Produksi kakao Indonesia mulai menunjukkan pemulihan, tetapi kebutuhan bahan baku industri pengolahan di dalam negeri masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari produksi petani lokal. Kondisi tersebut tercermin dari masih tingginya impor biji kakao yang mencapai sekitar 192 ribu ton pada 2025.
Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) Jeffrey Haribowo mengatakan produksi kakao Indonesia berdasarkan data musim terakhir International Cocoa Organization (ICCO), yang dikonfirmasi dengan data perdagangan Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS), telah mencapai sekitar 200 ribu ton.
Menurutnya, angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan produksi kakao dalam dua tahun terakhir. Namun, kenaikan produksi tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan kakao nasional.
“Memang untuk mengisi kekurangan produksi biji kakao dengan kapasitas grinding ini kita masih melakukan impor. Jadi sampai saat ini kita Indonesia memang masih banyak melakukan impor biji kakao untuk memenuhi keperluan pengolahan industri di Indonesia,” kata Jeffrey pada webinar Tabloid Sinar Tani, Jakarta, Rabu (9/9).
Ketergantungan terhadap bahan baku impor terjadi di tengah besarnya kapasitas industri pengolahan kakao nasional. Jeffrey menyebut saat ini terdapat 11 industri pengolahan kakao besar di Indonesia dengan total kapasitas sekitar 700 ribu ton.
Namun, kapasitas tersebut baru terutilisasi sekitar 51 persen. Menurut Jeffrey, kondisi ini menunjukkan masih terbukanya ruang untuk meningkatkan pengolahan kakao di dalam negeri, terutama dengan memperkuat pasokan bahan baku domestik.
“Bagaimana kita bisa mengoptimalkan bahan baku domestik, bagaimana kita bisa mengurangi impor dan meningkatkan domestik supaya gap antara produksi dengan impor itu bisa terus mengecil,” ujarnya.
Persoalan bahan baku menjadi tantangan penting karena posisi Indonesia di industri kakao global tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi produksi di tingkat hulu. Jeffrey mengatakan Indonesia yang pada 2010 masih berada di posisi ketiga produsen kakao dunia, kini turun menjadi produsen kakao peringkat ketujuh.
Di sisi lain, kapasitas pengolahan kakao Indonesia justru berada di posisi keempat dunia. Kondisi tersebut membuat penguatan produksi di tingkat petani menjadi semakin penting agar kapasitas industri yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.
Jeffrey menilai peluang tersebut semakin besar karena permintaan kakao dan produk cokelat dunia masih terus tumbuh sekitar 2 persen hingga 3 persen setiap tahun, baik untuk konsumsi maupun sebagai bahan baku industri pangan lainnya.
“Kenyataannya permintaan kakao dan coklat dunia itu memang secara terus menerus setiap tahun mengalami peningkatan 2 hingga 3 persen,” katanya.
Selain memperkuat produksi, peningkatan pasokan kakao domestik juga dinilai penting untuk mendorong hilirisasi. Dia menyebut sekitar 90 persen produk kakao primer Indonesia saat ini berorientasi ekspor, terutama dalam bentuk produk olahan seperti cocoa butter dan cocoa powder.
Sementara itu, ekspor biji kakao relatif kecil. Pada 2025, ekspor biji kakao Indonesia hanya sekitar 8 ribu ton. Sebaliknya, impor biji kakao pada tahun yang sama mencapai sekitar 192 ribu ton.
“Jadi memang biji kakao ini saat ini memang dioptimalkan untuk serapan dalam negeri,” ujar Jeffrey.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ASKINDO kini memperluas perhatian dari sektor hilir ke hulu melalui integrasi dengan Cocoa Sustainability Partnership (CSP). ASKINDO selama ini lebih banyak bergerak pada sektor industri dan hilir, sedangkan CSP memiliki fokus lebih besar pada pengembangan sektor hulu kakao.
Jeffrey mengatakan integrasi tersebut dilakukan karena industri membutuhkan pasokan bahan baku yang lebih kuat dan berkelanjutan. Penguatan sektor hulu juga dinilai harus dimulai dari peningkatan produktivitas perkebunan rakyat dan penyediaan benih berkualitas.
“Industri sangat membutuhkan kemandirian bahan baku. Industri bisa bertahan jika ada bahan baku yang baik,” katanya.
Jeffrey menambahkan, sekitar 99 persen perkebunan kakao Indonesia dikelola oleh pekebun rakyat. Karena itu, peningkatan produktivitas petani menjadi salah satu kunci untuk memperkecil kesenjangan antara kebutuhan industri dan produksi domestik.
Menurutnya, hampir seluruh wilayah Indonesia memiliki potensi pengembangan kakao karena kondisi agroklimat yang mendukung. Selain sentra yang selama ini berkembang di Sulawesi dan Sumatera, pengembangan kakao juga mulai dilirik di wilayah lain, termasuk pemanfaatan lahan bekas tambang untuk restorasi dan pengembangan perkebunan kakao.
Penguatan hulu tersebut diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap impor, tetapi juga meningkatkan pemanfaatan kapasitas industri pengolahan dan memperbesar nilai tambah kakao di dalam negeri.






























