
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan cadangan pangan Indonesia saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga sekitar 324 hari, meskipun dunia sedang menghadapi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ia menjelaskan kekuatan pangan nasional tersebut berasal dari beberapa sumber, yakni cadangan pemerintah di Badan Urusan Logistik (Bulog) sekitar 3,7 juta ton, stok di sektor horeka (hotel, restoran, dan katering) lebih dari 12 juta ton, serta standing crop atau tanaman padi yang sedang tumbuh sekitar 10–11 juta ton.
“Alhamdulillah setelah kami menghitung kekuatan pangan kita dengan kondisi geopolitik yang memanas, cadangan pangan kita sampai hari ini tersedia hingga 324 hari,” ujar Amran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Jumat (6/3).
Ia menegaskan angka 324 hari tersebut merupakan ketersediaan stok saat ini, bukan berarti produksi berhenti hingga periode tersebut. Menurutnya, produksi beras nasional tetap berjalan setiap bulan dengan kisaran 2,6 juta hingga 5,7 juta ton.
“Hati-hati, jangan sampai salah interpretasi. Bukan bahwasanya 324 hari sekarang kita produksi. Jangan sampai salah persepsi. Hati-hati. 324 hari stok yang ada hari ini,” tegasnya.
Amran menjelaskan pangan yang dimaksud terutama adalah beras, karena merupakan komoditas paling vital bagi masyarakat Indonesia dan menjadi makanan pokok utama.
“Yang paling vital adalah beras. Karena kalau beras tidak ada, republik ini bermasalah. Makanya kita sebut pangan karena komposisi beras dalam konsumsi kita sehari-hari itu paling tinggi, sekitar 65 sampai 70 persen,” ujarnya.
Menurutnya, beberapa sumber protein masih bisa digantikan satu sama lain.
“Kalau daging tidak ada, masih bisa substitusi ke telur. Telur tidak ada masih bisa ke ikan. Tapi kalau beras tidak ada? Ubi bisa, tapi itu bukan habit-nya, bukan, taste-nya bedalah umumnya masyarakat Indonesia,” katanya.
Amran juga menegaskan bahwa pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena iklim.Â
Salah satu upaya yang dilakukan adalah program pompanisasi untuk lahan pertanian seluas 1,2 juta hektare, dan pada tahun ini akan ditambah pompanisasi untuk 1 juta hektare lagi.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tambahan irigasi perpompaan (irpom) untuk 1 juta hektare lahan guna memastikan ketersediaan air bagi tanaman padi di tengah potensi musim kering.
“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” pungkasnya.





























