Jakarta—Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia, Sahat Sinaga, meluncurkan buku terbarunya Dari Loyang Menjadi Emas: Dan Perjuangan Membuat Sawit Indonesia Lebih Bernilai pada Rabu, 15 April 2026 di Jakarta. Buku setebal sekitar 250 halaman ini tidak hanya merekam perjalanan hidup, tetapi juga menjadi kritik tajam sekaligus tawaran arah baru bagi industri sawit nasional.
Sejak halaman awal, Sahat langsung menegaskan posisi pikirannya. “Sawit adalah anugerah terbesar Indonesia, emas hijau yang luar biasa. Tapi kita selalu menjualnya sebagai loyang,” tulisnya. Kalimat ini menjadi semacam tesis utama buku—bahwa Indonesia selama ini gagal mengoptimalkan nilai tambah dari komoditas strategisnya sendiri.
Buku ini menelusuri perjalanan hidup Sahat dari kampung sederhana di Samosir hingga ruang-ruang kebijakan nasional. Ia menggambarkan masa kecil tanpa listrik, membantu orang tua yang bekerja sebagai petani, hingga akhirnya menembus Institut Teknologi Bandung dan lulus dari Teknik Kimia pada 1973.
Dari sana, kariernya berkembang di Unilever, sebelum akhirnya terlibat lebih dalam dalam dinamika industri sawit nasional. Pengalaman panjang itu membuatnya menyaksikan langsung berbagai persoalan struktural: regulasi yang tumpang tindih, petani yang terpinggirkan, hingga teknologi pengolahan yang tertinggal.
“Dari kampung Samosir tanpa listrik hingga ruang rapat kementerian—saya melihat kekacauan regulasi, petani yang tidak mendapatkan tempat, teknologi yang usang, dan peluang besar yang terus terbuang,” tulis Sahat.
Di titik inilah buku tersebut bergerak melampaui autobiografi. Ia menjelma menjadi manifesto. Sahat tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak pembaca untuk berpikir ulang tentang masa depan sawit Indonesia—tentang keberanian keluar dari pola lama dan mendorong hilirisasi yang nyata.
Salah satu gagasan kunci yang diangkat adalah pentingnya inovasi teknologi dalam meningkatkan nilai tambah. Sahat mengisahkan bagaimana kritik dari pelaku industri internasional justru mendorongnya mengembangkan pendekatan baru dalam pengolahan sawit, termasuk metode dry process yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Namun, bagi Sahat, teknologi bukan tujuan akhir. Ia menegaskan bahwa seluruh inovasi harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani. Latar belakangnya sebagai anak petani menjadi alasan utama mengapa ia konsisten menempatkan aspek keadilan ekonomi sebagai prioritas.
Buku ini juga diperkuat oleh sejumlah testimoni dari tokoh nasional dan internasional. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut Sahat sebagai figur penting dalam industri sawit Indonesia.
“Sahat M. Sinaga adalah seorang teknokrat, seorang pejuang, sekaligus salah satu bapak sawit Indonesia yang bisa jadi panutan persawitan Nusantara,” ujarnya. Ia menilai pemikiran dalam buku ini sangat visioner dan berpotensi meningkatkan pendapatan petani, kesehatan masyarakat, hingga pemasukan negara.
Pandangan serupa datang dari Musa Bangun, Ketua Yayasan Pengembangan Potensi Sumber Daya Pertahanan. Ia menilai gagasan Sahat memiliki dampak luas, tidak hanya pada sektor ekonomi, tetapi juga ketahanan nasional.
Sementara itu, perspektif internasional diwakili oleh Jason Low. Ia menggambarkan Sahat sebagai teknokrat yang tidak hanya memahami industri, tetapi juga mampu mendefinisikan ulang masa depannya. “Pak Sahat is a composed, passionate technocrat who possesses the rare foresight not only to navigate the palm oil industry, but to fundamentally redefine it,” katanya.
Sebagai karya, buku ini memadukan narasi personal dengan analisis kebijakan dan gagasan strategis. Di satu sisi, pembaca diajak menyelami perjalanan hidup seorang anak petani yang menembus puncak karier. Di sisi lain, mereka dihadapkan pada realitas industri yang masih menyimpan banyak pekerjaan rumah.
Judul “Dari Loyang Menjadi Emas” menjadi simbol transformasi yang diimpikan: dari sekadar komoditas mentah menuju industri bernilai tambah tinggi. Sebuah transformasi yang, menurut Sahat, hanya bisa dicapai jika ada keberanian untuk berpikir berbeda.
“Ini bukan sekadar biografi,” tulisnya. “Ini manifesto tentang keberanian berpikir beda dan mengubah kekayaan alam menjadi kemakmuran bangsa.”
Di tengah tekanan global terhadap industri sawit—mulai dari isu lingkungan hingga hambatan perdagangan—buku ini hadir sebagai refleksi sekaligus ajakan. Bahwa masa depan sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pasar, tetapi juga oleh visi dan keberanian para pelakunya untuk berubah.






























