
Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin), Abdul Kadir Karding menegaskan pengawasan impor harus diperketat, sementara proses ekspor perlu dipermudah agar produk Indonesia, termasuk hasil usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), bisa bersaing di pasar internasional.
Pesan itu disampaikan Karding saat membuka acara Indonesia Quarantine Expo (IQExpo) 2026 di Exhibition Hall SMESCO, Jakarta Selatan, Jumat (23/10).
Menurut Karding, tugas karantina bukan sekadar mencegah masuknya penyakit yang dapat mengancam sumber daya hayati Indonesia. Barantin juga harus memastikan pengawasan tidak justru menghambat perdagangan.
“Barang masuk tidak gampang, tapi barang keluar harus dibuat gampang,” kata Karding.
Dia menegaskan, perlindungan terhadap sumber daya hayati dan kemudahan perdagangan harus berjalan beriringan. Terlebih, UMKM membutuhkan dukungan agar bisa menembus pasar ekspor yang selama ini memiliki persyaratan cukup ketat.
Namun, kemudahan ekspor bukan berarti pelaku usaha bisa mengabaikan standar negara tujuan. Karding mengingatkan, produk yang bagus dan sehat saja belum tentu lolos jika asal-usulnya tidak jelas.
Dia mencontohkan audit otoritas karantina China atau GACC yang, menurut dia, tidak hanya memeriksa kondisi produk, tetapi juga menelusuri proses produksi hingga kesesuaian jumlah barang yang diekspor.
Karding mengilustrasikan, perusahaan yang memiliki kuota produksi lima ton tetapi mengirim enam ton berisiko ditolak karena asal-usul satu ton sisanya tidak dapat dipastikan.
“Artinya apa? Dia satu ton ini tidak jelas di mana ambilnya, di mana asal-usulnya dari mana,” ujarnya.
Persoalan ketertelusuran atau traceability ini, kata Karding, menjadi hal yang harus diperhatikan pelaku usaha jika ingin produknya diterima di pasar internasional.
Karena itu, Barantin akan mendorong pendampingan dan pelatihan bagi UMKM agar mereka memahami standar karantina yang berlaku di negara tujuan. Tanpa pemenuhan standar tersebut, upaya memperluas pasar ekspor berpotensi terhambat.
Barantin juga memiliki Klinik Ekspor untuk membantu pelaku usaha memenuhi persyaratan tersebut. Program ini, menurut Karding, perlu terhubung dengan pembinaan usaha dan dukungan pembiayaan dari kementerian serta lembaga terkait.
Dia mendorong Kementerian UMKM, Kementerian Desa, Kementerian Perdagangan, dan lembaga terkait lainnya bekerja dalam satu ekosistem agar pendampingan UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dalam pembagian peran itu, Barantin akan mendukung pemenuhan standar karantina, termasuk memberikan informasi mengenai persyaratan negara tujuan dan komoditas yang dibutuhkan pasar.
Karding menyebut integrasi data, termasuk melalui Best Trust, dapat membantu pelaku usaha memperoleh informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan pasar ekspor.
Menurut dia, UMKM tidak cukup hanya didorong meningkatkan produksi. Mereka juga harus memahami standar yang diminta pembeli agar produk yang dihasilkan benar-benar bisa masuk ke pasar tujuan.
“Protecting tidak boleh menjadi bottleneck bagi kelancaran perdagangan ekspor impor kita, termasuk UMKM,” ujarnya.
Karding menyampaikan hal tersebut dalam rangkaian peringatan 147 tahun Hari Karantina dan tiga tahun berdirinya Barantin. Melalui momentum itu, dia menegaskan komitmen karantina untuk melindungi sumber daya hayati Indonesia sekaligus mendukung produk nasional menembus pasar global.
Sementara itu, Menteri UMKM, Maman Abdurrahman mengapresiasi Barantin yang konsisten mendukung pertumbuhan dan pengembangan UMKM, khususnya dalam memperluas akses pasar ekspor.
“Saya berterima kasih kepada Badan Karantina karena yang konsisten dan serius dalam rangka men-support dan mendukung pertumbuhan UMKM di tanah air kita,” ujarnya.
Menurut Maman, Barantin tidak hanya berperan melindungi produk dalam negeri dari masuknya produk luar, tetapi juga membantu pelaku usaha melalui verifikasi, sertifikasi, dan pendampingan agar produk UMKM dapat menembus pasar internasional.
Dia menilai, jaringan kerja sama Barantin dengan lembaga karantina di berbagai negara dapat menjadi jembatan bagi produk unggulan Indonesia untuk menjangkau pasar global.
“Jaringan yang dimiliki Badan Karantina dengan badan-badan karantina negara lain bisa menjadi salah satu penghubung produk-produk unggulan dalam negeri untuk menembus pasar ekspor,” ujar Maman.
Politis dari Partai Golkar itu berharap kolaborasi tersebut terus diperkuat untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM Indonesia di pasar dunia.




























