BMKG Prediksi Iklim 2026 Dukung Produksi Tembakau

0
Tim Kerja Informasi Iklim Terapan BMKG, Siswanto
Tim Kerja Informasi Iklim Terapan BMKG, Siswanto dalam diskusi bertajuk Menjaga Kualitas dan Keberlangsungan Industri Hasil Tembakau di Ruang Rapat Gedung C Kementan, Kamis (26/2).

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan prospek iklim 2026 berpotensi mendukung produksi tembakau nasional, terutama di wilayah selatan Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua Tim Kerja Informasi Iklim Terapan BMKG) Siswanto dalam diskusi bertajuk Menjaga Kualitas dan Keberlangsungan Industri Hasil Tembakau di Ruang Rapat Gedung C Kementan, Kamis (26/2).

Ia menjelaskan prospek iklim hingga akhir tahun 2026 berdasarkan prediksi ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD). Untuk Samudra Hindia, menurut dia, tidak terlalu banyak variasi dan cenderung netral.

“Tapi kita melihat ada kecenderungan di pertengahan tahun, di awal semester dua, nanti ada gejala El Nino di Samudera Pasifik yang bisa kita pantau bersama terjadi apa enggak nanti,” katanya.

“Bagi produksi tembakau, ini semacam kabar gembira, karena saat El Nino biasanya musim kemarau lebih kering dan bisa lebih panjang, ini menguntungkan pertumbuhan dan kualitas produksi tembakau,” tambahnya.

Menurutnya, dinamika tersebut perlu dicermati karena dapat memengaruhi pola curah hujan di sejumlah wilayah sentra tembakau. Namun secara umum, proyeksi 2026 masih menunjukkan peluang kemarau yang cukup tegas.

Menurut Siswanto, bagi komoditas tembakau, yang paling penting adalah adanya batas tegas antara musim hujan dan musim kemarau.

“Tembakau membutuhkan suhu hangat tanpa embun beku, pola curah hujan yang jelas peralihannya, serta tanah yang relatif gembur. Kalau musim kemaraunya tegas dan cukup kering, itu biasanya baik untuk produksi,” katanya.

BMKG memproyeksikan Februari 2026 masih didominasi kondisi basah, khususnya di Jawa Tengah. Namun mulai Maret hingga Mei, curah hujan diperkirakan menurun secara bertahap.

“April dan Mei sudah mulai mengering. Juni dan Juli diproyeksikan menjadi periode paling kering. Ini momentum yang biasanya ideal untuk fase pertumbuhan hingga pengeringan tembakau,” jelasnya.

Ia menambahkan, meskipun secara akumulasi tahunan curah hujan 2026 tergolong normal, terdapat potensi anomali di beberapa wilayah.

“Ada catatan untuk Pantai Selatan Jawa bagian tengah dan Pantai Selatan Jawa Timur. Di sana ada peluang hujan terjadi saat musim kemarau. Ini yang perlu diantisipasi karena bisa mengganggu kualitas daun,” ujarnya.

Siswanto menegaskan, dinamika iklim harus menjadi parameter awal dalam perencanaan produksi nasional.

“Kalau kita belajar dari data 20 tahun terakhir, produksi tembakau sangat sensitif terhadap kemarau panjang maupun kemarau basah. Karena itu prediksi iklim bisa menjadi panduan satu sampai dua tahun ke depan untuk memperkirakan capaian produksi,” katanya.

BMKG, lanjutnya, telah mengembangkan informasi iklim terapan yang lebih spesifik komoditas dan diterjemahkan melalui Sekolah Lapang Iklim bersama petani.

“Informasi iklim tidak cukup berhenti di level nasional. Harus diterjemahkan ke tingkat lahan, supaya petani tahu kapan tanam, kapan waspada hujan, dan bagaimana mengelola risiko,” tutupnya.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini