
Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan, mengatakan bahwa kelapa merupakan komoditas penting yang berkontribusi besar bagi ekonomi Indonesia.
Demikian disampaikan pada Konferensi dan Pameran Kelapa Internasional (Cocotech) ke-51 dengan tema “Pemanfaatan Potensi Kelapa sebagai Pohon Kehidupan dan Energi Hijau” yang digelar di Surabaya, Jawa Timur, Senin (22/7).
Menurutnya, Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar kedua di dunia dan juga merupakan eksportir utama produk-produk kelapa dan turunannya.
Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar kedunia di dunia setelah Filipina, dengan jumlah produksi mencapai 2,83 juta metrik ton (MT) pada 2023.
Pada tahun tersebut, ekspor kelapa Indonesia ke dunia tercatat sebesar 1,55 miliar dolar AS dengan pangsa sebesar 38,3 persen dari total ekspor dunia. Tujuan ekspor utama kelapa Indonesia, di antaranya Tiongkok, Malaysia, dan Singapura.
“(Produk yang diekspor) tidak hanya kelapa mentah, tetapi juga minyak kelapa, santan, kelapa parut, dan tentu air kelapa,” kata Zulhas, sapaan Mendag Zulkifli Hasan.
Mendag Zulhas mengatakan, setiap bagian dari pohon kelapa dapat digunakan untuk menghasilkan produk yang bernilai. Indonesia, sambungnya, telah mulai mengekspor nata de coco dan briket arang.
“Sesuai arahan Bapak Presiden, kita harus berhenti mengekspor kelapa mentah saja. Saat ini kita mulai mengekspor nata de coco dan briket arang,” kata Mendag Zulhas.
Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) bersama International Coconut Community dan pemangku kepentingan sektor kelapa lainnya.
Tema kegiatan Cocotech ke-51 menyoroti pentingnya sektor kelapa sebagai solusi berkelanjutan.
“Indonesia bangga memiliki kelapa sebagai komoditas unggulan dan merasa terhormat menjadi tuan rumah acara bergengsi ini,” pungkas Mendag Zulkifli.
Hadir membuka acara ini, Presiden Jokowi menekankan pentingnya hilirisasi kelapa sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri kelapa Indonesia.
“Hilirisasi sangat penting bagi negara kita, terutama dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah produk kelapa,” kata Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi menyebut, berdasarkan data yang ada, ekspor kelapa Indonesia mencapai USD 1,55 miliar. Ada dua provinsi sebagai produsen kelapa terbesar, yakni Sulawesi Utara dan Riau.
“Ini juga sebuah angka yang sangat besar, dan bisa ditingkatkan lagi kalau kita serius,” tambah Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi juga menekankan bahwa peningkatan produksi sangat bergantung pada kualitas bibit, pemeliharaan, dan metode panen yang tepat. Selain itu, riset dan teknologi sangat penting untuk menghasilkan bibit kelapa yang bisa dipetik dari bawah namun tetap memiliki banyak buah.
“Riset merupakan hal yang sangat penting. Jangan sampai kelapa itu sampai 20 atau 30 meter. Kalau ada kelapa yang bisa dipetik dari bawah akan lebih baik, tapi buahnya juga jangan sedikit, yang banyak lebih baik lagi,” jelas Presiden Jokowi.
Teknologi juga dinilai penting untuk mengolah limbah kelapa menjadi bioenergi, yang merupakan langkah menuju ekonomi hijau.
“Kelapa bisa menjadi bioavtur. Ini juga menjadi pekerjaan besar kita agar penggunaannya semakin meningkat dan diminati negara-negara lain,” ujar Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi mengajak seluruh komunitas kelapa internasional untuk bersatu dalam memajukan industri kelapa yang berkelanjutan dan mendukung ekonomi hijau dunia.





























