Amran Beli Teknologi Kampus, dari Alat Panjat Kelapa hingga Dryer Portable

0
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman memberikan keterangannya pers setelah rapat bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta para rektor perguruan tinggi yang memiliki riset di bidang pertanian, Jakarta, Kamis (12/3).

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman membeli sejumlah hasil inovasi dari berbagai kampus di Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung hilirisasi sektor pertanian.

Langkah ini dilakukan setelah rapat bersama Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta para rektor perguruan tinggi yang memiliki riset di bidang pertanian.

Menurut Amran, pemerintah tidak ingin inovasi kampus hanya berhenti pada penelitian, tetapi langsung dimanfaatkan oleh petani melalui pembelian dan uji coba di lapangan.

“Alhamdulillah ini berkah bulan suci Ramadan. Kami sudah MoU dan banyak penemuan-penemuan baru dari kampus, kami langsung e membeli. Jadi, ini aksi nyata,” ujar Amran saat ditemui di Jakarta, Kamis (12/3). 

Salah satu inovasi yang dibeli berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yakni alat panjat kelapa. Alat ini diharapkan dapat menggantikan metode tradisional yang menggunakan monyet untuk memanen kelapa. 

“Yang pertama dari ITS, ada alat panjat kelapa. Karena kelapa sekarang demand-nya tinggi di tingkat dunia, ekspor kita naik. Ada alat panjat jadi tidak menggunakan lagi monyet, tapi ada alat baru,” ujarnya.

Masih dari kampus yang sama, Amran juga akan membeli traktor terapung  yang dinilai lebih murah dan cocok digunakan di lahan pertanian tertentu. Saat ini alat tersebut masih dalam tahap uji coba.

Inovasi lainnya berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yaitu mesin pengering atau dryer portable. 

Alat ini dapat digunakan secara berpindah-pindah di area persawahan atau kebun jagung sehingga memudahkan petani dalam proses pengeringan hasil panen. Kementerian Pertanian langsung memesan empat unit untuk tahap awal.

“Ini sangat bagus. Insyaallah kalau ini operasionalnya bagus, kami akan tambah tahun depan. Tapi yang ada tersedia sekarang aku beli empat unit,” ujarnya.

Dari Institut Pertanian Bogor (IPB), pemerintah membeli varietas unggul padi dan jagung dengan volume mencapai sekitar 6.000 ton.

Pemerintah bahkan membuka kemungkinan peningkatan pembelian hingga 10 kali lipat apabila hasilnya terbukti optimal di lapangan.

“Ada jagungnya, padinya 6.000 ton. Kalau bisa 60.000 kali 10 Pak Rektor. kami anggarannya siap. Nah, seperti inilah yang sebenarnya kita harus lakukan,” katanya.

Sementara itu, riset dari Universitas Hasanuddin juga tengah dikembangkan berupa ayam lokal dengan produktivitas tinggi. Varietas ayam ini masih dalam tahap pengembangan dan direncanakan mulai diperkenalkan pada tahun depan.

Inovasi lain datang dari Universitas Andalas (UNAND) yang mengembangkan varietas unggul gambir. Indonesia saat ini menguasai sekitar 80 persen pasar gambir dunia, namun sebagian besar masih diekspor dalam bentuk bahan baku.

“Kemudian UNAND, gambir. Insyaallah pabriknya, gambir kita menguasai pasar dunia itu 80 persen, tapi kita ekspor bahan baku.  Harusnya hilirisasi. Itulah perintah Bapak Presiden,” ujarnya.

Pemerintah mendorong hilirisasi gambir agar diolah menjadi produk bernilai tambah seperti tinta, sampo, sabun, dan berbagai produk turunan lainnya sebelum diekspor.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini