BENGKULU — Potensi produksi sawit rakyat di Bengkulu masih terbuka lebar. Namun, peningkatan produktivitas tidak cukup hanya dengan bibit unggul dan pemupukan. Manajemen panen menjadi salah satu titik kritis yang menentukan seberapa besar potensi kebun dapat diwujudkan.
Hal tersebut menjadi fokus Pelatihan Panen dan Pascapanen Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 yang diikuti 151 pekebun dari Kabupaten Bengkulu Utara dan Bengkulu Tengah, 28 September–2 Oktober 2026.
Pelatihan ini diselenggarakan Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan pekebun dalam menerapkan praktik budidaya yang baik dan meningkatkan produktivitas hingga minimal 24 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun. Dari 151 peserta, sebanyak 112 pekebun berasal dari Bengkulu Utara dan 39 pekebun dari Bengkulu Tengah.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, mengatakan luas areal sawit Bengkulu merupakan potensi besar yang perlu diikuti peningkatan produktivitas.
“Dari luas perkebunan sawit yang ada di Provinsi Bengkulu lebih dari 400.000 hektare. Sekitar 100.000 hektare berada di Kabupaten Bengkulu Utara dan sekitar 45.000 hektare berada di Kabupaten Bengkulu Tengah,” ujarnya.
Menurut Sri Herlin, luas areal belum otomatis menghasilkan produksi tinggi. Perbaikan teknik budidaya, panen dan pascapanen diperlukan untuk mengoptimalkan kebun yang sudah ada.
Rotasi Panen Masih Jadi Tantangan
Praktisi Kebun AKPY, Ir. Tri Haryadi, mengatakan target 24 ton TBS per hektare per tahun merupakan bagian dari upaya mendorong pekebun “naik kelas” melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP).
Dengan rendemen 24–25 persen, produktivitas tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar enam ton CPO per hektare per tahun.
Namun, menurut Tri, pencapaian target tidak cukup mengandalkan bibit unggul. Kualitas SDM, pemupukan, teknik budidaya dan terutama manajemen panen turut menentukan hasil.
Sebagian pekebun telah menggunakan bibit unggul dan mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Tantangannya adalah memastikan potensi tanaman tersebut didukung tata kelola kebun sesuai GAP.
Salah satu yang perlu dibenahi adalah rotasi panen. Tri menyebut masih ada pekebun yang melakukan panen dua kali dalam sebulan.
“Organisasi panen harus disiapkan, termasuk seksi panennya dan rotasinya. Selama ini petani biasanya panen dua kali sebulan. Kita harapkan bisa menuju tiga sampai empat kali dalam sebulan,” jelasnya.
Menurut Tri, peningkatan frekuensi panen harus disertai organisasi kerja yang jelas, termasuk pembagian seksi dan jadwal. Dengan begitu, buah matang dapat dipanen tepat waktu dan kehilangan hasil dapat ditekan.
Ketepatan menentukan buah matang juga menjadi perhatian. Salah satu indikatornya adalah adanya brondolan alami.
Panen Tepat, Kualitas Terjaga
Manajemen panen tidak hanya berkaitan dengan seberapa sering kebun dipanen, tetapi juga bagaimana menentukan buah yang memenuhi kriteria panen dan bagaimana TBS ditangani setelah dipanen.
Panen yang terlalu jarang berisiko menyebabkan buah lewat matang, sementara panen yang tidak sesuai kriteria dapat memengaruhi kualitas dan hasil.
Tri juga mengingatkan bahwa manajemen panen harus berjalan bersama pemupukan yang tepat. Kebutuhan unsur hara, termasuk NPKMg dan boron, perlu dipenuhi sesuai kebutuhan dan rekomendasi teknis.
“Bibit unggul sudah digunakan, tetapi produksinya tidak akan tercapai kalau pupuknya tidak cukup,” ujarnya.
SDM Menentukan Hasil di Lapangan
Dr. M. Apuk Ismane, yang mewakili Ketua Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP Kementerian Pertanian, mengatakan teknologi dan sarana produksi harus diikuti kemampuan SDM dalam mengelolanya.
“Keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan sarana produksi. Teknologi dapat dibeli, mesin dapat diproduksi, infrastruktur dapat dibangun, tetapi kualitas SDM hanya dapat dibentuk melalui proses belajar yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Apuk, pelatihan harus menghasilkan perubahan nyata di kebun. Pengetahuan yang diperoleh peserta juga diharapkan diteruskan kepada kelompok tani.
Tri menambahkan, keberhasilan pelatihan bukan sekadar peserta memperoleh sertifikat, tetapi terlihat dari penerapan pengetahuan di kebun dan dampaknya terhadap produktivitas.
Target 24 ton TBS per hektare per tahun diarahkan melalui perbaikan menyeluruh, mulai dari budidaya, pemupukan, manajemen panen hingga pascapanen.
Peningkatan produktivitas juga tidak harus dilakukan dengan menambah luas lahan. Kebun yang sudah ada masih dapat dioptimalkan melalui penerapan GAP dan penguatan kemampuan SDM pekebun. Dengan manajemen panen yang lebih terencana, potensi produksi dari kebun yang sudah ada diharapkan dapat lebih optimal.






























