
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menegaskan, guncangan pada ekonomi sawit akan berdampak langsung terhadap ekonomi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Tungkot saat menjadi narasumber dalam media briefing bertajuk “Sawit Indonesia: Jalan di Tempat atau Terus Maju ke Depan” yang digelar di Hotel Mövenpick Pecenongan, Jakarta, Selasa (10/2).
Menurut Tungkot, selama ini sawit kerap hanya dilihat sebagai sektor perkebunan dan industri minyak goreng yang kontribusinya sekitar 4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Padahal, jika dihitung secara menyeluruh dari hulu hingga hilir, ekonomi sawit menyumbang sekitar 23 persen terhadap total output nasional dengan nilai mencapai Rp 6.606 triliun per tahun.
“APBN kita saat ini sekitar Rp 2.300 triliun. Nilai output ekonomi sawit hampir tiga kali lipat dari APBN tersebut. Nilai tambah ekonomi sawit mencapai Rp 4.126 triliun atau sekitar 4,3 persen,” ujar Tungkot.
Dia menegaskan, besarnya kontribusi tersebut menunjukkan kuatnya keterkaitan antara ekonomi sawit dan perekonomian nasional. Ketika ekonomi sawit mengalami guncangan, ekonomi nasional juga akan mengalami guncangan. Sebaliknya, jika ekonomi sawit bertumbuh, ekonomi nasional juga akan bertumbuh.
“Apa maknanya ini? Kalau ekonomi sawit ini guncang, maka ekonomi nasional akan guncang. Kalau ekonomi sawit bertumbuh, maka ekonomi nasional juga akan bertumbuh,” kata dia.
Begitu pula, kata Tungkot, untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, pemerintah perlu mengoptimalkan ekonomi sawit sebagai salah satu lokomotif utama.
“Saya mau katakan lagi, kalau seperti sekarang pemerintah kita ingin bertumbuhan 8 persen, maka salah satu lokomotifnya itu adalah dari ekonomi sawit. Itu sudah jalan, sudah ada, sudah tinggal panen, tinggal menggerakkan,” kata dia.
Menurut Tungkot, pilihan kebijakan pemerintah akan sangat menentukan arah ekonomi sawit ke depan, apakah terus maju atau justru berjalan di tempat.
“Semua instrumennya sudah ada. Tinggal bagaimana pemerintah mengelola. Apakah ini bisa dibuat melompat atau justru mundur. Dampaknya ke perekonomian nasional sangat besar,” tegas dia.
Kontribusi Sawit
Tungkot juga memaparkan peran strategis sawit dalam penciptaan lapangan kerja dan sumber pendapatan masyarakat. Saat ini, terdapat sekitar 3 juta petani sawit, dengan 18 juta tenaga kerja yang terserap langsung di sektor sawit, baik di hulu maupun hilir.
“Ada sumber income bagi 3 juta petani sawit saat ini. Kemudian ada tenaga kerja yang terserap langsung di situ ada 18 juta. Itu baru tadi di perekonomian sawit dan di hilirnya,” kata dia.
Di luar itu, sektor sawit juga menggerakkan rantai ekonomi di sektor jasa dan perdagangan, termasuk distribusi produk turunan seperti minyak goreng yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
“Belum tadi di sektor jasa, yang paling besar itu kan perdagangan sawit. Produk sawit, minyak goreng misalnya, itu konsumennya ada di seluruh Indonesia. Jadi dagang sawit juga, dagang minyak goreng juga seluruh Indonesia. Dan berapa banyak orang yang dapat kerjaan di situ,” tutur dia.
Selain itu, terdapat sekitar 1,6 juta usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di hilir sawit dengan memanfaatkan produk sawit sebagai bahan baku.
Dari sisi devisa, Tungkot menjelaskan bahwa ekonomi sawit memberikan dua sumber utama penerimaan bagi negara, yakni devisa ekspor dan devisa dari substitusi impor melalui program biodiesel.
Pada tahun lalu, devisa ekspor sawit tercatat mencapai USD 37,1 miliar. Sementara itu, penghematan devisa dari pengurangan impor solar melalui program biodiesel mencapai USD 8,1 miliar. Dengan demikian, total devisa sawit mencapai USD 45,2 miliar.
“Kehadiran mandatori biodiesel atau biodiesel yang sekarang B40 itu menghemat devisa. Sehingga neraca perdagangan atau neraca ekspor migas kita menjadi lebih sedikit defisitnya. Masih defisit tapi sedikit,” kata dia.
Dia menjelaskan, tanpa kontribusi ekspor sawit dan program biodiesel, neraca perdagangan Indonesia berpotensi terus mengalami defisit. Sebaliknya, kehadiran industri sawit melalui ekspor dan substitusi impor mampu mendorong surplus perdagangan.
Dampak ekonomi sawit paling terlihat pada kinerja neraca net ekspor migas. Tahun lalu, kata dia, tanpa kontribusi ekspor sawit dan program biodiesel, surplus neraca perdagangan Indonesia hanya berada di kisaran USD 23,7 miliar.
Namun, dengan adanya kontribusi devisa ekspor sawit serta penghematan devisa melalui substitusi impor solar, surplus tersebut meningkat signifikan hingga mencapai USD 60,8 miliar.
“Dari situ kita lihat kalau tidak ada sawit dan biodiesel Indonesia sebenarnya defisit trade dari tahun ke tahun kita lihat itu. Defisit trade. Adanya biodiesel dipakai untuk mengganti solar impor tambah lagi dari devisa ekspor kita mengalami surplus trade,” kata dia.
Tungkot menegaskan, membaiknya neraca perdagangan nasional tidak lepas dari peran industri sawit, baik melalui ekspor maupun melalui program mandatori biodiesel. “Ini menarik ini. Belum ada sektor-sektor lain yang bisa seperti ini,” imbuh dia.




























