INSTIPER Dorong Penguatan SDM Sawit

0

Yogyakarta — Industri kelapa sawit Indonesia tengah menghadapi persaingan global yang kian ketat. Di tengah tuntutan produktivitas, keberlanjutan, dan efisiensi, kebutuhan akan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan berkarakter kuat semakin mendesak.

Hal itulah yang disampaikan Direktur Pusat Sains Kelapa Sawit (PSKS) INSTIPER Yogyakarta, Dr. Purwadi, dalam Workshop Sumber Daya Manusia Industri Perkebunan Kelapa Sawit bertema “Penyiapan SDM dalam Mendukung Keberlanjutan Perkebunan Kelapa Sawit” di kampus INSTIPER, Selasa, 9 Desember 2025.

Menurut Purwadi, perguruan tinggi yang terlibat dalam pendidikan perkebunan tak bisa lagi sekadar menghasilkan lulusan dengan pengetahuan umum. Industri sawit, yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional, menuntut tenaga kerja dengan kompetensi lapangan yang matang dan kemampuan adaptasi tinggi.

“Perguruan tinggi, terutama yang fokus pada sektor perkebunan kelapa sawit, harus siap mendidik SDM yang siap kerja di kebun dengan karakter kuat,” ujarnya. “Itu yang selama ini dilakukan INSTIPER Yogyakarta, menyiapkan lulusan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga terbiasa dengan dinamika industri.”

Purwadi menyebut kebutuhan SDM berkualitas di sektor sawit bukan hal baru bagi INSTIPER. Sejak Pusat Sains Kelapa Sawit didirikan, isu SDM sudah menjadi salah satu fokus utama. Namun dinamika industri membuat lembaga pendidikan harus semakin gesit merespons perubahan.

“Terkait kebutuhan SDM di industri kelapa sawit, ini sudah menjadi kajian PSKS sejak awal berdiri,” kata Purwadi. “Seiring perkembangannya, pada 2019 lembaga ini masuk ke kajian kebijakan yang tentu tetap berkaitan erat dengan penyediaan SDM bagi industri sawit.”

Ia menekankan bahwa tantangan baru terus bermunculan—mulai dari tuntutan keberlanjutan, efisiensi rantai pasok, hingga adopsi teknologi baru di kebun dan pabrik. Tanpa SDM yang mampu membaca arah perubahan, industri akan tertinggal.

Workshop ini menjadi bagian dari upaya INSTIPER untuk memperkuat ekosistem pendidikan sawit, sekaligus menjembatani kebutuhan industri dengan kapasitas akademik. Purwadi menyebut bahwa kolaborasi dengan pelaku industri dan pemangku kebijakan menjadi kunci penting dalam memastikan pendidikan vokasional dan perguruan tinggi tetap relevan.

“Ke depan, kebutuhan SDM tidak hanya soal jumlah, tetapi kualitas dan kesiapan mereka menghadapi transformasi industri,” ujarnya.

INSTIPER, salah satu perguruan tinggi yang dikenal melahirkan tenaga ahli perkebunan, menegaskan komitmennya untuk terus memperbarui kurikulum dan model pengajaran. Tujuannya, menghasilkan lulusan yang tidak sebatas siap bekerja, tetapi mampu menjadi motor perubahan dalam industri sawit nasional.

Dengan tantangan global yang kian kompleks, Purwadi meyakini bahwa investasi pada SDM adalah langkah utama menjaga daya saing sawit Indonesia. “Industri bisa tumbuh hanya jika ditopang SDM yang kuat,” katanya. “Dan perguruan tinggi harus berada di garis depan untuk menjawab tantangan itu.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini