Nilai ekonomi tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ternyata tidak hanya ditentukan oleh harga jual di pasar. Kesalahan dalam menentukan waktu panen dan penanganan buah setelah dipotong juga dapat menggerus nilai hasil kebun.
Memanen buah terlalu muda membuat potensi rendemen minyak belum mencapai tingkat optimal. Sebaliknya, membiarkan buah yang telah matang terlalu lama di pohon dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas (ALB) yang pada akhirnya menurunkan kualitas minyak sawit.
Karena itu, ketepatan dalam menentukan tingkat kematangan buah, menjaga rotasi panen, serta memastikan TBS segera ditangani dan diangkut menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas sekaligus nilai ekonomi hasil kebun.
Hal tersebut menjadi salah satu materi utama dalam Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen bagi 115 pekebun asal Kabupaten Bengkulu Selatan במסגרת Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit (SDMP) Tahun 2026 yang berlangsung di Bengkulu.
Praktisi Kebun Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Hartono, SP, M.Si., mengatakan kualitas TBS sesungguhnya mulai ditentukan sejak buah masih berada di kebun.
Menurutnya, pekebun harus memiliki kemampuan untuk mengenali tingkat kematangan buah. Dengan demikian, keputusan untuk memanen tidak hanya didasarkan pada kebiasaan, tetapi juga mengacu pada indikator teknis yang tepat.
“Panen yang tepat adalah panen pada tingkat rendemen tertinggi dan pada tingkat asam lemak bebas yang rendah,” kata Hartono saat membuka pelatihan, Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan, munculnya brondolan merupakan salah satu indikator penting bahwa buah telah memasuki tingkat kematangan yang tepat. Pada fase tersebut, pembentukan minyak telah mencapai kondisi optimal sehingga TBS sudah layak dipanen.
Sebaliknya, menunda panen terhadap buah yang telah matang tidak otomatis membuat kandungan minyak terus meningkat. Buah yang terlalu lama dibiarkan justru berisiko mengalami peningkatan kadar ALB.
“Pekebun harus menghindari panen terlalu muda maupun terlambat,” ujarnya.
Rotasi Panen Menentukan Mutu
Selain ketepatan dalam menentukan tingkat kematangan buah, rotasi panen juga menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas TBS. Rotasi yang teratur membantu pekebun memanen buah pada tingkat kematangan yang sesuai sekaligus menghindari buah dipanen terlalu muda atau terlalu lewat matang.
Hartono mencontohkan sistem rotasi 6/7 yang umum diterapkan di perkebunan besar.
“Dengan rotasi 6/7 akan mendapatkan tingkat rendemen tertinggi, tingkat asam lemak yang rendah,” katanya.
Menurutnya, perhatian terhadap kualitas tidak boleh berhenti setelah TBS dipotong dari pohon. Brondolan harus dikumpulkan dengan baik, TBS segera diangkut, dan ketertelusuran hasil panen tetap dijaga hingga buah tiba di pabrik kelapa sawit (PKS).
Penanganan yang kurang tepat dapat menyebabkan kehilangan hasil sekaligus menurunkan mutu TBS. Artinya, nilai yang telah dibangun melalui perawatan kebun dan teknik panen yang baik dapat kembali berkurang apabila buah tidak ditangani dengan benar.
Hartono menilai peningkatan produktivitas perkebunan sawit rakyat tidak cukup hanya mengandalkan perluasan lahan, penggunaan bibit unggul, maupun pemupukan. Kualitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam mengubah potensi kebun menjadi nilai ekonomi.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depannya tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan, tetapi juga ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” katanya.
Karena itu, ia mendorong para pekebun untuk memadukan pengalaman di lapangan dengan pengetahuan dan teknologi baru.
“Petani masa depan bukan lagi petani yang hanya mengandalkan pengalaman saja, tetapi petani yang mau belajar dan mampu beradaptasi terhadap perubahan,” ujarnya.
Potensi Sawit Bengkulu Selatan Besar
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu, Sri Herlin Despita, S.Tp., M.P., mengatakan kualitas panen dan penanganan TBS memiliki kaitan langsung dengan nilai ekonomi yang diterima pekebun.
Sri Herlin yang hadir mewakili Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyebut perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu memiliki potensi besar. Luas areal perkebunan sawit di provinsi tersebut mencapai lebih dari 450.000 hektare, dengan lebih dari 300.000 hektare di antaranya merupakan perkebunan rakyat.
Khusus Kabupaten Bengkulu Selatan, daerah ini menempati posisi keempat dalam produksi dan luas areal perkebunan sawit di Provinsi Bengkulu setelah Mukomuko, Bengkulu Utara, dan Seluma.
“Bengkulu Selatan menyumbang lebih dari 80.000 ton CPO per tahun,” ujarnya.
Besarnya potensi tersebut, kata Sri Herlin, harus diikuti dengan peningkatan kemampuan dan kompetensi pekebun. Pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan diharapkan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diterapkan secara langsung di kebun masing-masing.
“Seandainya Bapak Ibu telah melaksanakan dan menerapkan hasil pelatihan ini, saya yakin produksi perkebunan kelapa sawit akan maksimal dan kualitasnya semakin baik. Dengan begitu, penghasilan Bapak Ibu juga akan semakin membaik,” katanya.
Ia berharap program pengembangan sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Kementerian Pertanian, dan Ditjenbun dapat terus dilaksanakan di Bengkulu.
“Pelatihan ini mahal. Kita sendiri di provinsi atau daerah tidak sanggup melaksanakan pelatihan seperti ini. Jadi manfaatkan sebaik-baiknya, timba ilmu sebanyak-banyaknya,” tegasnya.
Jangan Hanya Menuntut Harga
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, SP, MM, mengingatkan para pekebun bahwa upaya memperoleh harga TBS yang baik harus dibarengi dengan perbaikan kualitas hasil panen.
Menurutnya, pekebun memiliki peran penting dalam memastikan TBS yang dijual memiliki tingkat kematangan dan mutu yang baik. Salah satu langkah paling mendasar adalah memperbaiki cara dan waktu panen.
“Selama ini petani selalu menuntut harga yang terbaik. Tetapi kita juga harus memperbaiki cara panen. Setelah mengikuti pelatihan ini, mari kita lakukan cara dan waktu panen yang terbaik sehingga rendemen bisa mencapai tingkat yang tinggi,” katanya.
Ia berharap 115 peserta pelatihan tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mengelola kebun masing-masing, tetapi juga menjadi penggerak dalam menyebarkan pengetahuan tersebut kepada pekebun lainnya.
“Ilmu yang didapat hari ini jangan hanya untuk diri sendiri. Transfer juga kepada kawan-kawan yang belum sempat mengikuti pelatihan, karena pengetahuan ini sangat bermanfaat untuk pengelolaan kebun sawit,” tuturnya.
Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen tersebut berlangsung pada 8–12 September 2026 dan diikuti oleh 115 pekebun asal Bengkulu Selatan yang terbagi dalam empat kelas. Kegiatan ini diselenggarakan oleh AKPY dengan dukungan BPDP dan Ditjenbun Kementerian Pertanian.
Melalui pelatihan ini, para pekebun tidak hanya didorong untuk menghasilkan TBS dalam jumlah yang lebih banyak, tetapi juga memastikan setiap tandan yang dipanen memiliki kualitas terbaik dan mampu memberikan nilai ekonomi optimal, mulai dari kebun hingga tiba di PKS.






























