Ekspor Turun Tajam, Stok Sawit Indonesia Naik Menjadi 3,04 Juta Ton

0

JAKARTA – Ekspor produk kelapa sawit Indonesia mengalami penurunan cukup tajam pada Mei 2026. Di saat yang sama, produksi dan konsumsi domestik juga turun dibandingkan bulan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat stok sawit nasional meningkat menjadi 3,042 juta ton pada akhir Mei.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengatakan, meski terjadi pelemahan secara bulanan, kinerja industri sawit sepanjang Januari-Mei 2026 masih menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Secara kumulatif Januari-Mei 2026, produksi, konsumsi, dan ekspor industri kelapa sawit Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun 2025,” kata Mukti Sardjono dalam keterangan GAPKI, Selasa (14/7/2026).

GAPKI mencatat total produksi crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) pada Mei 2026 mencapai 4,552 juta ton. Angka tersebut turun 7,16 persen dibandingkan April yang mencapai 4,903 juta ton.

Produksi CPO pada Mei tercatat 4,165 juta ton, turun 7,01 persen dari 4,479 juta ton pada April. Sementara produksi PKO turun menjadi 387 ribu ton dari 424 ribu ton.

Namun, secara kumulatif produksi masih tumbuh kuat. Sepanjang Januari-Mei 2026, total produksi CPO dan PKO mencapai 25,013 juta ton, meningkat 10,68 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 22,600 juta ton.

Dari sisi konsumsi domestik, GAPKI mencatat penurunan pada Mei. Total konsumsi dalam negeri mencapai 2,078 juta ton, turun 2,98 persen dibandingkan April sebesar 2,141 juta ton.

Penurunan terutama terjadi pada penyerapan untuk biodiesel. Konsumsi minyak sawit untuk biodiesel pada Mei mencapai 1,035 juta ton, turun dari 1,137 juta ton pada April.

Sebaliknya, konsumsi sektor pangan dan oleokimia justru meningkat. Konsumsi pangan naik menjadi 856 ribu ton dari 831 ribu ton, sedangkan konsumsi oleokimia meningkat menjadi 187 ribu ton dari 173 ribu ton.

Secara kumulatif Januari-Mei 2026, konsumsi domestik mencapai 10,743 juta ton, naik 5,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 10,200 juta ton.

Tekanan paling besar terjadi pada ekspor. Total ekspor produk sawit pada Mei hanya mencapai 1,996 juta ton, anjlok 28,14 persen dibandingkan April sebesar 2,777 juta ton.

Penurunan terjadi pada hampir seluruh kelompok produk. Ekspor olahan minyak sawit turun 30,26 persen menjadi 1,423 juta ton dari 2,041 juta ton. Ekspor CPO bahkan merosot 79,7 persen, dari 153 ribu ton menjadi hanya 31 ribu ton.

Ekspor olahan minyak inti sawit juga turun 43,4 persen menjadi 55 ribu ton dari sebelumnya 97 ribu ton.

Mukti mengatakan penurunan ekspor pada Mei turut berdampak terhadap nilai perdagangan produk sawit Indonesia.

“Nilai ekspor produk sawit pada Mei 2026 mencapai US$2,49 miliar, turun dari US$3,38 miliar pada April atau sebesar 26,3 persen,” ujarnya.

Selain volume ekspor yang turun, harga CPO juga mengalami koreksi. Rata-rata harga CPO CIF Rotterdam pada Mei tercatat US$1.453 per ton, lebih rendah 7,2 persen dibandingkan rata-rata April sebesar US$1.566 per ton.

Meski demikian, kinerja ekspor secara kumulatif masih positif. Total ekspor produk sawit Januari-Mei 2026 mencapai 13,320 juta ton, naik 10,26 persen dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 12,080 juta ton.

Nilai ekspor juga meningkat 13,82 persen menjadi US$15,526 miliar dari US$13,641 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan tersebut antara lain ditopang oleh harga CPO yang lebih tinggi.

Rata-rata harga CPO CIF Rotterdam selama Januari-Mei 2026 mencapai US$1.417 per ton, meningkat dibandingkan rata-rata periode yang sama 2025 sebesar US$1.186 per ton.

Berdasarkan negara tujuan, penurunan ekspor pada Mei terjadi di sejumlah pasar utama. Ekspor ke China turun 30 persen atau sekitar 164 ribu ton, India turun 60 persen atau 124 ribu ton, dan Afrika turun 36 persen atau 140 ribu ton.

Ekspor ke Amerika Serikat turun 37 persen menjadi 78 ribu ton, Malaysia turun 36 persen menjadi 49 ribu ton, sedangkan Uni Eropa turun 5 persen atau sekitar 26 ribu ton.

Sebaliknya, ekspor ke Rusia meningkat signifikan sebesar 216 persen atau sekitar 86 ribu ton.

Secara kumulatif Januari-Mei 2026, ekspor ke China masih mencatat pertumbuhan 46 persen dibandingkan periode yang sama 2025. Ekspor ke India meningkat 3 persen, Afrika naik 14 persen, dan Uni Eropa tumbuh 3 persen. Sementara ekspor ke Amerika Serikat turun 8 persen.

Meningkatnya stok pada akhir Mei tidak terlepas dari selisih antara pasokan dan penyerapan. Dengan stok awal tahun sebesar 2,068 juta ton, produksi Januari-Mei 25,013 juta ton, konsumsi domestik 10,743 juta ton, ekspor 13,320 juta ton, serta impor 24 ribu ton, stok akhir Mei tercatat 3,042 juta ton.

“Dengan perkembangan produksi, konsumsi dan ekspor tersebut, stok akhir Mei 2026 tercatat sebesar 3,042 juta ton,” kata Mukti.

Menurut data GAPKI, kondisi tersebut menunjukkan bahwa secara kumulatif industri sawit Indonesia masih mengalami pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, perkembangan ekspor dan penyerapan domestik pada bulan-bulan berikutnya tetap akan menjadi faktor penting terhadap keseimbangan pasokan dan stok sawit nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini