BEKASI — Sebagian mahasiswa Politeknik Kelapa Sawit (PKS) Citra Widya Edukasi sudah memasuki dunia kerja ketika sebagian rekannya masih sibuk mempersiapkan toga dan prosesi wisuda. Sebanyak 86 dari 248 lulusan tahun akademik 2025-2026 telah diterima bekerja di perusahaan perkebunan dan industri terkait sebelum resmi dikukuhkan.
Angka itu setara sekitar 34 persen dari total lulusan yang diwisuda pada Minggu, 27 September 2026, dalam Sidang Terbuka Senat di Harris Convention Hall, Bekasi, Jawa Barat. Bagi Poltek Sawit CWE, penyerapan lulusan sebelum wisuda menjadi salah satu indikator keterhubungan pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja.
Direktur Poltek Sawit CWE, Ir. St. Nugroho Kristono, M.T., mengatakan para lulusan memang disiapkan untuk memasuki industri dengan bekal keterampilan teknis sekaligus kemampuan beradaptasi. Menurut dia, kebutuhan industri perkebunan tidak berhenti pada tenaga kerja yang menguasai teori, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bekerja dan mengambil keputusan di lapangan.
“Sebanyak 86 orang atau sekitar 34 persen dari total wisudawan bahkan telah resmi diterima bekerja sebelum prosesi wisuda,” ujar Nugroho dalam sambutannya.
Para lulusan tersebut diterima di sejumlah perusahaan besar. Di antaranya Wilmar Group, PT Triputra Agro Persada, PT Ciliandry Anky Abadi, PT Sumber Tani Agung, Hartono Plantation Indonesia (HPI) Agro Group, PT Eagle High Plantations, PT Hamparan Sentosa, Widya Corporation, Julong Group Indonesia, TSH Resources Berhad, PT Surya Sawit Sejati yang merupakan bagian dari United Plantations Berhad, serta ION Network.
Sejumlah perusahaan lain, seperti Best Agro International, Citra Borneo Indah Group, dan Harmoni Group, juga masih melakukan proses rekrutmen terhadap lulusan baru tersebut.
Keterhubungan dengan industri menjadi penting bagi pendidikan vokasi perkebunan. Industri kelapa sawit menghadapi kebutuhan tenaga kerja yang tidak hanya memahami budidaya tanaman, tetapi juga pengolahan, logistik, teknologi produksi, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Poltek Sawit CWE mengembangkan pendidikan dengan orientasi tersebut. Kampus ini memosisikan diri sebagai pusat pendidikan dan pelatihan sawit terpadu atau One Stop Palm Oil Education and Training Centre.
Pada wisuda kali ini, 248 mahasiswa dikukuhkan dari lima program studi. Sebanyak 69 orang berasal dari D3 Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit, 69 orang dari D3 Pengolahan Hasil Perkebunan Kelapa Sawit, 70 orang dari D3 Manajemen Logistik, 38 orang dari D4 Teknologi Produksi Tanaman Perkebunan, dan dua orang dari D4 Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak.
Komposisi tersebut memperlihatkan spektrum kebutuhan tenaga profesional di industri perkebunan yang semakin luas. Pekerjaan di sektor sawit tidak hanya berlangsung di kebun. Rantai industrinya mencakup pengolahan hasil, distribusi, logistik, manajemen, hingga teknologi informasi.
Nugroho mengatakan kelulusan bukan akhir dari proses pembelajaran. Justru setelah meninggalkan kampus, para alumni akan menghadapi tantangan yang lebih nyata.
“Gelar akademis bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab sosial dan profesional yang lebih besar di tengah masyarakat dan dunia kerja,” kata dia.
Pesan itu menjadi relevan di tengah perubahan industri sawit yang berlangsung cepat. Efisiensi produksi, perkembangan teknologi, tuntutan produktivitas, dan kebutuhan terhadap praktik perkebunan yang berkelanjutan membuat perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang mampu beradaptasi.
Karena itu, pendidikan vokasi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah. Kemampuan teknis harus bertemu dengan karakter, etika kerja, dan ketahanan menghadapi persoalan di lapangan.
Ketua Badan Pengurus Yayasan Citra Widya Edukasi, Mayjen TNI (Purn.) Dr. E. Djanadi Bimo Prakoso, MPA., M.Sc., menekankan aspek tersebut dalam arahannya kepada para wisudawan.
Ia memperkenalkan formula kesuksesan yang bertumpu pada tiga unsur. Sebanyak 50 persen berupa pengabdian, kerja keras, integritas, kerja tim, antikorupsi, dan pembelajaran berkelanjutan. Sebanyak 30 persen berupa kepandaian yang berlandaskan etika moral Pancasila dan UUD 1945. Sedangkan 20 persen sisanya adalah kesemaptaan jasmani.
Bagi Bimo, kemampuan akademik saja tidak cukup untuk menghadapi dunia kerja. Para lulusan harus memiliki karakter yang membuat mereka mampu bertahan ketika berhadapan dengan tekanan dan tuntutan pekerjaan.
Poltek Sawit CWE merumuskan karakter tersebut melalui tiga prinsip: tanggap, tanggon, dan trengginas.
Tanggap berarti memiliki ketajaman berpikir dan mampu membaca perubahan situasi dengan cepat. Tanggon menggambarkan ketahanan mental, integritas, dan keteguhan dalam menghadapi tekanan. Sedangkan trengginas berarti memiliki ketangkasan fisik dan kecepatan dalam bertindak.
“Industri perkebunan membutuhkan orang-orang yang bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki integritas, daya tahan, dan kemampuan bekerja dalam tim,” ujar Bimo.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., juga menyoroti pentingnya kemampuan beradaptasi dengan teknologi. Ia menyampaikan sambutan secara virtual karena bertepatan dengan agenda kedinasan lain.
Lukman menyatakan proses penyelenggaraan pendidikan hingga kelulusan di Poltek Sawit CWE telah berjalan sesuai ketentuan dan standar regulasi yang berlaku. Ia juga mengapresiasi hubungan kampus dengan dunia industri yang memungkinkan lulusan memasuki dunia kerja dengan lebih cepat.
Menurut Lukman, teknologi semestinya tidak dipandang sebagai ancaman bagi tenaga kerja. Pemanfaatan teknologi justru dapat meningkatkan produktivitas apabila diikuti kemampuan manusia untuk menggunakannya secara tepat.
“Kehadiran teknologi bukanlah untuk menggantikan pekerjaan manusia, melainkan untuk melipatgandakan produktivitas,” kata Lukman.
Ia meminta para lulusan tetap menjaga nama baik almamater dan terus mengembangkan kemampuan setelah memasuki dunia kerja.
Di antara 248 lulusan itu, Ariska, perwakilan wisudawan dari Program Studi D3 Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit, mengingatkan bahwa prosesi wisuda bukanlah garis akhir.
Dalam pidatonya, Ariska menyampaikan terima kasih kepada orang tua yang terus memberikan dukungan dan doa selama masa pendidikan. Ia juga mengapresiasi dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan perusahaan mitra melalui program beasiswa.
Bagi sebagian mahasiswa, dukungan tersebut menjadi jalan untuk menyelesaikan pendidikan dan memutus keterbatasan ekonomi.
“Hari ini toga telah kita kenakan dan tali kuncir telah dipindahkan. Namun ingat, ini bukanlah garis akhir, melainkan garis awal petualangan sesungguhnya,” ujar Ariska.
Pesan itu sekaligus menandai perubahan status para mahasiswa menjadi tenaga profesional. Mereka kini menghadapi persoalan yang berbeda dari ruang kelas: mengejar produktivitas, menjaga kualitas, bekerja dalam tim, menghadapi tekanan, dan mengambil keputusan di lapangan.
Dengan 86 lulusan yang telah memasuki dunia kerja sebelum wisuda dan ratusan lainnya yang mulai membangun karier setelah dikukuhkan, Poltek Sawit CWE kembali menempatkan pendidikan vokasi sebagai jembatan antara kampus dan industri.
Tantangannya bukan sekadar berapa banyak lulusan yang memperoleh pekerjaan. Lebih jauh, bagaimana lulusan tersebut mampu bertahan, berkembang, dan memberi nilai tambah bagi industri perkebunan yang terus berubah.
Di titik itulah, toga yang dikenakan 248 lulusan pada Minggu itu menjadi penanda awal, bukan akhir perjalanan mereka sebagai tenaga profesional perkebunan.





























