BPDP–ALPENBUN Perkuat Link and Match Kampus–Industri lewat Kurikulum Sawit Berbasis SKKNI

0
Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Sawit Berbasis SKKNI yang digelar di Yogyakarta, Rabu (22/1).

 

Upaya memperkecil jarak antara dunia kampus dan kebutuhan nyata industri sawit kian dipertegas. Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan (ALPENBUN) sepakat menyempurnakan kurikulum pendidikan tinggi sawit berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Kurikulum ini disiapkan sebagai rujukan utama penyelenggaraan Program Beasiswa SDM Sawit agar lulusan lebih kompeten dan siap masuk ke dunia kerja.

Kesepakatan tersebut mengemuka dalam Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Sawit Berbasis SKKNI yang digelar di Yogyakarta, Rabu (22/1). Melalui forum ini, BPDP dan ALPENBUN menegaskan komitmen menghadirkan kurikulum yang memiliki acuan jelas, terstandar, serta adaptif terhadap perkembangan sektor sawit, sekaligus memperkuat konsep link and match antara kampus dan dunia usaha.

SKKNI yang digunakan sesuai dengan sektor-sektornya, misalnya untuk unit kompetensi agronomi mengacu pada SKKNI NO. 237 Tahun 2019 Tentang Kelapa Sawit Berkelanjutan, yang dijabarkan dengan Kepmentan No 410/KPTS/SM.250/M/6/2020 tentang Jenjang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Tenaga Kerja Sektor Pertanian Bidang Kelapa Sawit Berkelanjutan. Sementara, untuk SKKNI NO. 313 Tahun  2013 Tentang Kategori Industri Pengolahan Bidang Kerja Pengolahan kebun kelapa sawit, dijabarkan dengan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 313 Tahun 2013, untuk unit kompetensi asisten pabrik (mill). Seterusnya sesuai dengan kebutuhan unit kompetensinya.

Pengembangan kurikulum ini menjadi langkah strategis bagi perguruan tinggi mitra BPDP agar penyelenggaraan pendidikan memiliki acuan yang jelas dan selaras dengan kebutuhan industri sawit nasional.

Saat ini BPDP bermitra dengan 42 perguruan tinggi yang tergabung dalam ALPENBUN sebagai penyelenggara pendidikan Beasiswa SDM Sawit yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah, menyampaikan bahwa kurikulum berbasis SKKNI yang disusun sesuai kebutuhan industri diharapkan mampu melahirkan lulusan yang kompeten dan siap kerja di industri sawit.

“Meskipun pengembangan kurikulum sudah menjadi komitmen masing-masing perguruan tinggi mitra BPDP, melalui forum ini kami mengingatkan kembali agar seluruh kampus terus berupaya mencetak SDM yang kompeten dan siap kerja. Kami juga mendorong perguruan tinggi untuk terus berkomunikasi dengan pelaku usaha sawit agar lulusan dapat terserap dengan baik di industri,” ujarnya saat memberikan sambutan pada Rabu, 22 Januari 2026, di Yogyakarta.

Workshop pengembangan kurikulum ini diikuti oleh 38 perguruan tinggi dari total 42 perguruan tinggi anggota ALPENBUN. Dalam pelaksanaannya, peserta memperoleh pemaparan mengenai kondisi riil kebutuhan SDM industri sawit dari para pakar.

Peserta kemudian dibagi ke dalam empat kelompok diskusi, yaitu Budidaya atau Agronomi, Pabrik atau Pengolahan, Manajemen, serta Teknologi Informasi. Masing-masing kelompok membahas rancangan pengembangan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan industri sawit. Hasil diskusi menjadi dasar perumusan kurikulum pendidikan tinggi sawit berbasis SKKNI.

Workshop menghadirkan narasumber dari perguruan tinggi unggulan di bidang perkebunan, yaitu; Dr Juremi Suhartonodan Dr. Sri Gunawan dari AKPY, Ir. Harsunu Purwoto INSTIPER, Prof. Hariyadi IPB,

Sementara dari Politeknik CWE  Nugroho Kristiono  dan M. Hudori.. Kegiatan ini juga melibatkan perwakilan perusahaan sawit, BGA Group (Agus Sutrisno) dan Cargill (Bagus Setiagung).

Turut hadir pula perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yaitu Dr. Beny Bandanadjaja, ST, MT, serta Komite Pengembangan SDMPKS BPDP, Darmansyah Basyaruddin, beserta tim.

Sekretaris ALPENBUN, Dr. Muhammad Mustangin, ST, MT, menyampaikan bahwa Workshop Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Sawit Berbasis SKKNI merupakan langkah nyata dalam menyiapkan lulusan perguruan tinggi bidang perkebunan yang profesional dan kompeten.

“Melalui forum ini, kami berharap tidak hanya menghasilkan rancangan kurikulum yang memenuhi standar, tetapi juga memiliki daya guna nyata bagi industri dan masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan yang mencakup tujuan, materi pembelajaran, metode, serta evaluasi sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

Dalam workshop ini ditetapkan empat tujuan utama, yaitu mendorong terselenggaranya pendidikan tinggi sawit dengan kurikulum adaptif dan pembelajaran berkualitas, melakukan sinkronisasi kurikulum melalui pemetaan unit kompetensi berbasis SKKNI ke dalam mata kuliah dan capaian pembelajaran lulusan, melibatkan sektor industri agar kurikulum menjawab kebutuhan pengguna lulusan, serta memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ir. Baginda Siagian, menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan workshop tersebut.

“Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam mencetak SDM sawit yang berkualitas dan siap berkarier di industri sawit. Kurikulum menjadi acuan dalam menyelenggarakan pendidikan yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan industri,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan pendidikan Beasiswa SDM Sawit merupakan tanggung jawab bersama antara Direktorat Jenderal Perkebunan, BPDP, dan perguruan tinggi penyelenggara.

“Perguruan tinggi memberikan bekal pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan kepada mahasiswa. Keberhasilan industri sawit dalam 10 hingga 20 tahun ke depan sangat bergantung pada peran perguruan tinggi dalam menyiapkan SDM yang unggul,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini