Cukai Hasil Tembakau Sumbang 96 Persen Penerimaan Cukai Negara

0
Ketua Kelompok Tanaman Semusim Kementan), Yudi Wahyudi
Ketua Kelompok Tanaman Semusim Kementan), Yudi Wahyudi dalam diskusi bertajuk “Menjaga Kualitas dan Keberlangsungan Industri Hasil Tembakau” di Ruang Rapat Gedung C Kementan, Kamis (26/2).

Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut dari total hampir Rp 300 triliun penerimaan cukai negara, sekitar 96 persen berasal dari Cukai Hasil Tembakau (CHT).

Hal itu disampaikan Ketua Kelompok Tanaman Semusim Kementan), Yudi Wahyudi dalam diskusi bertajuk “Menjaga Kualitas dan Keberlangsungan Industri Hasil Tembakau” di Ruang Rapat Gedung C Kementan, Kamis (26/2).

Yudi mengatakan, kontribusi tersebut menunjukkan peran CHT yang sangat signifikan dalam pendongkrak perekonomian nasional. 

“Cukup signifikan sekali dan sangat strategis sekali di mana sebagai salah satu pendongkrak perekonomian nasional itu dari cukai,” kata Yudi.

Di tingkat grassroot, lanjut dia, tembakau merupakan komoditas yang ditanam oleh petani di pedesaan. Karena itu, tembakau dinilai strategis secara ekonomi, tidak hanya sebagai penghasil devisa negara tetapi juga sebagai penggerak ekonomi masyarakat desa.

“Jadi memang sangat-sangat strategis dari sisi ekonominya sebagai penghasil devisa, juga merupakan penggerak ekonomi di tingkat pedesaan,” tutur Yudi.

Dia menjelaskan, total luas areal tembakau nasional tercatat 267.039 hektare dengan produksi mencapai 351.551 ton.

Dari total tersebut, sebaran produksi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan sebagian wilayah Nusa Tenggara. Sentra terbesar berada di Jawa Timur dengan luas areal sekitar 110 ribu hektare dan produksi 146 ribu ton. Disusul Nusa Tenggara Barat seluas 50 ribu hektare dengan produksi 56 ribu ton, serta Jawa Tengah seluas 40 ribu hektare dengan produksi sekitar 46 ribu ton.

Sementara itu, Jawa Barat mencatat luas 9.400 hektare dengan produksi sekitar 8.000 ton. Di luar wilayah tersebut, tembakau juga dibudidayakan di Sumatera Selatan, Aceh, Sumatera Utara, dan Lampung, meski kontribusinya relatif lebih kecil dan tetap terkonsentrasi di wilayah tertentu.

Dari sisi hulu, jumlah petani tembakau tercatat sekitar 571.257 kepala keluarga (KK). Jika rata-rata satu KK terdiri dari empat orang, maka hampir 2 juta jiwa terlibat dalam produksi di tingkat petani.

Sementara di sektor industri hasil tembakau (IHT), penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 4 juta orang. 

“Total yang terlibat dari mulai hulu sampai hilir di tembakau itu hampir 6 juta. Nah, inilah betapa besarnya, signifikan sekali dampak produksi tembakau dari hulu sampai hilir dalam perekonomian yang ada di Indonesia ini,” pungkas dia.

Reporter: Supianto

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini