikitnya 150 peserta. Kompetisi tersebut mencakup penggiat kopi Robusta, Arabika, Liberika, serta turunannya.

Sementara di sisi hilir, Brewers Competition dan Cup Tasters menjadi panggung bagi barista profesional dan pencinta kopi dari berbagai daerah. Peserta yang telah terdaftar antara lain berasal dari Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Kategori Mixology juga menjadi salah satu daya tarik baru. Coffee Mixology menguji kreativitas peserta dalam meracik minuman berbahan kopi dan turunannya. Sementara Tea Mixology membuka ruang eksplorasi terhadap minuman berbahan dasar teh.

Tidak hanya berskala nasional, JCW juga mulai memperkuat jejaring internasional. Keterlibatan ASEAN Coffee Federation (ACF) menjadi salah satu agenda internasional dalam penyelenggaraan JCW keenam.

Kolaborasi tersebut berpeluang dilanjutkan pada JCW ketujuh yang direncanakan berlangsung pada 5–7 September 2027, khususnya dalam pengembangan kompetisi kopi.

Bagi Abra, perkembangan JCW tidak berhenti pada jumlah booth atau besarnya area pameran. Ia ingin kegiatan tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan, jaringan bisnis, dan perkembangan standar industri kopi nasional.

“Mimpi kami Jogja Coffee Week menjadi barometer industri kopi yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Harapan serupa disampaikan Wawan. Pemerintah Kota Yogyakarta berharap seluruh area JEC dapat digunakan pada penyelenggaraan berikutnya sehingga jumlah peserta berpotensi menembus lebih dari 200 booth.

“Harapannya tahun depan seluruh area JEC bisa terpakai, sehingga mungkin pesertanya bisa lebih dari 200 booth,” kata Wawan.

Ketua Umum Kadin DIY GKR Mangkubumi menilai perkembangan JCW menunjukkan bahwa industri kopi tidak hanya bertumbuh dari sisi produk, tetapi juga menciptakan ekosistem usaha yang semakin luas, mulai dari kedai kopi, barista hingga berbagai aktivitas ekonomi yang mengikutinya.

Menurutnya, pameran kopi seperti JCW memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar transaksi. Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang edukasi, pengembangan talenta barista, sekaligus sarana memperkenalkan kualitas kopi Indonesia.

“Pameran kopi ini tidak hanya pameran semata, tapi juga edukasi, menciptakan barista-barista yang baru. Tentunya juga diiringi dengan kualitas kopi,” ujar GKR Mangkubumi.

Ketua Umum Dewan Kopi Indonesia (Dekopi) Prof. Rusman Heriawan juga menyatakan dukungannya terhadap pengembangan industri kopi nasional, termasuk peningkatan nilai tambah dan penguatan kolaborasi ekosistem kopi.

Menurut Rusman, semakin banyak kegiatan kopi di berbagai daerah akan memperkuat industri kopi nasional, baik di sektor hulu maupun hilir. Dengan posisinya sebagai salah satu produsen kopi dunia, kopi Indonesia dinilai tetap memiliki daya tarik besar di pasar internasional.

Perkembangan JCW menunjukkan bagaimana sebuah pameran yang bermula dari sekitar 20 stan mampu tumbuh menjadi salah satu ruang pertemuan pelaku kopi dengan ratusan booth dan jejaring internasional.

Dari petani, prosesor, roastery, barista hingga konsumen, seluruh mata rantai tersebut kini memiliki ruang untuk bertemu di Yogyakarta. Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi pertumbuhan sekaligus memastikan JCW tidak hanya semakin besar secara ukuran, tetapi juga semakin kuat sebagai wadah pengembangan industri kopi Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini