Kementerian Pertanian (Kementan) mengingatkan, potensi harga jagung turun, bahkan jatuh di bawah harga acuan pembelian (HAP).
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, pihaknya sudah mulai mendapat laporan dari berbagai daerah sentra bahwa harga jagung sudah turun.
Bahkan, sambung dia, beberapa daerah di luar Jawa, seperti Lampung dan Sulawesi Selatan, harga jagung di tingkat petani bisa menyentuh kisaran harga Rp 3.000 – Rp 3.500 per kilogram.
“Untuk itu, kami harapkan semua pihak bisa ikut mengawal panen raya. Kita harus bisa pastikan jagung petani kita bisa terserap dengan baik,” kata Mentan Amran dalam Raker bersama Komisi IV DPR, Jakarta, Rabu (13/3).
Melansir data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen jagung pada Maret seluas 405 ribu hektare dengan produksi 2,29 juta ton pipil kering dan April seluas 318 ribu hektare dengan produksi 1,76 juta ton.
“Kami minta panen raya ini jangan disia-siakan. Petani kita sudah bekerja keras. Kami persilahkan para produsen pakan ternak untuk segera menyerap. Kami juga meminta Bulog untuk menyerap jagung petani agar harga terjamin, jangan sampai harga anjlok karena kesejahteraan petani taruhannya,” ucap Mentan Amran.
BPS mencatat luas panen jagung Maret ini terbesar di 10 kabupaten, yaitu Tuban 42.811 hektare, Bone 39.131 hektare, Lampung Timur 35.905 hektare, Lampung Selatan 33.940 hektare, Bima 29.178 hektare, Dompu 28.895 hektaer, Sampang 28.152 hektare, Pamekasan 22.086 hektare, Lampung Tengah 19.122 hektare, dan Sumbawa 18.363 hektare.
Adapun potensi luas panen jagung pada April nanti terbesar di 10 kabupaten, yaitu Sumbawa 39.632 hektare, Bima 29.957 hektare, Gunung Kidul 26.899 hektare, Dompu 17.060 hektare, Lampung Tengah 15.202 hektare, Wonogiri 15.200 hektare, Boalemo 12.280 hektare, Lampung Timur 12.030 hektare, Jeneponto 11.997 hektare, dan Malang 9.719 hektare.
Kementan telah menyalurkan bantuan mesin panen dan dryer agar produksi jagung terjaga dan berkualitas. Diharapkan bantuan ini dapat turut menjamin agar harga jagung petani stabil.
Pada kesempatan terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Sunanto mengatakan, panen raya jagung Maret-April 2024 dipastikan hasilnya melimpah.
Namun demikian, kata Sunanto, saat ini harga jagung sudah turun jauh dari sebelumnya mencapai Rp 8.000 menjadi Rp 3.600 per kilogram dengan kadar air 25 persen.
“Penurunan harga tidak boleh di bawah Rp 4.000 karena besarnya biaya yang dikeluarkan petani. Kami harapkan pemerintah dapat mengerahkan pabrik pakan untuk menyerap jagung petani dengan harga di atas Rp 4.000,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bima, Afifudin menuturkan, harga jagung saat ini mengalami penurunan cukup signifikan, dari Rp 8.000 per kg menjadi Rp 4.300-Rp 4.400 di tingkat petani. Padahal, kata dia, belum memasuki masa panen.
“Kami sangat mengharapkan intervensi pemerintah pusat agar harga jagung tidak turun jauh. Sebab biaya yang dikeluarkan petani di Bima sangat besar dibanding daerah lainya,” kata Afifudin.
Afifudin berharap harga jagung masa panen raya ini tetap tinggi agar petani menikmati untung.
“Minimal harga Rp 6.000 masih wajar diterima petani. Oleh karena itu, kami harapkan pabrik pakan dapat diperintahkan langsung turun serap jagung petani,” imbuh dia.






























